Beranda » Nasional » Harga Minyak Brent Turun Namun Tetap Melebihi USD100 Per Barel Meski Mengalami Penurunan Tajam

Harga Minyak Brent Turun Namun Tetap Melebihi USD100 Per Barel Meski Mengalami Penurunan Tajam

Harga minyak dunia sempat tergelincir pada awal pekan ini meski masih berada di level tinggi. Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, berada di atas USD100 per barel meski mengalami sedikit penurunan. Dinamika ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah serta respons cepat dari berbagai aktor global.

Lonjakan harga minyak sebelumnya mencatat level tertinggi sejak 2022. Kenaikan itu dipicu oleh serangan militer yang melibatkan Israel dan Iran, yang kemudian memicu gangguan signifikan di jalur strategis pengiriman energi global. Pasar minyak pun langsung merespons sensitif karena kawasan tersebut menyumbang sebagian besar pasokan minyak dunia.

Geopolitik dan Volatilitas Harga Minyak

Ketegangan di Teluk Persia bukan hal baru, tapi kali ini dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Serangan terhadap infrastruktur minyak di Iran dan balasan dari Teheran ke fasilitas di Uni Emirat Arab memicu lonjakan harga minyak hingga lebih dari 40 persen hanya dalam satu bulan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengambil sikap tegas dengan mengancam serangan lanjutan ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Ancaman ini datang seusai serangan sebelumnya yang direspons keras oleh Tehran. Situasi ini semakin memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas energi global di tengah ketidakpastian politik.

1. Serangan ke Infrastruktur Minyak Iran

Iran, sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia, memiliki kapasitas besar dalam rantai pasok energi global. Serangan terhadap Pulau Kharg yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran memberi dampak langsung pada aliran minyak ke pasar internasional.

2. Respons Drone ke Terminal Minyak UAE

Tak lama setelah serangan ke Kharg, drone Iran menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab. Terminal ini menjadi jalur alternatif bagi minyak yang biasanya dikirim lewat Selat Hormuz. Meski operasional sudah dilanjutkan, efek psikologis dari serangan ini cukup besar bagi investor dan pelaku pasar.

Baca Juga:  Kementerian Pertanian Genjot Rehabilitasi Lahan Pasca Bencana, 2.020 Hektare Sawah di Sumatera Barat Kembali Dipulihkan untuk Tanam Padi

3. Gangguan Pasokan Global

Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan di area ini otomatis memicu krisis pasok, terlebih jika berlangsung dalam waktu lama. Ini menjelaskan mengapa harga minyak langsung melesat naik begitu ketegangan meningkat.

Data Harga Minyak Terkini

Pergerakan harga minyak akhir pekan hingga awal Maret 2026 menunjukkan volatilitas yang tinggi. Berikut rinciannya:

Jenis Minyak Harga Sebelumnya (USD/Barel) Harga Saat Ini (USD/Barel) Perubahan (%)
Brent 105,58 102,90 -0,23%
WTI 98,71 97,64 -1,08%

Meski turun, harga Brent masih berada di atas USD100 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding level normal sebelum ketegangan Timur Tengah memanas. Sementara WTI, yang biasanya lebih murah daripada Brent, juga tetap berada di kisaran USD97.

Upaya Stabilisasi Pasar Minyak

Di tengah gejolak ini, berbagai langkah diambil untuk menstabilkan pasar. Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan rencana pelepasan cadangan minyak darurat yang akan mencapai lebih dari 400 juta barel. Ini merupakan penarikan cadangan terbesar dalam sejarah.

1. Pelepasan Cadangan Strategis

Negara-negara anggota IEA dari Asia dan Oseania akan melepaskan cadangan mereka lebih dulu. Sementara cadangan dari Eropa dan Amerika Serikat direncanakan akan tersedia menjelang akhir Maret 2026. Tujuannya jelas: menekan harga minyak yang terus naik dan mengurangi tekanan inflasi global.

2. Prediksi Pemulihan Pasokan

Chris Wright, Menteri Energi AS, optimistis bahwa konflik dengan Iran akan selesai dalam beberapa minggu mendatang. Ia memperkirakan pasokan minyak akan pulih dan harga akan kembali turun setelah situasi stabil.

Baca Juga:  KAI Logistik dan Bogantara Kolaborasi Tangani Pengiriman Hewan Ternak untuk Mendukung Bisnis Peternakan Sampai ke Pasar Nasional dengan Layanan Terintegrasi 2025

3. Diskusi Diplomatik

AS juga menjalin komunikasi dengan Iran, meski Presiden Trump menyatakan skeptis terhadap niat Teheran untuk bernegosiasi secara serius. Diplomasi tetap menjadi opsi, namun ketegangan militer terus mengganjal.

Dampak Ekonomi Global

Lonjakan harga minyak berdampak luas pada perekonomian global. Negara pengimpor minyak rentan terhadap kenaikan biaya energi. Di sisi lain, negara eksportir bisa mendapat keuntungan jangka pendek, meski risiko eskalasi konflik bisa menggerogoti manfaat tersebut.

Inflasi energi juga ikut terdorong naik, yang bisa memicu kebijakan bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Hal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global, terutama di negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi.

Proyeksi ke Depan

Para analis percaya bahwa harga minyak akan tetap fluktuatif selama ketegangan di Timur Tengah belum reda. Namun, jika diplomasi berhasil meredam eskalasi, harga bisa kembali turun menjelang pertengahan tahun.

Badan-badan energi internasional terus memonitor perkembangan dan siap mengambil langkah darurat jika diperlukan. Namun, semua tetap bergantung pada dinamika politik dan militer di kawasan yang rentan ini.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar minyak dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan pemerintah negara produsen maupun konsumen energi. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berbeda dengan kondisi aktual di lapangan.

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.