Rachmat Gobel, anggota Komisi VI DPR RI, kembali menyoroti pentingnya peran koperasi dalam memperkuat ekonomi rakyat. Menurutnya, koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi, tapi juga instrumen penting untuk memperluas akses pembiayaan dan memberdayakan masyarakat secara mandiri. Pandangan ini disampaikan dalam konteks perlunya revitalisasi koperasi agar lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi nasional yang terus berkembang.
Gobel menilai bahwa koperasi memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan, terutama di tengah ketimpangan akses terhadap modal dan layanan keuangan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan karena berbagai hambatan struktural dan pengelolaan yang kurang optimal.
Penguatan Koperasi sebagai Solusi Ekonomi Inklusif
Koperasi memiliki nilai dasar yang selaras dengan prinsip ekonomi inklusif. Dengan struktur yang berorientasi pada keanggotaan, koperasi bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan akses modal yang terjangkau. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan langkah-langkah konkret dari pemerintah dan DPR.
1. Evaluasi Ulang Regulasi Koperasi
Regulasi yang ada saat ini masih terasa kaku dan kurang ramah bagi pengelola koperasi kecil. Perlu dilakukan evaluasi menyeluruh untuk menyederhanakan proses administrasi serta memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan dan operasional.
2. Peningkatan Akses Permodalan
Banyak koperasi gagal berkembang karena terbatasnya akses permodalan. Pemerintah perlu menciptakan skema pendanaan yang lebih terjangkau, seperti dana bergulir atau pinjaman lunak melalui Lembaga Penjamin Kredit (LPK) atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
3. Digitalisasi Sistem Koperasi
Di era 2026, digitalisasi menjadi keharusan. Koperasi perlu dibekali teknologi informasi agar mampu bersaing dan menjangkau lebih banyak anggota. Termasuk sistem pencatatan digital, aplikasi keanggotaan, dan platform pemasaran online.
Peran Pemerintah dalam Mendorong Koperasi
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan koperasi. Tanpa kebijakan yang pro terhadap koperasi, potensi mereka akan terus terabaikan.
1. Penyuluhan dan Pembinaan Rutin
Penyuluhan yang rutin dan berkelanjutan perlu dilakukan agar pengurus koperasi memahami prinsip dasar dan pengelolaan yang baik. Ini termasuk pelatihan keuangan, pemasaran, dan manajemen risiko.
2. Insentif Pajak untuk Koperasi Produktif
Memberikan insentif pajak kepada koperasi yang aktif dan produktif bisa menjadi insentif bagi pertumbuhan. Misalnya, pembebasan pajak penghasilan untuk koperasi yang mampu menyalurkan pinjaman kepada minimal 500 anggota dalam satu tahun.
3. Kolaborasi dengan Dunia Usaha
Koperasi perlu didorong untuk menjalin kerja sama dengan sektor swasta. Kolaborasi ini bisa membuka peluang distribusi produk, akses pasar, dan peningkatan kapasitas produksi.
Tantangan yang Masih Dihadapi Koperasi
Meski memiliki banyak potensi, koperasi di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari segi pengelolaan hingga kualitas sumber daya manusia, banyak aspek yang perlu diperbaiki agar koperasi bisa benar-benar menjadi pilar ekonomi rakyat.
1. Kualitas SDM Pengurus Koperasi
Banyak koperasi masih dikelola oleh pengurus yang minim pengetahuan tentang manajemen keuangan dan bisnis. Ini menyebabkan kinerja yang kurang optimal dan bahkan terjadi penyimpangan penggunaan dana.
2. Kurangnya Transparansi
Transparansi menjadi isu penting. Banyak anggota koperasi tidak mengetahui secara jelas bagaimana dana mereka dikelola. Ini menurunkan kepercayaan dan menghambat pertumbuhan keanggotaan.
3. Persaingan dengan Fintech dan UMKM
Di tengah maraknya fintech dan platform pinjaman online, koperasi harus bisa menawarkan layanan yang lebih kompetitif. Termasuk suku bunga yang lebih rendah, proses yang lebih cepat, dan pelayanan yang lebih personal.
Strategi Jangka Panjang untuk Koperasi
Untuk memastikan koperasi tetap relevan dan mampu berkontribusi pada perekonomian nasional, diperlukan strategi jangka panjang yang terintegrasi dan berkelanjutan.
1. Pengembangan Model Koperasi Berbasis Komunitas
Model koperasi yang dekat dengan masyarakat seperti koperasi desa atau koperasi pegawai bisa dikembangkan lebih luas. Ini akan memperkuat keterlibatan masyarakat dan meningkatkan rasa memiliki terhadap koperasi.
2. Penguatan Koperasi Sektor Primer
Koperasi yang bergerak di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan perlu mendapat perhatian khusus. Mereka adalah garda terdepan dalam mendukung sektor riil dan meningkatkan kesejahteraan petani serta nelayan.
3. Peningkatan Kapasitas Lembaga Pengawas
Lembaga pengawas koperasi perlu diberdayakan agar mampu melakukan pengawasan secara efektif. Ini mencakup peningkatan SDM, teknologi, dan anggaran kerja.
Perbandingan Potensi Koperasi vs Lembaga Keuangan Lain
| Kriteria | Koperasi | Bank Umum | Fintech |
|---|---|---|---|
| Akses Modal | Terjangkau | Tinggi | Variatif |
| Transparansi | Sedang | Tinggi | Rendah |
| Keanggotaan | Terbatas pada anggota | Umum | Umum |
| Suku Bunga | Rendah | Sedang | Tinggi |
| Fokus Utama | Kesejahteraan anggota | Profit | Profit |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa koperasi memiliki keunggulan dalam hal akses modal yang terjangkau dan suku bunga yang lebih rendah. Namun, dalam hal transparansi dan teknologi, koperasi masih tertinggal dibanding bank umum dan fintech.
Penutup
Koperasi memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta penguatan kapasitas internal, koperasi bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong kesejahteraan masyarakat. Di tahun 2026, tantangan semakin kompleks, tapi peluang juga semakin terbuka lebar bagi koperasi yang siap beradaptasi.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga tahun 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan kebijakan dan regulasi terkait koperasi di Indonesia.
Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.