Beranda » Nasional » Rupiah Stabil di Kisaran Rp17.326 per Dolar AS Meskipun Terjadi Tekanan Inflasi Global

Rupiah Stabil di Kisaran Rp17.326 per Dolar AS Meskipun Terjadi Tekanan Inflasi Global

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 29 April 2026. Sejak pagi, nilai tukar Garuda sudah mulai terpuruk dan akhirnya menyentuh level Rp17.300-an per USD menjelang penutupan pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 83 poin atau 0,48 persen ke level Rp17.326 per USD. Sebelumnya, posisi rupiah berada di kisaran Rp17.275. Data dari Yahoo Finance mencatat penurunan yang lebih kecil, yaitu 45 poin atau 0,26 persen, menjadi Rp17.285 per USD. Sementara itu, kurs Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) menunjukkan angka Rp17.324 per USD.

Penyebab Melemahnya Rupiah

Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor eksternal dan internal yang saling terkait. Salah satu pemicu utamanya adalah ketidakpastian geopolitik yang kembali meningkat, terutama terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

1. Mandeknya Negosiasi Perdamaian AS-Iran

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebutkan bahwa berhentinya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran berdampak langsung pada nilai tukar rupiah. Mandeknya pembicaraan ini memicu lonjakan harga minyak dunia sejak sesi Asia Selasa, 28 April 2026.

2. Lonjakan Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah dunia naik tajam karena pasar khawatir akan gangguan pasokan. Ketegangan di Selat Hormuz, salah satu jalur pasokan minyak terpenting di dunia, membuat investor gelisah. Iran dikabarkan menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun Washington menyambutnya dengan skeptis.

3. Skeptisisme AS terhadap Proposal Iran

Presiden AS Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan proposal terbaru dari Teheran. Proposal tersebut dianggap menghindari pembahasan serius soal program nuklir Iran. Pihak Iran sendiri ingin menunda pembicaraan nuklir hingga konflik pelayaran di Teluk selesai.

Dampak pada Mata Uang Asia

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada rupiah. Seluruh mata uang Asia mengalami tekanan. Investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS saat ketidakpastian global meningkat. Kenaikan harga minyak juga memicu kekhawatiran inflasi global, yang turut melemahkan mata uang berkembang.

Baca Juga:  Arus Balik Capai Titik Tertinggi, ASDP Pastikan Pelayanan Tetap Aman dan Teratur Selama 7 Hari Berturut-turut

Perbandingan Kurs Rupiah terhadap USD (29 April 2026)

Sumber Data Kurs (Rp/USD) Perubahan (poin) Perubahan (%)
Bloomberg 17.326 -83 -0,48%
Yahoo Finance 17.285 -45 -0,26%
Jisdor 17.324

Disclaimer: Data di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Rupiah

Selain faktor eksternal seperti geopolitik dan harga komoditas, ada beberapa faktor domestik yang juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Meski tidak menjadi pemicu utama, faktor ini bisa memperparah tekanan terhadap mata uang Garuda.

1. Defisit Neraca Dagang

Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan. Impor barang primer seperti minyak mentah dan mesin masih lebih tinggi dibanding ekspor. Hal ini menciptakan tekanan pada pasokan dolar di pasar domestik.

2. Arus Modal Asing

Arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia juga masih belum stabil. Investor asing masih menunggu kejelasan kebijakan moneter Bank Indonesia dan pemerintah terkait pengendalian inflasi serta pertumbuhan ekonomi.

3. Sentimen Investor Global

Sentimen investor global terhadap mata uang berkembang cenderung negatif dalam beberapa pekan terakhir. Ini membuat rupiah rentan terhadap volatilitas pasar internasional.

Langkah yang Bisa Ditempuh

Menghadapi tekanan terhadap nilai tukar, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menjaga stabilitas rupiah.

1. Intervensi Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) bisa melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah. Intervensi ini biasanya dilakukan dengan menjual dolar dari cadangan devisa BI.

2. Kebijakan Suku Bunga

BI juga bisa menaikkan suku bunga acuan untuk menarik minat investor asing. Namun langkah ini harus hati-hati agar tidak memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik.

Baca Juga:  Mall di Bekasi Terbakar, Diduga Terpicu Percikan Las

3. Pengelolaan Defisit Neraca Dagang

Pemerintah perlu mendorong ekspor dengan memberikan insentif dan mempermudah akses pasar internasional bagi pelaku usaha lokal. Di sisi lain, impor barang non-kebutuhan bisa dibatasi.

Perbandingan Kebijakan di Negara ASEAN (2026)

Negara Kebijakan Utama Pengaruh terhadap Mata Uang
Indonesia Intervensi BI dan insentif ekspor Stabilisasi rupiah
Thailand Penyesuaian fiskal Baht menguat tipis
Filipina Stimulus sektor riil Peso stabil
Malaysia Pengendalian inflasi Ringgit menguat sedang
Singapura Kebijakan moneter ketat Dolar Singapura menguat

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan kebijakan awal tahun 2026.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Meski tekanan terhadap rupiah masih terasa, BI dan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah antisipatif seperti intervensi pasar dan pengelolaan cadangan devisa menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor.

Kondisi geopolitik global yang belum stabil membuat rupiah masih berada di zona tekanan. Namun, jika ketegangan antara AS dan Iran bisa diredam, dan harga minyak dunia kembali turun, rupiah berpotensi menguat kembali.

Investor dan pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan situasi global. Kebijakan moneter dan fiskal yang tepat akan menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional ke depannya.

Penutup

Rupiah yang berada di level Rp17.326 per USD mencerminkan dinamika global yang sedang berlangsung. Ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor dominan yang menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Pemerintah dan BI harus terus menjaga koordinasi dalam menghadapi tekanan eksternal. Kebijakan yang responsif dan antisipatif akan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Tags: rupiah, harga minyak dunia, rupiah melemah, geopolitik

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.