Beranda » Nasional » Indeks Harga Saham Gabungan Mengalami Penurunan 27 Poin Sepanjang Sesi Perdagangan Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan Mengalami Penurunan 27 Poin Sepanjang Sesi Perdagangan Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup di zona merah pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif, sempat menguat di tengah hari sebelum akhirnya melemah menjelang penutupan pasar.

Secara teknis, IHSG tercatat turun 27,282 poin atau sekitar 0,37 persen ke level 7.362,117. Pagi tadi, indeks sempat dibuka di level 7.398,853, lalu bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi 7.436 sebelum akhirnya terperosok ke level terendah 7.323.

Volume Perdagangan dan Sentimen Pasar

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) cukup ramai. Total volume perdagangan mencapai 26,699 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,160 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat di angka Rp13.150,109 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.606.533 kali.

Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 211 saham yang bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 461 saham mengalami penurunan harga, dan 149 saham lainnya stagnan atau tidak bergerak.

Prediksi Teknis IHSG ke Depan

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan koreksi pada sesi berikutnya. Menurutnya, level support IHSG berada di kisaran 7.180 hingga 7.300, sementara resistensi berada di 7.450 hingga 7.500.

Fanny menilai bahwa sentimen pasar saat ini masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama dari pergerakan indeks global dan arus modal asing. Investor pun cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Koreksi Terus Menerus, Apa Penyebabnya?

  1. Sentimen Global yang Tidak Stabil
    Perang di Timur Tengah dan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah. Ini berdampak pada performa pasar saham global, termasuk pasar saham Indonesia.

  2. Net Sell Asing yang Masih Tinggi
    Pada perdagangan sebelumnya, yaitu Rabu (11/3), investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp730 miliar. Saham-saham seperti BBCA, BUMI, BBRI, DEWA, dan TINS menjadi sorotan karena menjadi target utama penjualan asing.

  3. Koreksi Teknis Pasar
    Setelah beberapa pekan mengalami penguatan, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi. Ini adalah hal yang wajar dalam siklus pasar, terutama ketika indeks telah mencapai level resistance.

Baca Juga:  Panduan Praktis Beli Saham BBRI Online Hanya dalam 5 Langkah Mudah dan Aman

Pergerakan Indeks Saham Global

Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh sentimen dari bursa saham global. Pada penutupan Rabu (11/3), sebagian besar indeks saham di Amerika Serikat bergerak negatif.

Indeks Perubahan (%)
Dow Jones Industrial Average -0,61%
S&P 500 -0,08%
Nasdaq Composite +0,08%

Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan indeks juga bervariasi. Investor masih menunggu perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang dapat memengaruhi harga komoditas dan arus investasi global.

Indeks Negara Perubahan (%)
S&P/ASX 200 Australia +0,59%
Nikkei 225 Jepang +1,43%
Topix Jepang +0,94%
Kospi Korea Selatan +1,40%
Kosdaq Korea Selatan -0,07%
Hang Seng Hong Kong -0,24%
Taiex Taiwan +4,10%

Saham-Saham yang Paling Banyak Dijual Asing

Pada perdagangan Rabu (11/3), investor asing kembali melakukan penjualan bersih (net sell) terhadap beberapa saham blue-chip. Saham-saham berikut menjadi perhatian karena menjadi target utama net sell asing.

  1. BBCA (Bank Central Asia)
    Saham ini tetap menjadi incaran investor asing meskipun telah menunjukkan performa yang kuat dalam beberapa bulan terakhir.

  2. BUMI (Bumi Resources)
    Saham pertambangan ini mengalami tekanan jual yang signifikan, seiring dengan ketidakpastian harga komoditas global.

  3. BBRI (Bank Rakyat Indonesia)
    Sebagai salah satu bank pelat merah, BBRI tetap menjadi pilihan investasi yang menarik, namun masih menghadapi tekanan dari investor asing.

  4. DEWA (Darma Henwa)
    Saham sektor pertambangan ini juga masuk dalam daftar net sell asing, seiring dengan koreksi di sektor energi.

  5. TINS (Timah Tbk)
    Harga logam timah yang fluktuatif membuat investor asing lebih berhati-hati dalam memegang saham ini.

Baca Juga:  Gencatan Senjata antara Amerika Serikat dan Iran Memicu Lonjakan Indeks Saham Dunia dalam Hitungan Jam

Strategi Investasi di Tengah Fluktuasi IHSG

  1. Fokus pada Saham Defensive
    Di tengah ketidakpastian pasar, saham-saham yang bersifat defensif seperti konsumsi, kesehatan, dan properti bisa menjadi pilihan yang lebih aman.

  2. Gunakan Analisis Teknikal
    Investor disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance IHSG. Saat ini, support berada di 7.180–7.300 dan resistance di 7.450–7.500.

  3. Hindari Overtrading
    Fluktuasi yang tinggi bisa memicu keputusan investasi emosional. Penting untuk tetap tenang dan tidak terlalu sering membeli atau menjual saham dalam waktu singkat.

  4. Pantau Arus Modal Asing
    Data net sell dan net buy asing bisa menjadi indikator awal pergerakan IHSG ke depannya. Investor yang cermat akan selalu memperhatikan data ini secara rutin.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar. Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh berbagai faktor makro dan mikro yang tidak selalu dapat diprediksi secara akurat. Investasi saham mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal.

Eva Agustin
Jurnalis

Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.