Harga Pertamax masih mengganjal di angka yang tinggi meski situasi geopolitik global mulai membaik. Konflik di Timur Tengah yang sempat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia mulai mereda sejak pertengahan 2025, tetapi dampaknya masih terasa di harga bahan bakar di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, akhirnya buka suara soal hal ini.
Menurutnya, harga Pertamax belum juga turun karena faktor-faktor lain yang masih memengaruhi rantai pasok dan distribusi energi nasional. Tidak hanya geopolitik, ada sejumlah variabel rumit yang membuat harga BBM jenis ini belum juga kembali ke level yang diharapkan masyarakat.
Mengapa Harga Pertamax Masih Tinggi?
Harga Pertamax yang belum turun meski kondisi global lebih stabil ternyata bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang membuat harga bahan bakar beroktan tinggi ini belum juga turun secara signifikan. Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa harga BBM di dalam negeri tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah global.
Faktor lain seperti kebijakan fiskal, dinamika nilai tukar rupiah, hingga struktur biaya distribusi juga turut berperan. Semua elemen ini saling terkait dan memengaruhi keputusan akhir terkait penetapan harga eceran tertinggi (HET) Pertamax.
1. Kebijakan Subsidi dan Non-Subsidi
Salah satu alasan utama harga Pertamax belum turun adalah karena BBM ini masuk dalam kategori non-subsidi. Berbeda dengan Premium atau Solar, Pertamax tidak mendapat subsidi langsung dari pemerintah.
Akibatnya, harga Pertamax lebih rentan terhadap fluktuasi biaya produksi dan distribusi. Meski harga minyak mentah turun, komponen lain seperti biaya pengolahan, transportasi, dan margin pengecer tetap memengaruhi harga akhir di pom bensin.
2. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Rupiah yang belum stabil terhadap dolar AS juga menjadi salah satu penyebab harga Pertamax belum turun. Sebagian besar transaksi minyak mentah dan produk turunannya masih menggunakan mata uang dolar.
Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan bakar otomatis meningkat. Meski harga minyak mentah turun di pasar internasional, nilai tukar yang belum menguntungkan bisa meniadakan penghematan tersebut.
3. Biaya Distribusi dan Logistik
Jaringan distribusi BBM di Indonesia sangat luas dan kompleks. Dari kilang hingga ke pom bensin, ada banyak pihak yang terlibat, termasuk transporter, agen, hingga pengecer.
Biaya logistik yang tinggi, terutama di daerah terpencil, membuat harga Pertamax di berbagai wilayah tidak bisa turun secara serentak. Apalagi dengan kondisi jalan dan infrastruktur yang masih terbatas di sejumlah daerah.
4. Margin Penjual Eceran
Penetapan harga eceran tertinggi (HET) memang dilakukan pemerintah, tetapi margin penjual eceran juga punya andil besar. Di lapangan, banyak SPBU yang menjual Pertamax dengan harga mendekati HET.
Margin ini mencakup biaya operasional, keuntungan, hingga pajak daerah. Jika margin ini tinggi, maka harga akhir yang dirasakan konsumen juga akan tinggi, meski HET sudah diturunkan.
5. Kebijakan Harga Minyak Mentah Acuan
Pemerintah menggunakan harga minyak mentah acuan (crude oil price) sebagai salah satu dasar penetapan harga BBM. Namun, harga acuan ini tidak langsung mengikuti pergerakan harga pasar internasional secara real time.
Proses penetapan harga acuan dilakukan setiap bulan dan bisa terlambat merespons perubahan harga global yang fluktuatif. Ini menyebabkan harga Pertamax belum segera turun meski harga minyak mentah dunia sudah lebih rendah.
Perbandingan Harga Pertamax dan Premium (2024 – 2026)
| Tahun | Harga Pertamax (Rata-rata Nasional) | Harga Premium (Rata-rata Nasional) |
|---|---|---|
| 2024 | Rp 15.000/liter | Rp 10.500/liter |
| 2025 | Rp 14.800/liter | Rp 10.500/liter |
| 2026 | Rp 14.700/liter | Rp 10.500/liter |
Catatan: Harga dapat berbeda di tiap daerah tergantung kebijakan daerah dan kondisi pasar setempat.
Faktor Pendukung yang Bisa Turunkan Harga
Meski ada sejumlah hambatan, ada juga faktor-faktor yang bisa mendukung penurunan harga Pertamax ke depannya. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas kilang minyak dalam negeri.
Dengan pengolahan minyak mentah yang lebih besar secara lokal, ketergantungan pada impor bisa berkurang. Ini berpotensi menekan biaya produksi dan akhirnya harga eceran.
1. Peningkatan Kilang Dalam Negeri
Pembangunan dan optimalisasi kilang minyak seperti Kilang Balikpapan dan Dumai diharapkan bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar secara mandiri. Semakin besar kapasitas pengolahan lokal, semakin kecil pula ketergantungan pada impor.
2. Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Jika rupiah menguat terhadap dolar AS, maka biaya impor minyak dan produk turunannya bisa turun. Ini akan memberikan tekanan ke bawah pada harga Pertamax.
3. Efisiensi Rantai Distribusi
Peningkatan efisiensi logistik dan distribusi juga bisa membantu menurunkan harga. Dengan sistem yang lebih terintegrasi dan teknologi yang lebih baik, biaya operasional bisa ditekan.
4. Kebijakan Harga Acuan yang Lebih Responsif
Jika mekanisme penetapan harga minyak mentah acuan bisa lebih cepat merespons perubahan harga global, maka harga Pertamax juga bisa lebih cepat turun saat kondisi internasional membaik.
5. Pengawasan terhadap Margin Eceran
Pemerintah daerah dan pusat bisa melakukan pengawasan lebih ketat terhadap margin pengecer. Jika margin ini bisa ditekan, maka harga Pertamax di pom bensin juga bisa lebih terjangkau.
Tantangan ke Depan
Meski ada potensi penurunan harga, tetap saja ada tantangan besar di depan. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik yang bisa kembali memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar dan biaya operasional yang terus meningkat juga bisa menghambat penurunan harga Pertamax. Semua ini membutuhkan kebijakan yang tepat dan antisipatif dari pemerintah.
Penutup
Harga Pertamax yang belum turun meski situasi global lebih stabil memang bukan hal yang mudah dijelaskan secara sederhana. Ada banyak faktor yang saling terkait, mulai dari kebijakan subsidi hingga dinamika nilai tukar rupiah.
Namun, dengan terus meningkatnya kapasitas pengolahan minyak dalam negeri dan pengawasan terhadap rantai distribusi, ada harapan bahwa harga Pertamax bisa lebih terjangkau di masa depan.
Disclaimer: Data harga dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan tren terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi pasar global.
Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.