Beranda » Nasional » Dolar AS Anjlok Setelah Naik Tajam Selama Tiga Hari Berturut-turut Seiring Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Dolar AS Anjlok Setelah Naik Tajam Selama Tiga Hari Berturut-turut Seiring Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Dolar AS sempat menunjukkan performa kuat selama beberapa hari terakhir. Namun, tren itu mulai berbalik arah seusai terjadinya volatilitas di pasar energi global. Pelemahan nilai tukar dolar terjadi seiring dengan anjloknya harga minyak dunia yang dipicu oleh ketidakjelasan informasi terkait pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,36 persen menjadi 98,823 pada penutupan perdagangan Selasa waktu New York atau Rabu pagi WIB. Pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang mulai waspada terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap stabilitas harga energi.

Dolar Melemah, Pasar Bereaksi terhadap Ketidakpastian Global

Perubahan nilai tukar dolar terhadap sejumlah mata uang utama tercatat cukup signifikan. Euro menguat menjadi USD1,1644 dari level sebelumnya di USD1,1578. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,346 dari USD1,3388. Di sisi lain, dolar terhadap yen Jepang turun dari 158,33 menjadi 157,63.

Swiss franc dan dolar Kanada juga mencatat pergerakan yang sama. Dolar AS melemah menjadi 0,777 franc Swiss dari sebelumnya 0,7799. Terhadap mata uangloonie, dolar turun menjadi 1,357 dari 1,3591. Sementara itu, krona Swedia menguat menjadi 9,21 dari 9,1371.

1. Serangan AS-Israel ke Iran Picu Sentimen Negatif

Investor mulai mengantisipasi dampak dari aksi militer AS-Israel terhadap Iran. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Pasar cenderung sensitif terhadap risiko geopolitik, terutama jika berpotensi mengganggu pasokan energi global.

2. Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Hoaks Pengawalan Tanker

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan AS mengalami fluktuasi tajam. Awalnya, harga sempat anjlok di bawah USD77 per barel. Penyebabnya adalah unggahan Menteri Energi AS, Chris Wright, yang menyatakan bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Baca Juga:  KDKMP Pangkas Rantai Distribusi, Stabilkan Harga untuk Kesejahteraan Petani Desa

Unggahan tersebut kemudian dihapus. Pernyataan resmi dari Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menyatakan bahwa tidak ada operasi pengawalan semacam itu. Namun, keraguan di pasar tetap tercipta, memicu volatilitas yang berdampak pada nilai dolar.

3. Ekspektasi Inflasi Kembali Jadi Sorotan

Manajer portofolio dari Gabelli Growth Fund, John Belton, menyatakan bahwa fokus jangka panjang investor saat ini adalah dampak berkelanjutan dari harga minyak yang tinggi. Kenaikan harga energi berpotensi memicu ekspektasi inflasi yang lebih luas.

Belton menekankan bahwa jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu narasi disinflasi yang telah berlangsung selama 12 hingga 18 bulan terakhir. Narasi disinflasi sendiri menjadi salah satu alasan utama investor untuk optimistis terhadap pemulihan ekonomi global.

Perbandingan Nilai Tukar Dolar AS terhadap Mata Uang Utama (10 Maret 2026)

Mata Uang Nilai Sebelumnya Nilai Terkini Perubahan (%)
Euro 1,1578 1,1644 +0,57%
Poundsterling 1,3388 1,3460 +0,54%
Yen Jepang 158,33 157,63 -0,44%
Swiss Franc 0,7799 0,7770 -0,37%
Dolar Kanada 1,3591 1,3570 -0,15%
Krona Swedia 9,2100 9,1371 -0,79%

Dampak Jangka Pendek dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Pelemahan dolar tidak serta merta menjadi sinyal buruk. Namun, dalam konteks ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga minyak, investor cenderung lebih selektif dalam mengambil risiko. Ini bisa berdampak pada aliran modal ke aset berisiko, termasuk saham dan mata uang negara berkembang.

Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral global. Jika inflasi kembali naik akibat lonjakan harga energi, bank sentral seperti Federal Reserve bisa mempertimbangkan kembali siklus pengetatan kebijakan moneter.

Penyebab Pelemahan Dolar Secara Mendalam

1. Sentimen Negatif Akibat Ketegangan Timur Tengah

Ketegangan antara AS-Israel dan Iran menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Investor cenderung mencari aset aman saat situasi geopolitik memanas. Ini membuat permintaan terhadap dolar, yang biasanya dianggap sebagai safe haven, justru melemah karena pasar lebih memilih obligasi atau emas.

Baca Juga:  Kendaraan Listrik dan Kompor Hemat Energi Dorong Penurunan Impor BBM hingga 30 Persen di 2025

2. Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak yang fluktuatif berdampak langsung pada ekspektasi inflasi. Jika harga minyak naik, biaya produksi dan transportasi ikut meningkat. Ini bisa mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara umum, memicu inflasi.

Namun, jika harga minyak turun, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, tekanan inflasi bisa berkurang. Ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya bisa melemahkan mata uang.

3. Kebijakan Moneter Global yang Tak Menentu

Kebijakan bank sentral dunia masih dalam tahap transisi. Banyak negara belum sepenuhnya keluar dari siklus pengetatan kebijakan moneter. Ketidakpastian ini membuat investor lebih waspada, dan dolar sebagai mata uang dominan global ikut terpengaruh.

Tips untuk Investor di Tengah Volatilitas Ini

1. Diversifikasi Portofolio

Jangan terlalu fokus pada satu aset atau mata uang. Diversifikasi bisa membantu mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi nilai tukar.

2. Pantau Sentimen Geopolitik

Ketegangan internasional bisa berdampak cepat dan besar pada pasar keuangan. Selalu perbarui informasi dari sumber terpercaya.

3. Waspadai Data Inflasi dan Kebijakan Bank Sentral

Data inflasi dan kebijakan suku bunga memiliki pengaruh langsung terhadap nilai mata uang. Investor perlu memperhatikan rilis data ekonomi secara berkala.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini per Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik, ekonomi, dan kebijakan moneter global.

Ardan Adhi Chandra, Engagement Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis digital expert dalam investigative reporting & viral content.
Jurnalis

Agung Budianto adalah profesional media multitalenta yang saat ini berperan sebagai Engagement Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan kemampuan yang komprehensif dalam jurnalistik digital dan content engagement, Ardan membawa perspektif unik dalam setiap konten yang dihasilkannya.