Minyak mentah jenis Brent dan WTI mencatatkan lonjakan harga tertinggi dalam satu pekan terakhir pada awal Maret 2026. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data tenaga kerja Amerika Serikat yang mengecewakan. Investor dan pelaku pasar energi mulai khawatir akan gangguan pasokan global yang bisa terjadi dalam waktu dekat.
Harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Mei naik hingga 8,9 persen, menyentuh level USD93,04 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih tajam lagi, yakni 12,7 persen, hingga USD91,27 per barel. Dalam hitungan mingguan, kenaikan Brent mencapai 28,4 persen, sementara WTI bahkan melompat hingga 36,2 persen. Angka ini menjadi salah satu lonjakan tertinggi sejak April 2020.
Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak tidak datang begitu saja. Ada faktor utama yang memicu gejolak pasar energi global, yaitu semakin memanasnya situasi di Timur Tengah. Konflik antara Iran, Israel, dan intervensi militer Amerika Serikat telah memasuki hari ketujuh. Pertempuran, serangan balasan, serta ancaman terhadap infrastruktur energi regional membuat investor gelisah.
1. Pertempuran di Jalur Air Strategis
Salah satu area kritis yang menjadi sorotan adalah Selat Hormuz. Jalur air sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi rute transit bagi sekitar 20 persen minyak dunia. Jika akses ke selat ini terganggu, dampaknya akan dirasakan secara global, baik dari segi pasokan maupun harga energi.
2. Ancaman Penutupan Ekspor dari Negara Teluk
Menurut laporan dari Financial Times, Kementerian Energi Qatar memperingatkan bahwa negara-negara Teluk bisa terpaksa menutup seluruh ekspor minyak jika situasi tidak segera membaik. Jika benar terjadi, harga minyak bisa melonjak hingga USD150 per barel. Ini akan memicu tekanan inflasi yang luas, terutama di negara-negara pengimpor besar seperti India, China, dan Eropa.
3. Pernyataan Politik yang Memanas
Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas pada Jumat, menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa diplomasi di kawasan belum menampakkan tanda-tanda penyelesaian damai. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar potensi gangguan terhadap rantai pasokan energi global.
Data Tenaga Kerja AS Tekan Harapan Pemangkasan Suku Bunga
Selain faktor geopolitik, data ekonomi dari Amerika Serikat juga ikut memicu volatilitas pasar. Laporan ketenagakerjaan yang dirilis pada Jumat pagi menunjukkan bahwa ekonomi AS kehilangan 92.000 lapangan kerja pada Februari 2026. Angka ini jauh dari prediksi yang memperkirakan penambahan sebanyak 58.000 lapangan kerja.
1. Revisi Data Januari yang Suram
Data untuk bulan Januari juga direvisi dari 130.000 penambahan lapangan kerja menjadi hanya 126.000. Artinya, momentum pemulihan pasar tenaga kerja AS mulai melemah. Padahal, angka tenaga kerja merupakan indikator penting yang digunakan Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.
2. Tingkat Pengangguran Naik
Tingkat pengangguran bulan Februari naik menjadi 4,4 persen, naik dari 4,3 persen pada bulan sebelumnya. Lonjakan pengangguran ini memperburuk ekspektasi pasar terhadap siklus kenaikan suku bunga di tahun 2026. Investor mulai mempertimbangkan kemungkinan penundaan langkah hawkish dari bank sentral AS.
3. Imbas pada Obligasi dan Inflasi
Lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi. Namun, data tenaga kerja yang melemah justru bisa menahan laju kenaikan suku bunga. Pasar obligasi bereaksi dengan turunnya yield, menandakan bahwa ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS mulai bergeser ke arah yang lebih dovish.
Respons Global Terhadap Lonjakan Harga Minyak
Menghadapi lonjakan harga minyak, beberapa langkah responsif mulai diambil oleh aktor global. Salah satunya adalah keputusan Amerika Serikat untuk mengizinkan India membeli minyak dari Rusia selama periode 30 hari ke depan.
1. Fleksibilitas AS pada Aturan Sanksi
Langkah ini dianggap sebagai upaya mitigasi jangka pendek untuk mencegah lonjakan harga lebih lanjut. Namun, para analis menyatakan bahwa ini bukan solusi jangka panjang. Aliran minyak dari Selat Hormuz tetap menjadi kunci utama stabilitas harga global.
2. Potensi Risiko Inflasi Global
Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada biaya produksi dan transportasi barang. Ini bisa memicu kenaikan harga barang secara umum, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi. Bank sentral di berbagai belahan dunia harus waspada terhadap tekanan inflasi ini.
3. Spekulasi Pasar dan Sentimen Investor
Lonjakan harga minyak juga disertai dengan meningkatnya aktivitas spekulatif di pasar berjangka. Investor mencoba memprediksi seberapa lama konflik akan berlangsung dan bagaimana dampaknya terhadap harga dasar minyak di masa depan. Volatilitas ini membuat pasar energi menjadi sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik.
Perbandingan Harga Minyak Mentah Global
| Jenis Minyak | Harga Sebelum Lonjakan (USD/Barel) | Harga Setelah Lonjakan (USD/Barel) | Kenaikan Mingguan (%) |
|---|---|---|---|
| Brent | 72,50 | 93,04 | 28,4% |
| WTI | 67,00 | 91,27 | 36,2% |
Catatan: Data harga berdasarkan kontrak berjangka terdekat per 6 Maret 2026.
Disclaimer
Harga minyak mentah sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti geopolitik, kebijakan energi global, dan dinamika ekonomi makro. Data yang disajikan bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.
Lonjakan harga minyak kali ini bukan sekadar gejolak pasar biasa. Ini adalah cerminan dari ketidakpastian global yang sedang berlangsung. Baik dari segi konflik internasional maupun ketegangan ekonomi domestik, semua elemen saling terhubung dan memperkuat volatilitas pasar energi dunia.
Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.
