Harga emas dunia kembali terkoreksi pada Kamis, 12 Maret 2026. Setelah sempat mencatatkan level tertinggi di atas USD5.200 per ons, logam mulia ini kembali turun seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS dan minyak mentah. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah serta penguatan dolar menjadi faktor utama yang menggerogoti minat investor pada emas.
Perdagangan emas di pasar Asia menunjukkan pelemahan, seiring tidak adanya tanda-tanda de-escalation dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran. Situasi ini mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih likuid dan responsif terhadap krisis, seperti mata uang greenback dan energi. Meski demikian, emas tetap berada di level yang relatif tinggi, antara USD5.000 hingga USD5.200 per ons, karena permintaan safe haven masih cukup kuat.
Dinamika Harga Emas Dunia di Tengah Ketegangan Geopolitik
Harga emas tidak pernah lepas dari pengaruh situasi global, terutama saat ketegangan geopolitik meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, emas sempat menunjukkan tren positif karena permintaan investor akan safe haven. Namun, seiring eskalasi konflik dan lonjakan harga minyak, perhatian pasar justru tertuju pada dua komoditas lain: dolar dan energi.
1. Penurunan Harga Emas Spot dan Berjangka
Harga emas spot tercatat turun 0,4 persen menjadi USD5.154,46 per ons. Sementara harga emas berjangka juga mengalami penurunan serupa, yakni 0,4 persen, hingga mencapai USD5.159,40 per ons. Penurunan ini terjadi meskipun emas sempat mencatat rekor tertinggi pada hari sebelumnya.
2. Lonjakan Harga Minyak sebagai Pemicu Sentimen Negatif
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis dini hari. Lonjakan ini dipicu oleh laporan bahwa dua kapal tanker minyak internasional ditabrak di dekat perairan Irak. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi global, yang berpotensi mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara agresif.
3. Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian
Kekhawatiran terhadap inflasi dan risiko geopolitik mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven alternatif. Penguatan dolar secara langsung berdampak pada harga emas, karena emas biasanya diperdagangkan dalam dolar. Semakin kuat dolar, semakin mahal emas bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Dampak Inflasi dan Kebijakan Moneter terhadap Emas
Inflasi tetap menjadi perhatian utama pasar keuangan global. Meskipun data indeks harga konsumen AS yang dirilis beberapa waktu lalu sesuai ekspektasi, lonjakan harga energi tetap memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi di masa depan. Ini membuat investor lebih waspada terhadap aset yang tidak memberikan yield tetap seperti emas.
1. Data Inflasi AS dan Ekspektasi Pasar
Data inflasi terbaru menunjukkan bahwa tekanan harga masih terkendali. Namun, lonjakan harga minyak berpotensi mengubah situasi ini dalam beberapa bulan ke depan. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan bank sentral akan mengambil langkah tegas, termasuk menaikkan suku bunga, yang bisa memperlemah permintaan terhadap emas.
2. Emas vs Instrumen Investasi Lainnya
Dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung memilih aset yang paling responsif terhadap situasi darurat. Dolar dan minyak menjadi pilihan utama karena keduanya langsung terpengaruh dan memberikan respons cepat terhadap gejolak geopolitik. Emas, meskipun tetap diminati, menjadi kurang menarik karena tidak memberikan return langsung.
Perbandingan Kinerja Logam Mulia pada Kamis, 12 Maret 2026
| Logam Mulia | Harga Sebelumnya (USD/ons) | Harga Sekarang (USD/ons) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | 5.175,17 | 5.154,46 | -0,40% |
| Perak Spot | 85,7350 | 85,5635 | -0,20% |
| Platinum | 2.169,43 | 2.167,26 | -0,10% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh logam mulia mengalami koreksi pada Kamis. Emas mengalami penurunan terbesar di antara ketiganya, menandakan bahwa investor lebih memilih aset lain yang lebih responsif terhadap situasi geopolitik.
Sentimen Pasar dan Perkiraan Jangka Pendek
Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Pernyataan dari Presiden AS Donald Trump dan pejabat pemerintah lainnya yang menyatakan bahwa konflik akan segera berakhir, belum banyak membantu. Ketegangan masih berlanjut, dan investor tetap waspada.
1. Pergerakan Harga Emas dalam Seminggu Terakhir
Dalam seminggu terakhir, harga emas bergerak dalam kisaran USD5.000 hingga USD5.200 per ons. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi pilihan investor saat ketidakpastian tinggi, meskipun tidak sekuat dolar atau minyak dalam menarik aliran dana.
2. Potensi Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya
Jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, harga minyak berpotensi naik lebih lanjut. Ini akan memperkuat tekanan inflasi dan memaksa bank sentral untuk mengambil langkah antisipatif. Dalam skenario seperti ini, emas bisa kembali menarik minat investor sebagai hedge terhadap risiko ekonomi.
Kesimpulan
Harga emas dunia kembali tertekan di tengah penguatan dolar dan lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik. Meskipun emas tetap berada di level tinggi, permintaan terhadap aset lain yang lebih responsif terhadap krisis membuat logam mulia ini kehilangan pamor sementara waktu. Investor kini lebih memilih dolar dan energi sebagai safe haven alternatif.
Disclaimer: Data harga emas dan komoditas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi global. Informasi dalam artikel ini hanya untuk referensi dan bukan sebagai saran investasi.
Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.