Harga emas dunia sempat mengalami tekanan penurunan tajam pada awal pekan ini, terutama karena dolar AS yang menguat. Meski begitu, permintaan terhadap logam mulia ini tetap tinggi, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Investor tampaknya masih memandang emas sebagai aset lindung nilai utama, meskipun harga sempat terkoreksi cukup dalam.
Sentimen pasar emas pada Selasa, 3 Maret 2026, sempat terlihat negatif karena dolar yang menguat. Namun, lonjakan permintaan dari investor yang mencari aset aman akibat ketidakpastian global justru menjaga emas tetap diminati. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun harga sempat turun, daya tarik emas sebagai instrumen investasi jangka panjang tetap kuat.
Harga Emas Dunia Terkoreksi, tapi Permintaan Tak Merosot
Harga emas spot mencatatkan penurunan sebesar 3,9 persen, turun ke level USD5.115,15 per ons. Angka ini tercatat setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi di angka USD5.380,08 per ons. Penurunan ini juga terjadi pada kontrak berjangka emas AS yang terperdagangkan 3,6 persen lebih rendah di angka USD5.123,29 per ons.
Meski mengalami koreksi, emas tetap menarik minat investor global. Kondisi ini terutama dipicu oleh situasi geopolitik yang kembali memanas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangan militer besar-besaran yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran, menciptakan ketidakpastian yang mendorong permintaan emas.
1. Serangan Militer di Iran Picu Ketegangan Global
Serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior Iran memicu reaksi keras dari Teheran. Iran mengancam akan membalas dengan serangan rudal ke seluruh wilayah yang terlibat. Ketegangan ini semakin memanas ketika Israel juga menyerang Lebanon, dan Kuwait secara keliru menembak jatuh jet tempur AS.
2. Presiden AS Buka Suara soal Operasi Militer
Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa operasi militer bisa berlangsung beberapa minggu ke depan. Ia juga menyoroti ketidakpastian kepemimpinan Iran pasca-kematian Khamenei. Hal ini menambah potensi ketidakstabilan di kawasan yang sudah rentan konflik.
3. Ancaman Gangguan Pasokan Minyak Dunia
Iran mengancam akan menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur kritis bagi distribusi minyak global. Ancaman ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi, yang pada akhirnya mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe-haven.
Emas Tetap Menarik di Tengah Ketidakpastian Makro
Meski harga sempat turun, emas tetap menjadi pilihan utama investor. Max Baecker, Presiden American Hartford Gold, menyatakan bahwa jika ketegangan terus berlanjut, harga emas bisa mencapai USD5.450 dalam waktu singkat. Namun jika situasi mereda, konsolidasi di kisaran USD5.250 hingga USD5.300 masih normal.
Baecker juga menegaskan bahwa tren kenaikan emas sebenarnya sudah berjalan sebelum ketegangan geopolitik terjadi. Faktor struktural seperti ekspansi utang negara, pembelian emas oleh bank sentral, dan proses de-dolarisasi global menjadi pendorong jangka panjang.
Perak dan Platinum Ikut Tertekan
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Perak spot turun 6,8 persen menjadi USD83,1940 per ons. Platinum juga anjlok 9,1 persen ke level USD2.103,75 per ons. Perak yang memiliki likuiditas lebih rendah dibandingkan emas cenderung lebih volatil, sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi pasar.
1. Perak Lebih Volatil daripada Emas
Analis dari ING menyebut bahwa perak memiliki posisi dan likuiditas yang lebih tipis, sehingga pergerakannya lebih fluktuatif dibandingkan emas. Dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung memilih emas karena stabilitasnya sebagai instrumen lindung nilai.
2. Tembaga Juga Melemah Tajam
Kontrak berjangka tembaga di London Metal Exchange turun 1,8 persen menjadi USD13.108,00 per ton. Sementara kontrak tembaga AS turun 1,6 persen ke level USD5,8568 per pon. Penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang lebih luas terhadap komoditas industri yang sensitif terhadap risiko geopolitik.
Tabel Perbandingan Harga Logam Mulia (Per Ons)
| Logam Mulia | Harga Sebelumnya | Harga Sekarang | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | USD5.380,08 | USD5.115,15 | -3,9% |
| Emas Berjangka | USD5.315,00 | USD5.123,29 | -3,6% |
| Perak Spot | USD89,2000 | USD83,1940 | -6,8% |
| Platinum | USD2.313,50 | USD2.103,75 | -9,1% |
Faktor-Faktor yang Mendukung Permintaan Emas
Permintaan emas tetap tinggi meski harga sempat turun. Ada beberapa faktor yang mendukung tren ini, terutama dari sisi makroekonomi dan geopolitik.
1. De-Dolarisasi Global
Proses de-dolarisasi yang semakin meluas membuat banyak negara mencari alternatif cadangan devisa. Emas menjadi pilihan utama karena sifatnya yang netral dan tidak terikat dengan mata uang tertentu.
2. Pembelian Masal oleh Bank Sentral
Bank sentral di berbagai negara terus menambah cadangan emas mereka. Hal ini memberikan dukungan jangka panjang terhadap permintaan emas global.
3. Inflasi dan Ketidakpastian Ekonomi
Inflasi yang masih tinggi di banyak negara membuat investor mencari instrumen yang bisa melindungi nilai kekayaan mereka. Emas selalu menjadi pilihan utama di tengah situasi seperti ini.
Proyeksi Harga Emas ke Depan
Dalam skenario ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, harga emas bisa mencapai USD5.450 per ons. Namun jika situasi mereda, harga bisa konsolidasi di kisaran USD5.250 hingga USD5.300. Faktor dolar dan imbal hasil obligasi juga akan terus memengaruhi pergerakan harga jangka pendek.
Disclaimer
Data harga emas dan logam mulia lainnya bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.
Agung Budianto adalah seorang jurnalis senior yang Lahir di Jakarta pada tahun 1992, Ardhi telah mengabdikan hampir dua dekade hidupnya dalam dunia jurnalistik digital Indonesia.
