Beranda » Nasional » Apakah Merger Perusahaan Pakan Global Bakal Geser Peternak Lokal?

Apakah Merger Perusahaan Pakan Global Bakal Geser Peternak Lokal?

Perubahan besar sedang terjadi di industri pakan ternak global. Dua perusahaan raksasa, De Heus dari Belanda dan CJ Feed & Care dari Korea Selatan, resmi bergabung dalam merger senilai 2.109 miliar won atau sekitar Rp24 triliun. Transaksi ini bukan sekadar soal modal atau aset. Ini adalah langkah strategis yang bisa mengubah peta persaingan industri pakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Merger ini mencakup 17 pabrik pakan di lima negara, salah satunya Indonesia. Rencananya, penggabungan ini akan selesai pada pertengahan 2026. Bagi pelaku industri lokal, terutama peternak kecil, kehadiran pemain global ini bisa jadi tantangan sekaligus peluang. Tantangan karena skala dan sumber daya yang dimiliki perusahaan multinasional jauh melampaui usaha mikro atau menengah. Namun, jika dikelola dengan tepat, ini juga bisa menjadi momentum untuk tumbuh dan bersaing.

Ancaman dan Peluang dari Kehadiran Global

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Singgih Januratmoko, menyebut merger ini sebagai ujian nyata bagi daya tahan industri peternakan nasional. Bukan rahasia lagi bahwa industri pakan global tidak hanya menjual produk. Mereka juga menawarkan paket lengkap mulai dari pendampingan teknis, benih unggul, hingga akses pembiayaan. Ini yang membuat mereka sulit ditandingi oleh pelaku usaha lokal, terutama yang berskala kecil.

Namun, Singgih juga melihat peluang besar dari kehadiran pemain global ini. Salah satunya adalah dalam mendukung program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah sendiri telah menaikkan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dari 578 ribu menjadi 800 ribu ekor pada 2026. Ini adalah langkah penting untuk memenuhi kebutuhan daging ayam nasional yang terus meningkat.

Tapi, ada catatan penting. Kenaikan kuota impor GPS ini harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik agar tidak terjadi oversupply dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Yang lebih penting lagi, Singgih menegaskan bahwa impor GPS jangan sampai membuka celah bagi impor karkas atau daging utuh. Ini adalah ancaman terbesar yang bisa membuat peternak lokal justru tersingkir dari pasar sendiri.

Baca Juga:  Astra Buka Lowongan Kerja Terbaru 2024, Ini Dia Persyaratan dan Cara Melamarnya

3 Langkah Strategis untuk Peternak Lokal

Merger industri pakan global ini bukan akhir dari segalanya. Justru bisa menjadi alarm sekaligus momentum kebangkitan. Yang penting, ada respons cepat dan tepat dari semua pihak, terutama pemerintah dan pelaku usaha lokal. Pinsar menyarankan tiga langkah penting agar peternak lokal tidak hanya bertahan, tapi juga bisa berkembang.

1. Perkuat Data dan Tata Kelola Industri

Masalah fluktuasi harga livebird dan oversupply DOC yang terjadi berulang setiap tahun menunjukkan bahwa perencanaan di hulu masih lemah. Kebijakan culling DOC dan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) yang telah berjalan perlu dievaluasi dan ditegakkan secara konsisten. Tanpa data yang akurat dan pengelolaan yang baik, sulit untuk membuat kebijakan yang tepat sasaran.

2. Tingkatkan Akses Teknologi dan Permodalan

Peternak kecil sering kali kesulitan mengakses teknologi modern dan pendanaan yang memadai. Padahal, ini adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Program MBG bisa menjadi momentum emas untuk membuka akses tersebut. Pemerintah harus memastikan bahwa program ini tidak hanya dinikmati oleh pemain besar, tapi juga membuka peluang bagi peternak lokal untuk berkembang.

3. Libatkan Pemerintah Daerah dalam Pengembangan IKM

Pemerintah daerah juga punya peran penting. Di Jakarta, misalnya, Gubernur Pramono Anung tengah menyusun Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) 2026–2046 yang fokus pada industri bernilai tambah tinggi dan penguatan industri kecil dan menengah (IKM). Semangat ini harus ditiru oleh daerah-daerah sentra peternakan seperti Bengkulu dan wilayah lainnya. Industri perunggasan bukan sekadar komoditas. Ini adalah sektor strategis yang menyerap jutaan tenaga kerja.

Baca Juga:  Pasokan BBM dan LPG oleh Pertamina Patra Niaga Dipastikan Aman Selama Ramadan dan Idulfitri Mendatang

Modal Sosial Peternak Lokal yang Tak Ternilai

Meski skala dan modal perusahaan global jauh lebih besar, peternak lokal punya modal yang tidak dimiliki oleh pemain asing: pemahaman mendalam tentang karakteristik peternak lokal, jaringan distribusi yang telah terbangun selama puluhan tahun, dan loyalitas pelanggan yang kuat. Ini adalah modal sosial yang tak ternilai harganya.

Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana memaksimalkan modal ini. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, akses teknologi yang lebih baik, dan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, peternak lokal bisa tetap eksis bahkan tumbuh bersama dengan pemain global.

Tabel Perbandingan: Peternak Lokal vs Pemain Global

Aspek Peternak Lokal Pemain Global
Modal Terbatas Besar
Teknologi Akses terbatas Canggih dan terintegrasi
Jaringan Distribusi Lokal dan personal Nasional dan internasional
Pendampingan Langsung dan fleksibel Terstruktur dan berstandar
Loyalitas Pelanggan Tinggi Bergantung merek
Kecepatan Adaptasi Lambat Cepat

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Februari 2026. Kebijakan pemerintah, kondisi pasar, dan dinamika industri bisa berubah sewaktu-waktu. Pembaca disarankan untuk selalu memperbarui informasi dari sumber resmi terkait.

Langkah-langkah yang diambil hari ini akan menentukan masa depan industri peternakan nasional. Merger raksasa pakan global bukan akhir dari perjalanan. Tapi, bisa jadi awal dari babak baru yang lebih kompetitif—selama semua pihak siap bergerak.

Rosatyani Puspita
Jurnalis

Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.