Rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu sore, 3 Juni 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.966 per dolar AS, turun 127,5 poin atau sekitar 0,71 persen dari posisi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi tekanan dari sentimen global dan kondisi domestik yang mulai menunjukkan sinyal-sinyal tertentu.
Sentimen pasar global memang sedang tidak bersahabat. Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas, terutama setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan. Tak hanya itu, Iran dikabarkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah, yang berpotensi mendorong inflasi global dan memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dinamika Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah
1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
Ketegangan antara Israel dan Lebanon semakin memanas menjelang putaran pembicaraan damai yang dijadwalkan pada Rabu. Namun, ketidakpastian masih tinggi, terutama terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan media Iran menyebut bahwa tidak ada komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir. Kabar ini memicu spekulasi bahwa perundingan damai tengah mengalami kebuntuan.
2. Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya
Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang memperburuk sentimen investor. Lonjakan ini dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran, yang memengaruhi pasokan minyak global. Investor khawatir bahwa kenaikan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi, yang pada gilirannya bisa memaksa bank sentral untuk tetap menjaga kebijakan ketat.
3. Data Ketenagakerjaan AS yang Mengejutkan
Data yang dirilis Selasa, 2 Juni 2026, menunjukkan bahwa lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April. Kenaikan ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap menjaga sikap hawkish dalam kebijakan suku bunganya. Pasar kini menantikan sejumlah data penting seperti laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik. Semua data ini akan menjadi indikator arah kebijakan bank sentral AS menjelang rilis nonfarm payrolls pada Jumat, 5 Juni 2026.
Faktor Domestik yang Turut Mendorong Pelemahan Rupiah
1. Inflasi Bulanan Naik di Mei 2026
Inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencatat kenaikan 0,28 persen secara bulanan (month-to-month), lebih tinggi dibandingkan April yang hanya mencatat 0,13 persen. Lonjakan ini dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
- Harga pangan yang fluktuatif
- Kenaikan harga energi
- Harga barang yang diatur pemerintah (administered prices)
- Pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri
2. Neraca Perdagangan April Tetap Surplus
Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatat surplus sebesar USD89,1 juta. Dengan pencapaian ini, Indonesia telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus ini didukung oleh kinerja sektor nonmigas yang mencatat surplus sebesar USD3,53 miliar.
Namun, meski surplus terjaga, nilai surplusnya menyusut tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Penyusutan ini menunjukkan adanya tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat terganggunya pasokan global, terutama karena blokade di Selat Hormuz.
3. Proyeksi Pergerakan Rupiah Kamis, 4 Juni 2026
Menghadapi perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per USD. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global dan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Tabel Data Ekonomi Terkait
Berikut adalah rincian data ekonomi penting yang memengaruhi pergerakan rupiah pada periode ini:
| Indikator | April 2026 | Mei 2026 |
|---|---|---|
| Inflasi Bulanan (mtm) | 0,13% | 0,28% |
| Neraca Perdagangan | Surplus USD89,1 juta | Surplus USD89,1 juta |
| Surplus Nonmigas | USD3,53 miliar | – |
| Rupiah terhadap USD (akhir perdagangan) | – | Rp17.966 |
Disclaimer
Data dan proyeksi di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global dan domestik. Informasi ini disusun berdasarkan data hingga 3 Juni 2026 dan tidak menjamin akurasi jangka panjang.
Penutup
Pelemahan rupiah ke level Rp17.966 per USD pada Rabu sore mencerminkan tekanan dari berbagai faktor eksternal dan internal. Sentimen global yang tidak stabil, terutama terkait ketegangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed, turut memengaruhi arah pergerakan mata uang Garuda. Di sisi domestik, kenaikan inflasi dan penyusutan surplus perdagangan memberi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan terasa dalam beberapa waktu ke depan.
Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.
