Beranda » Nasional » Rupiah Menguat Lagi, Nilai Tukar Ditutup di Level Rp16.863 per Dolar AS

Rupiah Menguat Lagi, Nilai Tukar Ditutup di Level Rp16.863 per Dolar AS

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah kembali menunjukkan performa positif di akhir perdagangan pekan ini. Penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus berlanjut, menutup di level Rp16.863 per USD berdasarkan data Bloomberg, Selasa, 10 Maret 2026.

Pergerakan ini menandai penguatan rupiah sebesar 86 poin atau sekitar 0,51 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.949. Meski demikian, data dari sumber lain seperti Yahoo Finance mencatat rupiah sedikit melemah di level Rp16.855 per USD, turun 23 poin atau 0,14 persen dari hari sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Jisdor mencatat rupiah di posisi Rp16.879 per USD, menguat dari sebelumnya Rp16.974. Perbedaan data ini wajar mengingat metode pengambilan kurs tiap platform berbeda, terutama dalam hal waktu pengambilan dan sumber bank pelaku transaksi.

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari dinamika global, khususnya sentimen pasar minyak yang mengalami lonjakan tajam. Harga minyak dunia melonjak hingga 30 persen, mendekati level USD100 per barel. Lonjakan ini terjadi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Serangan udara Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas minyak Iran memicu gejolak pasar. Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah fasilitas energi di kawasan. Selain itu, Iran juga dikabarkan memblokir jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pasokan minyak ke Asia.

Langkah ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, termasuk bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut. Ketidakpastian ini memicu pergerakan volatil di pasar keuangan internasional.

1. Pengaruh Harga Minyak terhadap Rupiah

Lonjakan harga minyak memberikan dampak ganda bagi rupiah. Di satu sisi, Indonesia sebagai negara eksportir minyak mentah mendapat manfaat dari naiknya harga komoditas ini. Pendapatan devisa dari sektor energi pun meningkat.

Namun, di sisi lain, lonjakan harga minyak juga memicu inflasi global. Ini bisa berdampak pada daya beli masyarakat domestik dan memicu tekanan pada bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan moneter.

2. Sentimen Geopolitik di Timur Tengah

Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat kembali memanas. Serangan terhadap fasilitas minyak dan pemblokiran Selat Hormuz menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Investor cenderung mencari aset aman, dan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia sering kali menjadi pilihan utama. Namun, jika ketegangan ini berlangsung lama, dolar bisa mengalami tekanan karena risiko gangguan pasokan energi global.

Baca Juga:  GAPKI Waspadai Potensi Penurunan Ekspor Sawit Akibat Kebijakan DSI yang Ketat

3. Peran Jisdor dalam Stabilitas Kurs

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tetap menjadi acuan penting dalam menentukan nilai tukar rupiah. Kurs ini ditetapkan Bank Indonesia berdasarkan transaksi riil di pasar spot antarbank.

Penguatan rupiah terhadap Jisdor mencerminkan adanya permintaan rupiah yang tinggi di pasar. Ini bisa disebabkan oleh masuknya aliran modal asing atau peningkatan ekspor yang mendongkrak penerimaan devisa.

Perbandingan Data Kurs Rupiah terhadap USD (10 Maret 2026)

Sumber Data Kurs (Rp per USD) Perubahan (Poin) Perubahan (%)
Bloomberg 16.863 +86 +0,51%
Yahoo Finance 16.855 -23 -0,14%
Jisdor 16.879 +95 +0,57%

Disclaimer: Data kurs di atas bersifat mengambang dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar. Perbedaan antar sumber data bisa terjadi karena metode pengambilan waktu dan bank referensi yang berbeda.

4. Peran Bank Indonesia dalam Stabilitas Nilai Tukar

Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar valuta asing secara ketat. Intervensi pasar dilakukan jika diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kebijakan moneter yang konsisten dan prediktif menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor terhadap mata uang Garuda. BI juga terus mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap spekulasi dan informasi yang tidak valid.

5. Dampak terhadap Inflasi dan Daya Beli

Penguatan rupiah bisa membantu menekan tekanan inflasi, terutama pada barang impor. Namun, jika penguatan terjadi terlalu tajam, bisa berdampak pada sektor ekspor karena produk lokal menjadi lebih mahal di pasar internasional.

Keseimbangan nilai tukar yang stabil menjadi penting untuk menjaga daya saing ekonomi nasional.

6. Proyeksi Kurs ke Tengah 2026

Beberapa analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per USD sepanjang kuartal II 2026. Proyeksi ini didasarkan pada perkiraan stabilitas harga komoditas dan kebijakan moneter global.

Namun, ketidakpastian geopolitik dan kebijakan bank sentral dunia seperti The Fed masih menjadi variabel yang bisa mengubah arah pergerakan kurs.

Penyebab Volatilitas Kurs Rupiah

Volatilitas nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Di antaranya adalah:

  • Fluktuasi harga minyak mentah dunia
  • Kebijakan moneter bank sentral global
  • Arus modal asing masuk dan keluar
  • Sentimen investor terhadap risiko geopolitik
  • Kondisi makroekonomi domestik
Baca Juga:  Pertamina Perkirakan Kebutuhan BBM Naik 12 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026

7. Strategi untuk Menghadapi Fluktuasi Kurs

Bagi pelaku usaha yang bergantung pada transaksi valas, penting untuk memiliki strategi mitigasi risiko. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  1. Menggunakan kontrak lindung nilai (hedging)
  2. Memantau perkembangan geopolitik secara berkala
  3. Mengoptimalkan penggunaan valuta lokal dalam transaksi domestik
  4. Menjaga likuiditas perusahaan agar tidak terjebak saat volatilitas tinggi

8. Peran Investor Asing

Investor asing tetap menjadi salah satu penentu arah pergerakan rupiah. Masuknya modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik memberikan tekanan penguatan terhadap rupiah.

Namun, jika investor mulai menarik dana karena ketidakpastian global, rupiah bisa mengalami tekanan pelemahan dalam waktu singkat.

9. Pengaruh Kebijakan The Fed

Kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi sorotan pasar. Jika bank sentral Amerika Serikat memutuskan menaikkan suku bunga lebih agresif, dolar bisa menguat dan berdampak pada pelemahan rupiah.

Sebaliknya, jika kebijakan moneter AS lebih dovish, rupiah berpotensi menguat lebih lanjut.

10. Peran Sektor Ekspor-Impor

Sektor riil, khususnya ekspor dan impor, tetap menjadi penopang utama permintaan terhadap rupiah. Peningkatan ekspor komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan minyak mentah memberikan sumbangsih positif terhadap neraca perdagangan.

Namun, jika impor barang modal dan konsumsi meningkat tajam, tekanan terhadap defisit neraca berjalan bisa muncul.

Kesimpulan

Penguatan rupiah terhadap dolar AS di level Rp16.863 per USD mencerminkan kombinasi faktor domestik dan global. Sentimen geopolitik, harga minyak, dan kebijakan moneter menjadi pendorong utama pergerakan kurs.

Meski penguatan rupiah bisa memberikan manfaat jangka pendek, stabilitas jangka panjang tetap menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekonomi nasional. Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menjaga keseimbangan ini melalui berbagai instrumen kebijakan makroprudensial.

Eva Agustin
Jurnalis

Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.