Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 7.228 pada akhir perdagangan sesi I, Jumat, 13 Maret 2026. Pelemahan ini terjadi seiring dengan tekanan jual yang datang dari hampir seluruh sektor. Meski begitu, di tengah situasi yang terlihat suram, beberapa saham justru mencatatkan lonjakan harga yang cukup mencolok.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Total volume transaksi mencapai 16,72 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp7,4 triliun. Frekuensi transaksi yang tercatat sebanyak 942.558 kali menunjukkan bahwa investor tetap aktif bermain meski dalam kondisi pasar yang tidak bersahabat.
Kondisi Umum IHSG dan Sentimen Pasar
IHSG terkoreksi cukup dalam sepanjang sesi perdagangan pertama. Indeks yang bergerak antara 7.188 hingga 7.350 akhirnya ditutup di level 7.228,94, turun 133,17 poin atau sekitar 1,81 persen. Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif dari berbagai sektor, terutama yang berhubungan dengan transportasi dan industri.
Sentimen pasar secara keseluruhan memang sedang tidak kondusif. Dari total 812 saham yang diperdagangkan, 595 di antaranya mengalami penurunan. Hanya 128 saham yang berhasil menguat, dan 89 saham lainnya stagnan. Bahkan saham-saham unggulan dalam indeks LQ45 juga ikut terperosok, dengan penurunan rata-rata sebesar 1,89 persen.
1. Dominasi Tekanan Jual di Seluruh Sektor
Pergerakan IHSG pada sesi pertama sangat dipengaruhi oleh aksi jual yang datang dari berbagai sektor. Investor tampaknya memilih untuk mengamankan posisi mereka di tengah ketidakpastian pasar global.
2. Sektor Transportasi Jadi Penyumbang Pelemahan Terbesar
Sektor transportasi menjadi penyumbang utama penurunan IHSG. Saham-saham dalam sektor ini terkoreksi hingga 3,04 persen. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif terkait prospek pertumbuhan sektor logistik dan transportasi darat serta maritim.
3. Sektor Perindustrian dan Barang Konsumsi Nonprimer Ikut Melemah
Sektor perindustrian juga tidak mampu bertahan. Indeks sektor ini turun 2,98 persen. Diikuti oleh sektor barang konsumsi nonprimer yang terkoreksi 2,79 persen. Keduanya mencerminkan melemahnya daya beli konsumen dan perlambatan aktivitas produksi.
4. Infrastruktur dan Bahan Baku Turut Tertekan
Sektor infrastruktur mengalami penurunan sebesar 2,75 persen. Sementara sektor bahan baku juga ikut terkoreksi sebesar 2,57 persen. Keduanya menunjukkan perlambatan investasi dan aktivitas pembangunan yang lebih luas.
Pergerakan Bursa Asia yang Mempengaruhi IHSG
Sentimen negatif tidak hanya terjadi di pasar lokal. Sejumlah bursa saham di Asia juga mencatatkan kinerja negatif pada hari yang sama. Indeks Hang Seng di Hong Kong terkoreksi 0,48 persen, sementara Shanghai Composite di China turun 0,22 persen.
Di Jepang, Nikkei 225 anjlok hingga 1,4 persen. Hanya indeks Straits Times di Singapura yang masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,07 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global memang sedang tidak ramah terhadap pasar saham.
Saham-Saham yang Justru Melesat
Meski sebagian besar saham terperosok, ada beberapa emiten yang justru mencatatkan lonjakan harga yang mengejutkan. Enam saham berhasil masuk dalam daftar top gainers dengan kenaikan yang berkisar antara 13 persen hingga hampir 25 persen.
1. Saham ARA Melesat Tajam
Salah satu saham yang mencuri perhatian adalah ARA. Emiten ini mencatatkan kenaikan hampir 25 persen, menjadikannya sebagai salah satu top gainer hari ini. Lonjakan ini diduga dipicu oleh rencana akuisisi atau kolaborasi strategis yang belum diumumkan secara resmi.
2. Saham BMS Naik 20 Persen
Saham BMS juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 20 persen. Investor tampaknya bereaksi positif terhadap rilis kinerja terbaru emiten ini yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang solid.
3. Saham TPI Melonjak 18 Persen
TPI menjadi salah satu saham yang berhasil menembus level resistance. Saham ini naik hingga 18 persen, didorong oleh optimisme investor terhadap prospek ekspansi bisnisnya di pasar regional.
4. Saham MJS Naik 16 Persen
MJS juga tidak kalah menarik. Saham ini naik 16 persen, menunjukkan bahwa investor masih tertarik pada sektor yang digeluti emiten ini meski dalam kondisi pasar yang tertekan.
5. Saham NKP Naik 14 Persen
NKP mencatatkan kenaikan sebesar 14 persen. Lonjakan ini diduga terkait dengan rencana divestasi aset yang akan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
6. Saham PGT Naik 13 Persen
Terakhir, PGT berhasil naik 13 persen. Saham ini menjadi sorotan karena dianggap memiliki potensi valuasi yang masih menarik di tengah koreksi pasar.
Tabel Perbandingan Saham Top Gainers
Berikut adalah daftar saham yang masuk dalam kategori top gainers pada perdagangan sesi I, 13 Maret 2026:
| No | Kode Saham | Kenaikan (%) |
|---|---|---|
| 1 | ARA | 24,8 |
| 2 | BMS | 20,1 |
| 3 | TPI | 18,3 |
| 4 | MJS | 16,5 |
| 5 | NKP | 14,2 |
| 6 | PGT | 13,0 |
Penutup
Meski IHSG terkoreksi cukup dalam, masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh investor yang cermat. Saham-saham yang mencatatkan lonjakan harga menunjukkan bahwa sentimen pasar tidak sepenuhnya negatif. Namun, investor tetap perlu waspada terhadap volatilitas yang tinggi dan sentimen global yang belum stabil.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika ekonomi global dan lokal. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai rekomendasi investasi.
Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.
