Beranda » Nasional » Ekonomi RI Tetap Tumbuh Positif, Purbaya Pastikan Masih Jauh dari Resesi!

Ekonomi RI Tetap Tumbuh Positif, Purbaya Pastikan Masih Jauh dari Resesi!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah cukup dalam pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Rupiah juga terlihat tertekan, mencatat pelemahan hingga 24 poin terhadap dolar AS. Meski begitu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ini belum menandakan krisis atau bahkan resesi ekonomi. Menurutnya, perekonomian Indonesia masih berada dalam fase ekspansi, dengan daya beli masyarakat yang terus dijaga.

Purbaya menyebut bahwa tekanan di pasar saham dan nilai tukar rupiah tidak serta merta mencerminkan kondisi ekonomi makro yang buruk. Ia mengingatkan bahwa volatilitas pasar modal adalah hal yang wajar, terutama di tengah ketidakpastian global. Namun, fondasi ekonomi dalam negeri tetap kuat, terutama dengan pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya.

Ekonomi Indonesia Masih Dalam Fase Ekspansi

Kondisi ekonomi nasional saat ini masih menunjukkan tanda-tanda ekspansi. Purbaya menekankan bahwa pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil. Fokus utama adalah memastikan bahwa roda perekonomian tetap berputar dengan baik, meski ada gejolak di pasar keuangan.

Tidak ada indikasi bahwa Indonesia sedang mengalami perlambatan ekonomi yang signifikan. Bahkan, berbagai stimulus dan kebijakan fiskal terus digulirkan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Investor pun diminta tidak terlalu panik dengan fluktuasi jangka pendek di pasar modal.

1. Data IHSG dan Rupiah pada 9 Maret 2026

Indikator Nilai Sebelumnya Nilai Penutupan Perubahan
IHSG 7.585,69 7.337,37 -248,32 poin (-3,27%)
Indeks LQ45 776,04 750,57 -25,47 poin (-3,28%)
Rupiah terhadap USD Rp16.925 Rp16.949 -24 poin

Meski terjadi pelemahan, angka-angka ini tidak serta merta mencerminkan krisis ekonomi. IHSG dan rupiah masih berada dalam koreksi wajar, bukan tanda-tanda kehancuran ekonomi.

2. Pengalaman Menghadapi Krisis Sebelumnya

Purbaya menegaskan bahwa Indonesia telah melalui berbagai krisis besar sebelumnya. Mulai dari krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, hingga pandemi covid-19 pada 2020. Dari pengalaman itu, pemerintah belajar banyak dalam merancang kebijakan mitigasi yang lebih matang.

Dengan pengalaman tersebut, pemerintah kini lebih siap menghadapi potensi gejolak eksternal. Langkah antisipatif terus disiapkan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global yang bisa memicu tekanan pada harga komoditas dan nilai tukar.

Baca Juga:  Purbaya Ingin Marketplace Lokal Tak Kalah Hebatnya dari Platform China

Menjaga Daya Beli dan Stabilitas APBN

Salah satu fokus utama pemerintah adalah menjaga daya beli masyarakat tetap tinggi. Purbaya melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, untuk memastikan bahwa aktivitas ekonomi di lapangan masih berjalan normal. Ia menemukan bahwa harga barang kebutuhan pokok masih terkendali dan tidak ada tanda-tanda panic buying.

3. Kebijakan APBN sebagai Peredam Gejolak

APBN 2026 dirancang untuk menjadi peredam gejolak ekonomi. Purbaya menyebut bahwa anggaran telah disiapkan secara fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan global. Salah satu ancaman utama adalah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, seperti konflik antara Iran, AS, dan Israel.

Namun, pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM subsidi. Anggaran fiskal dinilai masih cukup kuat untuk menampung tekanan tersebut. Langkah ini diambil agar daya beli masyarakat tidak tergerus oleh kenaikan harga energi.

4. Strategi Jangka Pendek untuk Stabilitas Ekonomi

  1. Penguatan APBN: Menjaga alokasi anggaran yang fleksibel untuk antisipasi gejolak eksternal.
  2. Pengawasan Pasar: Melakukan sidak rutin ke pasar tradisional dan modern untuk memastikan harga tetap stabil.
  3. Kebijakan Moneter dan Fiskal Terkoordinasi: Sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas makro.
  4. Komunikasi yang Jelas ke Publik: Menyampaikan data ekonomi secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi berlebihan.

Ancaman Global dan Respons Pemerintah

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor yang bisa memicu kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak berpotensi mengganggu stabilitas makro ekonomi, terutama bagi negara importir minyak seperti Indonesia.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah telah mempersiapkan berbagai skenario mitigasi. Salah satunya adalah dengan menjaga cadangan devisa yang cukup kuat dan menyiapkan buffer anggaran untuk subsidi energi.

5. Kesiapan Menghadapi Lonjakan Harga Minyak

  • Cadangan Devisa: Saat ini mencapai USD150 miliar, cukup untuk menopang impor dan kebutuhan luar negeri.
  • Anggaran Subsidi Energi: Dialokasikan sebesar Rp350 triliun dalam APBN 2026.
  • Kebijakan Harga BBM: Belum ada rencana kenaikan harga BBM subsidi meski harga minyak mentah dunia naik hingga USD90 per barel.
Baca Juga:  Harga Bahan Pokok di Pasar Palmerah Diperiksa Menko Pangan dan Mendag Secara Langsung

Optimisme di Tengah Ketidakpastian

Meski berada di tengah ketidakpastian global, pemerintah tetap optimis bahwa perekonomian Indonesia bisa terus tumbuh. Fokusnya adalah menjaga stabilitas makro, daya beli masyarakat, dan investasi di sektor-sektor strategis.

Purbaya menyebut bahwa investor pasar modal tidak perlu terlalu khawatir. Fondasi ekonomi Indonesia dinilai masih kuat, terutama dengan pertumbuhan yang konsisten dan inflasi yang terkendali. Investor diminta untuk tidak terjebak pada fluktuasi jangka pendek, karena tren jangka panjang ekonomi masih positif.

6. Indikator Ekonomi Positif di Awal 2026

Indikator Kondisi Awal 2026
Pertumbuhan Ekonomi (Q4 2025) 5,2% (year-on-year)
Inflasi (Februari 2026) 2,9% (year-on-year)
Tingkat Pengangguran 5,8%
Cadangan Devisa USD150 miliar
Defisit APBN 2,8% dari PDB

Data-data tersebut menunjukkan bahwa perekonomian masih berada dalam jalur yang sehat. Meski ada tekanan dari luar, dampaknya bisa diminimalkan melalui kebijakan yang tepat.

Kesimpulan

Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia masih jauh dari krisis ekonomi. Meski IHSG dan rupiah sempat tertekan, kondisi tersebut belum mencerminkan perlambatan ekonomi makro. Pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat, memperkuat APBN, dan mempersiapkan langkah antisipatif terhadap gejolak global.

Investor dan masyarakat diminta untuk tidak terlalu panik. Perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya. Dengan koordinasi kebijakan yang baik, stabilitas ekonomi nasional bisa tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Disclaimer: Data dan kondisi ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan global dan kebijakan pemerintah. Informasi dalam artikel ini bersifat terkini per Maret 2026 dan dapat berbeda di masa mendatang.

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.