Beranda » Nasional » Lonjakan Harga Minyak Dunia Capai 15 Persen Setelah Selat Hormuz Ditutup Iran Mendadak

Lonjakan Harga Minyak Dunia Capai 15 Persen Setelah Selat Hormuz Ditutup Iran Mendadak

Harga minyak dunia melonjak hingga menyentuh level kritis pada pertengahan Maret 2026. Brent sempat menyasar angka USD100 per barel, memicu gejolak besar di pasar energi global. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Iran, di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei, mengumumkan penutupan permanen Selat Hormuz.

Langkah keras Iran itu menjadi respons terhadap serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut telah berlangsung selama lebih dari satu minggu dan berdampak luas, bukan hanya pada wilayah Iran, tetapi juga pada jalur perdagangan energi global yang sangat vital.

Lonjakan Harga Minyak Global

Harga minyak Brent berjangka mencatat kenaikan hampir delapan persen, mencapai USD99,34 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI), benchmark minyak AS, melonjak 8,6 persen menjadi USD94,77 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah harga sempat menyentuh puncak di USD101,57 per barel.

  1. Kenaikan harga minyak Brent

    • Mencapai hingga USD101,57 per barel
    • Naik delapan persen dalam satu hari
  2. Harga WTI AS

    • Naik 8,6 persen
    • Mencapai USD94,77 per barel

Lonjakan ini menunjukkan adanya premi risiko geopolitik yang tinggi di pasar energi. Investor dan pelaku pasar langsung merespons ketidakpastian yang muncul akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lalu lintas minyak terbesar di dunia.

Serangan Terhadap Kapal Tanker dan Penutupan Terminal Minyak

Keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia kembali menjadi sorotan. Dua kapal tanker minyak dilaporkan diserang di dekat perairan Irak dan Kuwait. Rekaman video yang beredar menunjukkan salah satu kapal dilalap api, dengan korban jiwa dilaporkan terjadi.

Farhan al-Fartousi, direktur Perusahaan Umum Pelabuhan Irak, mengonfirmasi bahwa satu pelaut tewas dan tim penyelamat sedang berupaya mengevakuasi kru dari kapal yang masih terbakar. Irak pun mengambil langkah darurat dengan menutup seluruh pelabuhan minyaknya.

  • Serangan terhadap kapal tanker

    • Dua kapal diserang di dekat Irak dan Kuwait
    • Salah satu kapal terbakar parah
    • Satu korban jiwa dilaporkan
  • Penutupan pelabuhan dan terminal minyak

    • Irak menutup semua pelabuhan minyak
    • Oman dan Irak menutup terminal minyak
    • Dubai melaporkan kapal ketiga terkena proyektil tak dikenal
Baca Juga:  Harga BBM Terkini di Pertamina Shell Vivo dan BP Menjadi Sorotan Utama di Pasar Ekonomi Indonesia

Tak hanya itu, China juga ikut merespons dengan menerapkan larangan ekspor bahan bakar olahan selama bulan Maret 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan domestik tetap aman meski terjadi gangguan global.

Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya

Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi perdagangan energi global. Sekitar 20 juta barel minyak dan gas alam cair melewati selat ini setiap hari. Penutupan permanen yang diumumkan oleh Iran langsung memicu kepanikan di pasar.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat aliran minyak melalui Selat Hormuz kini menyusut drastis. Dari sebelumnya mencapai 20 juta barel per hari, kini aliran tersebut nyaris terhenti.

  1. Volume aliran minyak sebelum konflik

    • Sekitar 20 juta barel per hari
  2. Volume aliran setelah penutupan

    • Menyusut menjadi sangat sedikit
    • Produksi minyak di kawasan Teluk harus dipangkas minimal 10 juta barel per hari

Negara-negara penghasil minyak di kawasan terpaksa mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan yang terbatas. IEA memperingatkan bahwa tanpa pemulihan cepat, kerugian pasokan akan terus meningkat.

Intervensi Cadangan Minyak Strategis

Untuk meredam gejolak pasar, IEA mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah rekor. Totalnya mencapai 400 juta barel, salah satu rilis terbesar dalam sejarah.

AS juga ikut bergerak cepat. Presiden Donald Trump mengumumkan pelepasan tambahan 172 juta barel dari cadangan minyak darurat negara tersebut. Meski begitu, efeknya terhadap harga masih terbatas karena permintaan global tetap tinggi dan pasokan terus terganggu.

  • Cadangan yang dilepaskan
    • IEA: 400 juta barel
    • AS: 172 juta barel tambahan

Namun, data persediaan minyak AS yang dirilis pada Rabu (11/3/2026) menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari estimasi, yaitu 3,8 juta barel. Meski demikian, hal ini belum cukup untuk mengimbangi gangguan besar di kawasan Timur Tengah.

Dampak pada Ekonomi Global

Lonjakan harga energi berdampak pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk di AS. Namun, menurut laporan Wells Fargo, ekonomi AS saat ini jauh lebih tahan terhadap kenaikan harga energi dibandingkan era 1980-an.

Baca Juga:  THR PNS 2026 Cair Sebagian, Harga Emas Antam Turun Rp21 Ribu Jadi Sorotan Publik

Dulu, lonjakan harga minyak bisa langsung memicu resesi. Kini, efisiensi energi yang lebih baik dan transisi dari pengimpor menjadi pengekspor energi membuat dampaknya lebih terbatas.

  1. Efek lonjakan harga minyak terhadap konsumsi

    • Kenaikan 50 persen → penurunan 1 poin persentase pada pertumbuhan PCE
    • Di tahun 1980-an, efeknya bisa dua kali lipat
  2. Faktor yang mengurangi dampak

    • Peningkatan efisiensi energi
    • Jejak energi yang lebih kecil
    • AS kini menjadi pengekspor energi bersih

Tom Porcelli dari Wells Fargo menjelaskan bahwa perubahan struktural ini telah mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap fluktuasi harga energi. Meski begitu, lonjakan harga tetap berpotensi memperlambat pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Proyeksi Pasar Minyak Global

Pasokan minyak global diperkirakan turun hingga 8 juta barel per hari pada Maret 2026. Penurunan ini sebagian besar terjadi di kawasan Timur Tengah, dan belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC+ seperti Rusia dan Kazakhstan.

Negara/Region Produksi Minyak (juta barel/hari)
Timur Tengah -5,0
Rusia +1,5
Kazakhstan +0,8
Non-OPEC+ +2,3 (total)
Total -8,0

Dari tabel di atas terlihat bahwa peningkatan produksi dari luar OPEC+ belum cukup untuk menutup defisit pasokan akibat gangguan di kawasan Teluk.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak pada Maret 2026 mencerminkan betapa rapuhnya pasar energi global menghadapi ketegangan geopolitik. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, serangan terhadap kapal tanker, dan gangguan pasokan dari negara-negara penghasil utama telah menciptakan krisis pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Meski ada intervensi dari IEA dan AS, pasar masih belum stabil. Dampaknya tidak hanya terbatas pada harga minyak, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi global dan pola konsumsi masyarakat.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar minyak dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan pemerintah negara-negara produsen serta konsumen energi utama. Informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026.

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.