Beranda » Nasional » Indeks IHSG Rabu Sore Terperosok 4,57 Persen Sampai ke Level 7.577

Indeks IHSG Rabu Sore Terperosok 4,57 Persen Sampai ke Level 7.577

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan performa negatif pada Rabu sore, 4 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terpukul di level 7.577,064, turun 4,57 persen atau sebesar 362,702 poin dari posisi pembukaan hari ini.

Sejak awal sesi perdagangan, IHSG langsung tertekan dan masuk ke zona merah. Gerak indeks sempat mencoba rebound, tetapi tekanan jual yang tinggi membuatnya terus terpuruk hingga akhir sesi. Puncak penurunan terjadi di level 7.486,321 sebelum akhirnya ditutup di kisaran 7.577.

Penyebab Penurunan IHSG

  1. Sentimen Global yang Melemah
    Tekanan dari bursa Asia turut memengaruhi kinerja IHSG. Indeks Nikkei Jepang terperosok 3,61 persen, Hang Seng Hong Kong turun 2,01 persen, dan Shanghai Composite melemah 0,98 persen. Investor cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut dari isu makroekonomi global.

  2. Koreksi Terhadap Emiten Sektor Industri
    Sektor industri dasar menjadi penyumbang terbesar pelemahan IHSG dengan penurunan 7,42 persen. Diikuti sektor transportasi yang turun 7,23 persen dan sektor cyclical yang melemah 6,69 persen. Pelemahan ini mencerminkan adanya penyesuaian terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi.

Data Perdagangan IHSG Rabu Sore

Parameter Nilai
Penutupan IHSG 7.577,064
Poin Terkoreksi -362,702
Persentase Penurunan -4,57%
Volume Perdagangan 53,083 miliar lembar
Nilai Transaksi Rp29,599 triliun
Jumlah Saham Melemah 734 saham
Jumlah Saham Menguat 54 saham
Saham Stagnan 33 saham

Saham Penguatan dan Pelemahan Terbesar

Saham-saham yang menguat terbesar pada perdagangan Rabu sore antara lain:

  • TOWR (Tower Bersama)
  • MAPI (Mandiri Aksesori Indonesia)
  • UNVR (Unilever Indonesia)
  • JPFA (Jaya Pangan Abadi)
  • MIKA (Mitra Keluarga Karyasehat)
Baca Juga:  Harga Bahan Pokok di Pasar Palmerah Diperiksa Menko Pangan dan Mendag Secara Langsung

Di sisi lain, saham yang mengalami tekanan jual terbesar (top losers) adalah:

  • BTPS (Bank Tabungan Pensiunan Nasional)
  • TLKM (Telekomunikasi Indonesia)
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia)
  • BSDE (Bumi Serpong Damai)
  • AMMN (Aneka Tambang Manunggal)

Kinerja Bursa Regional Asia

Pergerakan IHSG yang melemah juga dipengaruhi oleh performa negatif bursa saham Asia lainnya. Investor global tampak menahan diri menjelang rilis data penting dari Amerika Serikat.

Berikut data penutupan indeks regional Asia Rabu sore:

Indeks Negara Penurunan (%) Penutupan
Nikkei Jepang -3,61% 54.245,54
Hang Seng Hong Kong -2,01% 25.249,48
Shanghai Composite Tiongkok -0,98% 4.082,47
Strait Times Singapura -2,28% 4.804,69

Faktor Makroekonomi yang Mempengaruhi Pasar

  1. Kebijakan Moneter Global
    Ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga di negara maju masih menjadi sorotan. Investor cenderung menghindari risiko tinggi dan lebih memilih instrumen yang dianggap aman.

  2. Data Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
    Beberapa negara Asia tengah menghadapi tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali. Ini berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal dan moneternya, termasuk Indonesia.

  3. Perang Dagang dan Geopolitik
    Ketegangan geopolitik global, termasuk isu perdagangan antara negara besar, masih menjadi penghalang bagi optimisme pasar modal.

Rekomendasi untuk Investor

  1. Waspadai Volatilitas Pasar
    Dengan kondisi pasar yang belum stabil, investor sebaiknya tetap waspada terhadap fluktuasi harga saham. Hindari keputusan impulsif berdasarkan gerakan jangka pendek.

  2. Fokus pada Emiten Fundamentally Sound
    Saham dengan kinerja keuangan yang solid dan prospek bisnis jangka panjang cenderung lebih tahan terhadap tekanan pasar.

  3. Diversifikasi Portofolio
    Menyebar risiko investasi ke berbagai sektor dan instrumen bisa menjadi langkah bijak untuk mengurangi dampak volatilitas pasar saham.

Baca Juga:  KAI Logistik dan Bogantara Kolaborasi Tangani Pengiriman Hewan Ternak untuk Mendukung Bisnis Peternakan Sampai ke Pasar Nasional dengan Layanan Terintegrasi 2025

Proyeksi IHSG di Pekan Mendatang

Pergerakan IHSG pekan depan akan sangat bergantung pada sentimen global dan rilis data ekonomi lokal. Investor akan terus memantau indikator pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 serta inflasi inti yang dirilis Bank Indonesia.

Apabila sentimen eksternal tetap negatif, IHSG berpotensi menguji level support di kisaran 7.400. Namun, jika ada perbaikan di pasar global, indeks bisa rebound ke area 7.800.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini per 4 Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pergerakan harga saham dipengaruhi oleh berbagai faktor makro dan mikro yang dinamis. Investasi di pasar modal mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi.

Rosatyani Puspita
Jurnalis

Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.