Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan di awal tahun 2026. Setelah sempat menguat di kisaran Rp15.000 per USD pada akhir 2025, kini rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.500 per USD. Pelemahan ini dipicu oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk kenaikan suku bunga global dan sentimen investor yang masih was-was terhadap kondisi makro ekonomi domestik.
Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mulai mengambil langkah antisipatif. Salah satunya adalah melalui intervensi di pasar obligasi atau bond market. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik minat investor asing yang tengah mengurangi eksposur di aset-aset emerging market.
Intervensi di
Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.
