Beranda » Finansial » Pakar Hukum Sebut Penanganan Kasus Indodax Harus Dipertanyakan karena Proses Hukum yang Dipicu Tempus Delicti Belum Cukup Jadi Bukti Kesalahan Nyata

Pakar Hukum Sebut Penanganan Kasus Indodax Harus Dipertanyakan karena Proses Hukum yang Dipicu Tempus Delicti Belum Cukup Jadi Bukti Kesalahan Nyata

Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, memberikan penjelasan tegas terkait proses penanganan perkara dugaan akses ilegal terhadap platform kripto Indodax. Menurutnya, waktu kejadian atau yang dikenal dengan tempus delicti bukan alat bukti yang bisa langsung menunjukkan kesalahan seseorang. Tempus delicti hanya berfungsi sebagai penanda kapan suatu peristiwa pidana diduga terjadi, bukan sebagai dasar pembuktian secara hukum.

Hal ini menjadi penting dalam konteks kasus Deflorio Arya Nizam, di mana jaksa menetapkan waktu hilangnya aset kripto di Indodax sebagai acuan utama dalam surat dakwaan. Fickar menegaskan bahwa penetapan waktu kejadian tidak serta merta membuktikan bahwa seseorang terlibat dalam tindak pidana. Jaksa tetap harus menunjukkan bukti kuat yang menghubungkan terdakwa dengan perbuatan yang didakwakan.

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kritik publik yang menyebut bahwa penanganan perkara ini baru dimulai setelah kejadian. Fickar menekankan bahwa masa pelaporan atau penanganan perkara bukan faktor penentu kebenaran hukum. Yang penting adalah alat bukti yang diajukan di persidangan harus memenuhi standar hukum yang berlaku.

Pemahaman Tempus Delicti dalam Hukum Pidana

Tempus delicti sering kali disalahpahami sebagai bukti kuat dalam proses hukum. Padahal, dalam praktik hukum pidana, tempus delicti hanya berfungsi sebagai penanda waktu. Ini membantu menentukan masa berlakunya daluarsa tindak pidana, bukan sebagai alat untuk membuktikan kesalahan seseorang.

Sebagai contoh, dalam kasus Indodax, waktu hilangnya aset kripto menjadi acuan awal penyelidikan. Namun, waktu tersebut tidak serta merta menunjukkan bahwa Deflorio Arya Nizam terlibat. Jaksa tetap harus membuktikan keterlibatan melalui alat bukti yang sah dan relevan.

Hukum acara pidana menetapkan bahwa setiap unsur pidana harus dibuktikan secara sah dan meyakinkan. Tempus delicti hanya menjadi salah satu faktor pendukung, bukan dasar utama pembuktian.

1. Penetapan Tempus Delicti dalam Surat Dakwaan

Dalam sistem hukum pidana Indonesia, tempus delicti biasanya dicantumkan dalam surat dakwaan sebagai penunjuk waktu terjadinya peristiwa pidana. Namun, hal ini tidak serta merta menjadi bukti bahwa terdakwa melakukan tindak pidana.

Penetapan waktu ini biasanya didasarkan pada laporan atau temuan awal dari pihak penyidik. Dalam kasus Indodax, waktu hilangnya aset kripto menjadi acuan awal. Namun, ini bukan berarti bahwa seseorang yang terhubung dengan waktu tersebut secara otomatis terbukti bersalah.

2. Kewajiban Jaksa untuk Menyediakan Alat Bukti yang Sah

Jaksa penuntut umum memiliki kewajiban untuk membuktikan seluruh unsur pidana berdasarkan alat bukti yang sah. Tempus delicti hanya menjadi salah satu konteks, bukan alat bukti itu sendiri.

Baca Juga:  BNI Masuk Daftar Perusahaan Terbaik untuk Bekerja di Asia 2023 untuk Kali Ketiga Berturut-turut

Alat bukti yang sah mencakup keterangan saksi, laporan ahli, dokumen, dan barang bukti lainnya yang relevan. Tanpa alat bukti yang kuat, tuntutan tidak akan dapat dibuktikan di persidangan, meskipun tempus delicti sudah ditetapkan.

3. Konsekuensi Jika Alat Bukti Tidak Mencukupi

Jika alat bukti yang diajukan tidak mampu membuktikan terjadinya tindak pidana atau keterlibatan terdakwa, maka terdakwa harus dibebaskan. Ini adalah prinsip dasar dalam hukum pidana bahwa seseorang dianggap tidak bersalah selama tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Fickar menekankan bahwa tidak adanya hubungan langsung antara tempus delicti dan tindak pidana berarti tidak cukup untuk menjatuhkan vonis. Dalam konteks kasus Indodax, jika bukti hanya berdasarkan waktu tanpa keterlibatan langsung, maka dakwaan tidak akan kuat di persidangan.

Penjelasan Sebelum Tabel

Berikut adalah perbandingan antara tempus delicti dan alat bukti dalam hukum pidana, khususnya dalam kasus dugaan akses ilegal terhadap platform kripto seperti Indodax.

Aspek Tempus Delicti Alat Bukti
Fungsi Menunjukkan waktu terjadinya peristiwa pidana Membuktikan terjadinya tindak pidana dan keterlibatan terdakwa
Relevansi Hukum Sebagai penanda waktu dan masa daluwarsa Sebagai dasar pembuktian di persidangan
Contoh Kasus Indodax Waktu hilangnya aset kripto Bukti digital, keterangan saksi, rekaman aktivitas server
Dampak terhadap Dakwaan Tidak cukup untuk menjatuhkan hukuman Menentukan apakah terdakwa terbukti bersalah

Penjelasan Setelah Tabel

Dari tabel di atas terlihat bahwa tempus delicti hanya berfungsi sebagai penanda waktu, bukan sebagai alat bukti. Sementara itu, alat bukti yang sah jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan penuntutan.

Dalam konteks kasus Indodax, tempus delicti hanya menjadi titik awal penyelidikan. Jika tidak diikuti dengan alat bukti yang kuat, maka dakwaan tidak akan bertahan di persidangan.

Kriteria Penilaian Bukti dalam Persidangan

Dalam hukum acara pidana, bukti yang diajukan harus memenuhi beberapa kriteria agar dapat diterima di persidangan. Kriteria ini meliputi legalitas, relevansi, dan keandalan. Bukti yang hanya bersifat spekulatif atau tidak langsung tidak akan dianggap cukup.

Berikut adalah kriteria utama yang digunakan dalam menilai alat bukti:

  1. Legalitas: Bukti harus diperoleh secara sah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
  2. Relevansi: Bukti harus memiliki hubungan langsung dengan tindak pidana yang didakwakan.
  3. Keandalan: Bukti harus dapat dipercaya dan tidak bertentangan dengan fakta hukum lainnya.
Baca Juga:  Emas Antam Anjlok 9 April 2026 Simak Pergerakan Harganya yang Menurun Tajam

1. Kriteria Legalitas Bukti

Bukti yang diperoleh melalui pelanggaran hukum tidak dapat digunakan di persidangan. Misalnya, jika bukti digital diambil tanpa izin hukum atau melanggar privasi, maka bukti tersebut tidak sah digunakan.

2. Kriteria Relevansi

Bukti harus memiliki hubungan langsung dengan tindak pidana. Misalnya, jika seseorang dituduh melakukan akses ilegal, maka bukti yang relevan adalah log aktivitas, bukan hanya waktu kejadian.

3. Kriteria Keandalan

Bukti harus dapat dipercaya dan tidak bertentangan dengan fakta lain. Bukti yang tidak konsisten atau dapat dipalsukan tidak akan dianggap kuat di persidangan.

Penegasan Kembali dari Pakar Hukum

Abdul Fickar kembali menegaskan bahwa tempus delicti bukan alat bukti. Ia menyebut bahwa banyak pihak yang terjebak dalam persepsi bahwa waktu kejadian sama dengan bukti kesalahan. Padahal, hukum pidana menuntut bukti yang lebih kuat dan meyakinkan.

Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak terlalu cepat menyalahkan seseorang hanya karena terhubung dengan waktu tertentu. Hukum harus berjalan secara adil dan berdasarkan fakta yang kuat.

1. Pentingnya Bukti Digital dalam Kasus Siber

Dalam kasus dugaan akses ilegal terhadap platform seperti Indodax, bukti digital menjadi sangat penting. Bukti ini mencakup log aktivitas, rekaman IP address, dan data transaksi.

2. Peran Ahli Forensik Digital

Ahli forensik digital memiliki peran penting dalam menyusun bukti yang kuat. Mereka membantu mengidentifikasi dan menganalisis data digital yang relevan dengan tindak pidana.

3. Keterlibatan Saksi dan Dokumen Pendukung

Selain bukti digital, keterangan saksi dan dokumen pendukung lainnya juga menjadi bagian penting dalam pembuktian. Semua ini harus disusun secara sistematis agar dapat diterima di persidangan.

Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan informasi hukum yang berlaku hingga tahun 2026. Data dan peraturan terkait hukum pidana dapat berubah seiring waktu. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber hukum resmi atau konsultasi dengan ahli hukum untuk informasi lebih lanjut.

Rosatyani Puspita
Jurnalis

Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.