Beranda » Nasional » Menkeu Purbaya Yakin IHSG Capai Level 10.000 pada Kuartal Akhir 2026 Mendatang

Menkeu Purbaya Yakin IHSG Capai Level 10.000 pada Kuartal Akhir 2026 Mendatang

Menko Perekonomian RI, Purbaya Kartaatmadja, menyampaikan optimisme terhadap perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia memprediksi bahwa IHSG akan mampu menembus level 10.000 pada akhir tahun 2026.

Optimisme ini didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi makro yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Termasuk di dalamnya stabilitas nilai tukar rupiah, laju inflasi yang terkendali, serta peningkatan investasi asing di pasar modal domestik.

Potensi Kenaikan IHSG Dipicu oleh Stabilitas Makro

Kondisi ekonomi global dan regional juga turut mendukung prospek pasar modal Indonesia ke depan. Terlebih lagi, kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten memberikan kontribusi besar terhadap kepercayaan investor.

Investor lokal maupun mancanegara mulai kembali tertarik memasukkan dananya ke pasar saham Indonesia. Apalagi, BEI terus melakukan inovasi untuk meningkatkan likuiditas dan transparansi informasi.

1. Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Rupiah yang stabil menjadi salah satu faktor penting dalam menarik minat investor. Pada 2026, Bank Indonesia berhasil menjaga rupiah tetap berada di kisaran Rp15.500 hingga Rp15.800 per dolar AS.

Stabilitas ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap ekosistem ekonomi nasional. Selain itu, BI juga aktif melakukan intervensi jika dibutuhkan untuk menjaga fluktuasi tetap wajar.

2. Inflasi Terkendali di Bawah Target

Inflasi tahunan pada akhir 2026 hanya mencatatkan angka 2,7%, berada di bawah target pemerintah yaitu 3%. Angka ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik.

Bank Indonesia pun memiliki ruang gerak untuk menjaga suku bunga acuan tetap rendah. Hal ini membantu mendorong investasi dan konsumsi masyarakat.

3. Reformasi Regulasi Pasar Modal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI terus memperbaiki regulasi agar lebih ramah bagi investor. Salah satunya adalah percepatan proses listing perusahaan baru, termasuk startup teknologi.

Perubahan ini membuat lebih banyak emiten berkualitas masuk ke pasar modal. Dengan begitu, investor memiliki lebih banyak pilihan instrumen investasi yang potensial.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Turun Tipis Imbas Ketegangan Geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang Meningkat

Faktor Pendukung Lain Menuju Level 10.000

Selain stabilitas makro, ada beberapa elemen lain yang turut mendorong optimisme capaian IHSG di level psikologis 10.000.

Salah satunya adalah peningkatan partisipasi investor ritel. Semakin banyak masyarakat yang mulai sadar pentingnya investasi saham sebagai bagian dari literasi keuangan.

4. Peningkatan Literasi Investasi Digital

Platform edukasi investasi online semakin marak dan mudah diakses. Banyak aplikasi yang menawarkan simulasi trading gratis dan materi edukatif untuk pemula.

Hal ini membuat investor baru lebih percaya diri memasuki pasar saham. Seiring waktu, mereka berpotensi menjadi investor jangka panjang yang loyal.

5. Dividen Emiten yang Kompetitif

Sejumlah perusahaan go public menawarkan dividen yang menarik. Rata-rata yield dividen emiten BEI mencapai 3,5% pada akhir 2026.

Investor pun semakin termotivasi untuk menahan sahamnya daripada menjualnya secara prematur. Ini membantu menjaga stabilitas harga saham secara keseluruhan.

Emiten Sektor Yield Dividen (%)
BBCA Perbankan 4,2%
TLKM Telekomunikasi 3,8%
UNVR Konsumer 3,6%
BBRI Perbankan 4,0%
ASII Otomotif 3,3%

Tantangan yang Masih Perlu Diwaspadai

Meski optimistis, bukan berarti IHSG bebas dari risiko. Ada beberapa tantangan yang harus terus diantisipasi agar proyeksi tersebut bisa tercapai.

Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik global. Konflik di berbagai belahan dunia bisa berdampak pada sentimen pasar secara luas.

6. Risiko Global yang Tetap Mengintai

Lonjakan suku bunga bank sentral negara maju, misalnya The Fed, bisa memicu capital outflow dari pasar berkembang seperti Indonesia.

Namun, BI dan OJK telah menyiapkan langkah antisipasi. Termasuk peningkatan cadangan devisa dan skema swap valuta asing.

7. Volatilitas Harga Komoditas Energi

Harga minyak mentah dunia yang naik drastis bisa memicu tekanan pada defisit neraca perdagangan. Padahal, Indonesia masih menjadi net importer minyak.

Langkah diversifikasi energi dan peningkatan produksi energi terbarukan menjadi solusi jangka menengah.

Baca Juga:  Indeks Harga Saham Gabungan Diperkirakan Naik Setelah Penutupan Pasar Saat Libur Lebaran 2024

Strategi Jangka Panjang Menuju Target 10.000

Capaiannya tidak akan terjadi dalam semalam. Dibutuhkan strategi jangka panjang yang melibatkan sinergi berbagai pihak, baik pemerintah, regulator, maupun pelaku pasar.

Langkah-langkah konkret terus digaungkan untuk memastikan bahwa IHSG tidak hanya menyentuh level 10.000, tapi juga bisa bertahan di atasnya.

8. Pengembangan Produk Investasi Alternatif

Produk reksa dana saham syariah dan ETF (exchange traded fund) terus dikembangkan. Ini memberi alternatif bagi investor yang ingin diversifikasi risiko.

Produk-produk ini juga dirancang untuk menarik investor institusional, baik lokal maupun asing.

9. Penguatan Infrastruktur Teknologi BEI

Infrastruktur pasar modal terus dimodernisasi. Termasuk sistem perdagangan berbasis cloud dan integrasi big data untuk analisis sentimen pasar real time.

Dengan infrastruktur yang kuat, transaksi bisa berjalan lebih cepat dan aman, serta menarik lebih banyak investor fintech.

10. Kolaborasi Antar Bursa Regional

BEI juga menjalin kerja sama dengan bursa-bursa di Asia Tenggara. Tujuannya untuk meningkatkan cross-listing dan mempermudah akses investor lintas negara.

Ini bisa membuka peluang arus investasi baru yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Proyeksi Capaian IHSG di Akhir 2026

Berdasarkan simulasi makroekonomi dan tren historis IHSG, kemungkinan besar indeks ini akan mencapai level 10.000 pada kuartal IV 2026.

Namun, capaian tersebut bukanlah angka ajaib. Ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga stabilitas pasar.

Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi saat publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika ekonomi global dan lokal.

Rosatyani Puspita
Jurnalis

Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.