Beranda » Nasional » Harga Minyak Brent Tembus USD103,69 per Barel, WTI Capai USD99,31 per Barel pada Perdagangan Terkini

Harga Minyak Brent Tembus USD103,69 per Barel, WTI Capai USD99,31 per Barel pada Perdagangan Terkini

Harga minyak dunia kembali menggelegar jelang akhir pekan. Brent mencatatkan penutupan di level USD103,69 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di USD99,31 per barel. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya akibat konflik yang melibatkan Iran. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz dan ancaman gangguan pasokan global menjadi pemicu utama volatilitas pasar energi.

Kenaikan harga minyak ini bukan fenomena mendadak. Sejak konflik Iran meledak akhir Februari 2026, Brent telah melonjak hampir 43,1 persen, sedangkan WTI mencatatkan kenaikan lebih tajam, yakni 48,2 persen dalam dua minggu terakhir. Pasar minyak saat ini sedang menghadapi salah satu periode paling tidak stabil sejak era krisis minyak 1970-an.

Dinamika Pasar Minyak Global di Tengah Ketegangan Iran

Lonjakan harga minyak tidak terlepas dari situasi geopolitik yang semakin memanas. Iran, sebagai salah satu produsen minyak besar dunia, menjadi pusat perhatian investor global. Ancaman penutupan permanen Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen minyak global, memicu lonjakan permintaan akan aset energi.

1. Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

Selat Hormuz merupakan jalur penghubung antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah per hari melewati selat ini. Ketika Iran mengancam akan menutup selat tersebut sebagai respons terhadap serangan Israel dan AS, pasar langsung bereaksi. Investor khawatir akan terjadinya pemutusan pasokan jangka panjang, yang bisa memicu krisis energi global.

2. AS Cabut Sebagian Sanksi Minyak Rusia

Langkah tak terduga datang dari pemerintah AS. Departemen Keuangan mengumumkan pengecualian untuk pembelian minyak Rusia yang sedang dalam perjalanan laut. Langkah ini diambil untuk mengurangi tekanan pada harga minyak global. India, sebagai salah satu pembeli terbesar minyak Rusia, juga mendapat lampu hijau untuk melanjutkan impor meski di bawah sanksi internasional.

3. Pelepasan Cadangan Minyak Strategis oleh IEA

Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah, mencapai 400 juta barel. Meski begitu, dampaknya terhadap harga minyak terbatas. Pasar tetap meragukan apakah cadangan tersebut cukup untuk mengimbangi potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Baca Juga:  Persiapkan Mutasi ke Kemenhaj dengan Syarat dan Jadwal Seleksi PNS 2026 yang Perlu Diketahui

Fluktuasi Harga Minyak: Naik-Turun yang Tak Terduga

Harga minyak dalam beberapa pekan terakhir bergerak sangat ekstrem. Pada titik tertentu, Brent menyentuh level hampir USD120 per barel, namun kemudian turun drastis ke bawah USD90. Volatilitas ini mencerminkan ketidakpastian yang tinggi di tengah ketegangan geopolitik dan kebijakan mitigasi yang belum sepenuhnya efektif.

4. Reaksi Pasar terhadap Kebijakan AS

Langkah AS untuk mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia dan mengizinkan pembelian minyak yang sedang dalam perjalanan laut memberikan sedikit tekanan pada harga. Namun, pasar tetap waspada. Investor menunggu apakah langkah-langkah ini cukup untuk menjaga stabilitas jangka pendek.

5. Peran Jalur Pipa Alternatif

Negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menggunakan jalur pipa alternatif untuk mengekspor minyak, menghindari Selat Hormuz. Ini menjadi faktor penyeimbang, meski kapasitasnya terbatas. Jalur pipa tidak mampu menggantikan volume besar yang biasanya melewati selat tersebut.

6. Spekulasi Investor dan Prediksi Harga

Investor saat ini memperkirakan peluang 1 banding 5 bahwa harga Brent akan tetap berada di atas USD100 per barel dalam tiga bulan ke depan. Angka ini menunjukkan bahwa optimisme pasar masih terbatas. Banyak pihak menilai bahwa ketegangan di Timur Tengah belum mereda, sehingga volatilitas akan terus terjadi.

Proyeksi Jangka Panjang: Apakah Harga Minyak Akan Terus Naik?

Analisis dari berbagai lembaga keuangan menunjukkan bahwa harga minyak berpotensi terus naik jika konflik berlarut-larut. JPMorgan memperkirakan bahwa agar mencapai level guncangan pasokan yang serupa dengan invasi Rusia ke Ukraina, harga minyak Brent harus mencapai USD125 hingga USD150 per barel dan bertahan pada level tersebut selama beberapa bulan.

Baca Juga:  Wall Street Mixed, Hanya Nasdaq yang Menguntungkan di Tengah Ketidakpastian Pasar

7. Dampak terhadap Inflasi Global

Kenaikan harga minyak berpotensi memicu gelombang inflasi energi yang menyebar ke sektor lain. Bank sentral di seluruh dunia, termasuk Federal Reserve dan ECB, mungkin terpaksa mengambil langkah agresif untuk mengendalikan tekanan harga. Ini bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.

8. Peran Militer AS di Selat Hormuz

AS telah mengumumkan rencana untuk mengerahkan Angkatan Laut demi menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, hingga kini, belum ada penjelasan detail mengenai operasionalnya. Ketidakpastian ini menambah tekanan pada pasar minyak.

Tabel Perbandingan Kenaikan Harga Minyak (Februari–Maret 2026)

Komoditas Harga Awal (Februari 2026) Harga Akhir (Maret 2026) Kenaikan (%)
Brent USD72,15 per barel USD103,69 per barel 43,1%
WTI USD67,20 per barel USD99,31 per barel 48,2%

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan pasar dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Kesimpulan: Minyak di Ambang Krisis Struktural?

Harga minyak saat ini bukan hanya dipengaruhi oleh faktor penawaran dan permintaan. Geopolitik, kebijakan energi global, dan ancaman gangguan pasokan jangka panjang telah mengubah dinamika pasar secara mendasar. Lonjakan harga ke level USD100-an per barel adalah awal dari fase baru di mana volatilitas menjadi norma.

Investor dan produsen energi kini harus siap menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi. Jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi lagi, membuka kemungkinan terjadinya krisis energi global yang lebih luas.

Disclaimer: Data harga minyak dan informasi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan energi global.

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.