Beranda » Nasional » Dampak Konflik AS-Iran pada Pasar Saham Wall Street Mengalami Penurunan Tajam

Dampak Konflik AS-Iran pada Pasar Saham Wall Street Mengalami Penurunan Tajam

Saham Wall Street terperosok pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap dampak inflasi menjadi pemicu utama pelemahan pasar. Indeks utama ditutup di zona merah, meski sempat berada jauh dari titik terendah harian.

Penurunan ini terjadi meski sehari sebelumnya investor masih menunjukkan optimisme. Data ekonomi yang solid dan harapan akan diplomasi Iran sempat menopang sentimen pasar. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah dan isu pembatasan ekspor chip AI dari AS kembali memicu tekanan.

Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasar Global

Ketegangan antara AS dan Iran terus memanas. Serangan rudal Iran ke Israel menjadi sorotan utama, menandai hari keenam berturut-turut terjadinya aksi militer. Serangan ini terjadi tak lama setelah Senat AS menolak mosi untuk menghentikan kampanye udara, menunjukkan semakin sempitnya ruang diplomasi.

1. Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak mentah naik mendekati level USD80 per barel. Lonjakan ini langsung berdampak pada biaya produksi dan distribusi barang, serta menekan daya beli konsumen. Inflasi yang terus mengintai menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi global.

2. Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF, menyebut konflik ini sebagai ujian bagi ketahanan ekonomi global. Jika berlangsung lama, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok, investasi, dan stabilitas keuangan internasional.

3. Sentimen Investor yang Labil

Investor cenderung menghindari risiko dan mencari aset aman. Saham perusahaan besar seperti Apple, Microsoft, dan Nvidia justru dibobol karena isu pembatasan ekspor chip AI. Pasar saham menjadi tidak stabil, terutama di sektor teknologi.

Pembatasan Ekspor Chip AI oleh AS

Langkah pemerintahan Trump untuk membatasi pengiriman chip AI ke seluruh dunia memicu gejolak di pasar. Rencana aturan baru ini akan memerlukan persetujuan AS untuk hampir semua ekspor akselerator AI dari produsen seperti Nvidia dan AMD.

Baca Juga:  Purbaya Yakin DSI Mampu Tingkatkan Pendapatan Negara Hingga 2 Kali Lipat

1. Dampak pada Saham Nvidia

Saham Nvidia langsung terperosok setelah laporan tersebut beredar. Investor khawatir pembatasan ini akan mengurangi pendapatan perusahaan dari pasar global, terutama di Asia dan Eropa.

2. Respons dari Perusahaan Lain

Tidak semua perusahaan teknologi terdampak negatif. Broadcom justru melonjak hingga 5 persen setelah melaporkan pendapatan kuartal yang melebihi ekspektasi. Perusahaan juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai USD10 miliar.

3. Perluasan Pembatasan Global

Aturan yang diusulkan merupakan ekspansi dari kebijakan yang sebelumnya hanya berlaku untuk sekitar 40 negara. Kini, hampir semua negara harus mendapat persetujuan AS sebelum mengimpor chip AI. Ini bisa mengubah dinamika pasar global secara signifikan.

Data Tenaga Kerja dan Prospek Suku Bunga

Meski pasar saham sedang lesu, data tenaga kerja AS menunjukkan sinyal positif. Laporan penggajian swasta Februari menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari yang diperkirakan, menandakan pasar kerja masih sehat.

1. Penurunan Angka PHK

Data dari Challenger menunjukkan PHK pada Februari turun drastis menjadi 48.307 kasus, turun dari 108.435 pada bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa pasar kerja belum terdampak parah oleh ketegangan global.

2. Klaim Pengangguran Stabil

Jumlah klaim pengangguran awal tetap berada di level 213 ribu, lebih rendah dari estimasi pasar sebesar 215 ribu. Stabilitas ini menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja masih kuat.

3. Indeks ISM Menyala

Indeks manajer pembelian sektor jasa AS naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Ini menunjukkan bahwa permintaan domestik masih menjadi pendorong utama ekonomi.

Baca Juga:  Kolaborasi Antarlembaga Tingkatkan Prospek Pengembangan Sektor Baja Nasional Menuju Tahun 2030

Pandangan Terhadap Kebijakan Suku Bunga

Meskipun data ekonomi menunjukkan ketahanan yang baik, ekspektasi penurunan suku bunga dari The Fed mulai redup. Probabilitas penurunan pada pertemuan Juni kini hanya sekitar 39 persen, terendah sepanjang tahun.

1. Skeptisisme terhadap Ketua Baru The Fed

Investor mulai meragukan apakah Ketua baru The Fed akan langsung menurunkan suku bunga. Data ekonomi yang kuat memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan langkah agresif.

2. Optimisme Bank Sentral

Laporan Beige Book menunjukkan bahwa Federal Reserve tetap optimis terhadap kondisi ekonomi. Meski ada ketegangan global, perekonomian domestik masih menunjukkan ketangguhan.

Perbandingan Dampak Saham Utama pada 5 Maret 2026

Indeks Perubahan (%) Penutupan (poin)
S&P 500 -0,6% 6.829,45
NASDAQ Composite -0,3% 22.748,99
Dow Jones Industrial Average -1,6% 47.954,19

Data di atas menunjukkan bahwa Dow Jones terdampak paling parah, mencerminkan pelemahan di saham blue-chip akibat ketidakpastian geopolitik.

Kesimpulan

Wall Street kembali terkoreksi tajam karena ketegangan AS-Iran dan kebijakan ekspor chip AI. Investor berhati-hati, sementara data ekonomi domestik masih menunjukkan ketangguhan. Pergerakan harga minyak dan ekspektasi suku bunga akan terus menjadi fokus utama di pekan-pekan mendatang.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan makroekonomi global.

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.