Beranda » Nasional » IHSG Anjlok 0,44% di Tengah Dominasi Pasar yang Capai Rp14.787 Triliun!

IHSG Anjlok 0,44% di Tengah Dominasi Pasar yang Capai Rp14.787 Triliun!

Pekan lalu jadi saksi dari sedikit tekanan di pasar modal Tanah Air. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penurunan 1,03 persen menjadi Rp14.787 triliun. Angka ini turun dari posisi Rp14.941 triliun pada akhir pekan sebelumnya.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut terkoreksi. Selama lima hari perdagangan, IHSG turun 0,44 persen dan ditutup di level 8.235,485. Pekan sebelumnya, indeks ini berada di angka 8.271,767. Meski begitu, bukan berarti aktivitas perdagangan juga lesu.

Rata-rata frekuensi transaksi harian justru mengalami sedikit penurunan sebesar 3,72 persen. Dari 3,06 juta kali transaksi pekan lalu, turun menjadi 2,95 juta kali. Tapi jangan salah, volume dan nilai transaksi justru naik. Nilai transaksi harian naik 25,35 persen menjadi Rp29,52 triliun. Sementara volume transaksi harian naik 8,55 persen menjadi 51,02 miliar lembar saham.

Investor asing juga masih aktif bermain. Pada Jumat (27/2), mereka mencatatkan net sell sebesar Rp694,22 miliar. Kalau dihitung sepanjang tahun 2026, total net sell investor asing sudah mencapai Rp9,51 triliun. Angka ini cukup signifikan dan perlu diperhatikan sebagai indikator sentimen pasar.

Pencatatan Obligasi dan Sukuk Bikin BEI Makin Rame

Selain pergerakan indeks, BEI juga ramai dengan aktivitas pencatatan instrumen debt. Selama pekan 23-27 Februari 2026, ada delapan emisi yang tercatat. Terdiri dari enam obligasi dan dua sukuk. Ini menunjukkan bahwa pasar utang masih cukup aktif, meski pasar saham sedang dalam fase koreksi.

1. Obligasi Indomobil Finance

Pada Rabu (25/2), PT Indomobil Finance Indonesia mencatatkan Obligasi Berkelanjutan VI Tahap II Tahun 2026. Nilai pokoknya cukup besar, yaitu Rp2,5 triliun. Ini menunjukkan bahwa emiten otomotif masih percaya diri menerbitkan debt untuk pengembangan bisnis.

2. Obligasi dan Sukuk Lontar Papyrus

Masih di hari yang sama, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry mencatatkan dua instrumen sekaligus. Obligasi Berkelanjutan IV Tahap II senilai Rp1,05 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II senilai Rp1,55 triliun. Dua instrumen ini menunjukkan diversifikasi pendanaan perusahaan kertas tersebut.

Baca Juga:  Rupiah Menguat Tajam, Sentuh Level Rp16.853 per Dolar AS!

3. Obligasi Surya Artha Nusantara Finance

Kamis (26/2) menjadi hari sibuk untuk PT Surya Artha Nusantara Finance. Obligasi Berkelanjutan V SANF Tahap II Tahun 2026 tercatat dengan nilai pokok Rp1,2 triliun. Emiten pembiayaan ini terus memperluas basis pendanaan lewat pasar modal.

4. Obligasi Bank Panin

Masih di hari Kamis, PT Bank Pan Indonesia Tbk mencatatkan Obligasi Berkelanjutan IV Tahap IV senilai Rp2,71 triliun. Ini merupakan salah satu emisi obligasi terbesar dalam pekan ini. Bank Panin tampaknya memanfaatkan momentum pasar utang yang masih hangat.

5. Obligasi Federal International Finance

Jumat (27/2) menjadi penutup yang manis bagi aktivitas pencatatan BEI. PT Federal International Finance mencatatkan Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III senilai Rp2,5 triliun. Emiten pembiayaan ini terus menunjukkan eksistensinya di pasar debt.

6. Obligasi dan Sukuk Adira Dinamika Multi Finance

Masih di hari Jumat, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk mencatatkan dua instrumen. Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III senilai Rp2 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III senilai Rp500 miliar. Dua instrumen ini menunjukkan bahwa Adira masih optimis dengan prospek bisnisnya di tahun ini.

Rekap Data Pencatatan BEI Pekan Ini

Berikut adalah ringkasan pencatatan obligasi dan sukuk selama pekan 23-27 Februari 2026:

Emiten Jenis Instrumen Nama Instrumen Nilai Pokok
PT Indomobil Finance Indonesia Obligasi Obligasi Berkelanjutan VI Tahap II Rp2,5 triliun
PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Obligasi Obligasi Berkelanjutan IV Tahap II Rp1,05 triliun
PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Sukuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II Rp1,55 triliun
PT Surya Artha Nusantara Finance Obligasi Obligasi Berkelanjutan V SANF Tahap II Rp1,2 triliun
PT Bank Pan Indonesia Tbk Obligasi Obligasi Berkelanjutan IV Tahap IV Rp2,71 triliun
PT Federal International Finance Obligasi Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III Rp2,5 triliun
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk Obligasi Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III Rp2 triliun
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk Sukuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III Rp500 miliar
Baca Juga:  Pendaftaran PPPK 2026: Jadwal, Syarat Terbaru & Cara Cek Formasi di SSCASN

Statistik Umum Pasar Utang di BEI

Aktivitas pencatatan obligasi dan sukuk di BEI sepanjang tahun 2026 terus menunjukkan peningkatan. Hingga akhir Februari 2026, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat mencapai 30 emisi dari 21 emiten. Nilai totalnya mencapai Rp28,71 triliun.

Kalau dilihat secara keseluruhan, jumlah emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 677 emisi. Nilai outstanding-nya mencapai Rp560,01 triliun dan USD134,01 juta dari 133 emiten. Ini menunjukkan bahwa pasar utang di Indonesia masih menjadi pilihan utama bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan.

Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) juga terus menjadi bagian penting dari pasar modal. Hingga akhir Februari 2026, terdapat 186 seri SBN dengan nilai nominal Rp6.683,44 triliun dan USD352,10 juta. Sementara itu, Efek Beragun Aset (EBA) mencatatkan 7 emisi senilai Rp3,69 triliun.

Sentimen Pasar dan Proyeksi Kedepan

Meski kapitalisasi pasar dan IHSG sempat terkoreksi, aktivitas pencatatan di BEI tetap menunjukkan bahwa pasar utang masih cukup menarik bagi emiten. Investor pun masih tertarik untuk membeli instrumen debt, terutama dari emiten-emiten besar dengan track record yang baik.

Namun, investor tetap perlu waspada. Sentimen investor asing yang masih dalam posisi net sell bisa menjadi indikator bahwa pasar masih belum sepenuhnya stabil. Meski begitu, dengan adanya aktivitas pencatatan yang tinggi, BEI tetap menunjukkan eksistensinya sebagai pusat perdagangan utama di Asia Tenggara.

Disclaimer: Data yang disajikan bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar. Nilai transaksi dan pencatatan bisa berbeda tergantung pada update dari Bursa Efek Indonesia.

Agung Budianto

Agung Budianto adalah seorang jurnalis senior yang Lahir di Jakarta pada tahun 1992, Ardhi telah mengabdikan hampir dua dekade hidupnya dalam dunia jurnalistik digital Indonesia.