Beranda » Nasional » Perjanjian RI–AS Diprediksi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 8 Persen, Apakah Hilirisasi Jadi Kuncinya?

Perjanjian RI–AS Diprediksi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 8 Persen, Apakah Hilirisasi Jadi Kuncinya?

Pertemuan antara Indonesia dan Amerika Serikat beberapa waktu lalu menghasilkan kesepakatan dagang yang cukup menggegerkan. Bukan hanya karena melibatkan dua negara besar dengan hubungan ekonomi yang kompleks, tapi juga karena potensi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu poin penting yang muncul adalah klaim bahwa perjanjian ini bisa mendorong pertumbuhan hingga delapan persen. Tapi benarkah begitu?

Kesepakatan ini lahir sebagai respons terhadap kebijakan tarif tinggi yang sempat diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump. Tarif sebesar 32 persen terhadap ekspor Indonesia ke AS bukan angka sepele. Ini langsung mengancam sejumlah sektor strategis, terutama yang padat karya seperti tekstil, elektronik, dan karet. Dengan tarif sebesar itu, daya saing produk Indonesia di pasar global bisa tergerus.

Dampak dan Peluang dari Perjanjian Dagang

  1. Penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen jelas jadi angin segar bagi pelaku industri. Tapi ini bukan cuma soal angka. Tarif yang lebih rendah berarti biaya ekspor lebih ringan, dan peluang ekspor lebih terbuka lebar. Ini penting, karena Amerika Serikat adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, setelah China.

  2. Lebih dari 1.800 komoditas Indonesia kini bisa masuk ke AS tanpa dikenakan bea masuk. Termasuk di dalamnya produk pertanian seperti sawit, kopi, dan kakao, hingga produk industri seperti elektronik dan komponen pesawat. Ini adalah peluang besar untuk meningkatkan nilai ekspor dan menyeimbangkan neraca perdagangan.

  3. Sebagai imbalan, Indonesia juga membuka pasar dengan menghapus lebih dari 99 persen tarif terhadap produk AS. Sektor yang terlibat antara lain pertanian, otomotif, kesehatan, hingga teknologi digital. Ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjalin hubungan perdagangan yang saling menguntungkan.

  4. Namun, bukan berarti tidak ada risiko. Sektor-sektor yang belum siap bersaing, terutama di bidang teknologi dan digital, bisa saja terkena tekanan. Tapi secara keseluruhan, surplus perdagangan Indonesia dengan AS masih cukup besar. Di tahun 2025 saja, ekspor ke AS mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dengan surplus sekitar 19 miliar dolar.

Baca Juga:  Indonesia Siapkan Tenaga Surya 100 Gigawatt Dalam Waktu Dua Tahun Mendatang

Investasi dan Hilirisasi yang Menggairahkan

  1. Selain kesepakatan tarif, ada satu hal lain yang tidak kalah penting: komitmen investasi dari Amerika Serikat. Dalam pertemuan bilateral, disebutkan ada rencana investasi sebesar 7 hingga 9 miliar dolar AS, khususnya di sektor energi dan pertambangan.

  2. Investasi ini akan disalurkan untuk mendukung program hilirisasi. Salah satunya adalah pembangunan tiga smelter, dua pabrik baterai, dan satu fasilitas produksi kendaraan listrik. Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi langkah konkret untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan.

  3. Dengan hilirisasi, produk mentah seperti nikel dan bauksit tidak lagi diekspor begitu saja. Tapi diolah dulu menjadi barang setengah jadi atau jadi, sehingga nilai jualnya jauh lebih tinggi. Ini juga membuka lapangan kerja, dengan target penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 80 persen.

  4. Jika semua berjalan sesuai rencana, bukan tak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka delapan persen. Angka ini jauh di atas target pemerintah yang biasanya berkisar antara lima hingga enam persen. Tapi tentu saja, semua itu tidak akan terjadi jika hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga atau belanja pemerintah.

Peran Sektor Swasta dalam Mendorong Pertumbuhan

  1. Untuk bisa mencapai pertumbuhan di atas lima persen, peran sektor swasta sangat krusial. Investasi asing seperti dari Amerika Serikat bisa menjadi katalisator. Tapi investasi domestik juga harus terus didorong agar ekonomi tidak hanya tumbuh, tapi juga berkualitas.

  2. Kebijakan yang pro terhadap investasi, regulasi yang transparan, dan iklim usaha yang kondusif adalah kunci agar investor betah berlama-lama. Apalagi di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia harus bisa menawarkan nilai tambah lebih dari sekadar sumber daya alam.

  3. Program hilirisasi yang didukung investasi asing juga bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan swasta bisa menghasilkan dampak nyata. Bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tapi juga penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.

  4. Tapi tentu saja, semua ini butuh pengawasan ketat. Agar investasi benar-benar memberi manfaat, bukan malah menciptakan ketergantungan atau merugikan kepentingan nasional.

Baca Juga:  Jadwal Pencairan Bansos Atensi YAPI 2026 dan Informasi Terkini yang Perlu Diketahui

Tantangan yang Masih Menghadang

  1. Meski peluangnya besar, risiko tetap ada. Sektor-sektor yang belum siap bersaing harus segera melakukan transformasi. Termasuk dalam hal teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia.

  2. Kebijakan tarif yang lebih rendah juga berarti produk impor dari AS bisa masuk lebih mudah. Ini bisa jadi ancaman bagi industri lokal yang belum kuat. Tapi juga bisa jadi peluang untuk belajar dan meningkatkan kualitas produk.

  3. Perubahan regulasi dan kebijakan juga harus dilakukan secara hati-hati. Agar tidak terjadi distorsi pasar atau ketidakpastian bagi pelaku usaha.

  4. Terakhir, transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan investasi sangat penting. Masyarakat harus bisa melihat dampak nyata dari setiap proyek yang dijalankan, bukan hanya janji di atas kertas.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Februari 2026. Kebijakan dan kondisi ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi global dan dinamika politik kedua negara.

Eva Agustin
Jurnalis

Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.