Beranda » Nasional » Indeks Saham Wall Street Anjlok 2,5% dalam Perdagangan Hari Ini Menyusul Data Inflasi Yang Melesat

Indeks Saham Wall Street Anjlok 2,5% dalam Perdagangan Hari Ini Menyusul Data Inflasi Yang Melesat

Wall Street kembali terperosok pada Kamis, 19 Maret 2026, meski penutupan indeks terjadi jauh dari titik terendah harian. Pergerakan pasar sempat membaik di sesi sore menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyatakan Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium setelah serangan militer selama hampir tiga minggu oleh pasukan AS dan Israel. Meski begitu, optimisme tak bertahan lama.

Sentimen pasar sebelumnya sempat tertekan akibat lonjakan harga minyak dan data perumahan AS yang melemah. Investor juga masih mencerna sejumlah keputusan bank sentral global yang memilih untuk mempertahankan suku bunga utama, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE).

Pergerakan Indeks Saham Wall Street

Indeks acuan S&P 500 tercatat turun 0,2 persen ke level 6.608,55 poin, setelah sebelumnya sempat anjlok hingga satu persen. Indeks teknologi NASDAQ Composite juga terkoreksi 0,3 persen ke posisi 22.090,69 poin, memangkas kerugian yang sempat mencapai 1,4 persen. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,4 persen menjadi 46.022,14 poin, mengurangi penurunan dari 0,9 persen.

Pernyataan Netanyahu memicu rebound sesaat di pasar saham, terutama S&P 500 dan NASDAQ. Namun, kenaikan tersebut tak bertahan lama dan indeks kembali terperosok menjelang penutupan pasar.

Faktor Pemicu Volatilitas Pasar

1. Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran memicu respons keras dari Teheran yang menargetkan fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi. Ketegangan ini dikhawatirkan akan memicu konflik regional yang lebih luas, memperparah situasi ketidakstabilan global.

2. Lonjakan Harga Minyak Mentah

Harga minyak Brent berjangka naik tajam akibat spekulasi bahwa AS akan menerapkan kontrol ekspor energi. Meski kemudian diberitakan tidak akan ada kontrol tersebut, selisih harga antara minyak mentah WTI dan Brent sempat melebar ke level tertinggi dalam 11 tahun.

Baca Juga:  Wall Street Anjlok Parah, Rekor Pekan Kelam Terburuk Sepanjang Oktober 2025 Hingga Kini

3. Gangguan Infrastruktur Energi Global

CEO QatarEnergy mengungkapkan bahwa serangan Iran menyebabkan 17 persen kapasitas LNG Qatar tidak beroperasi hingga lima tahun ke depan. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa infrastruktur energi global akan terus menjadi target, memperparah krisis energi global.

Kebijakan Bank Sentral Dunia

1. Bank Sentral Pilih Tahan Suku Bunga

Bank of Canada dan Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada Rabu, diikuti oleh Bank of England dan ECB yang melakukan hal serupa pada Kamis. Ketiga bank sentral tersebut juga menaikkan proyeksi inflasi tahun ini sebagai dampak dari lonjakan harga energi.

2. Mode Tunggu dan Amati

Bank sentral menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah masih berkembang dan dampak penuhnya belum dapat diprediksi. Mereka sepakat untuk tetap dalam sikap waspada dan siap mengambil langkah jika diperlukan.

3. Proyeksi Penurunan Suku Bunga Masih Ada

Grafik proyeksi suku bunga dari The Fed menunjukkan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga masih terbuka di akhir tahun ini, meski peluangnya semakin menipis akibat ketidakpastian global.

Data Ekonomi AS yang Mempengaruhi Pasar

1. Klaim Pengangguran Turun

Jumlah klaim pengangguran awal di AS turun menjadi 205 ribu dalam seminggu terakhir, lebih rendah dari estimasi pasar. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih relatif stabil meski di tengah ketegangan global.

2. Penjualan Rumah Baru Anjlok

Data lain yang dirilis menunjukkan bahwa penjualan rumah baru di AS anjlok 17,6 persen secara bulanan menjadi 587 ribu unit pada Januari 2026. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2022.

Baca Juga:  Indonesia dan Filipina Resmi Menandatangani Perjanjian Barter untuk Serat Abaka serta Bijih Besi sebanyak 500 Ton

Respons Pelaku Pasar

1. Sentimen Investor Tetap Waspada

Kepala strategi pasar di Jones Trading, Michael O’Rourke, menyatakan bahwa harga energi tetap menjadi katalis utama bagi pelemahan pasar saham. Serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dianggap sebagai eskalasi yang memperburuk krisis global.

2. Ekspektasi Penurunan Suku Bunga Ditunda

Dennis Follmer, kepala investasi di Montis Financial, menyatakan bahwa lonjakan harga minyak menyebabkan bank sentral menunda rencana penurunan suku bunga. Ini menjadi kekecewaan tersendiri bagi investor yang berharap kebijakan moneter akan lebih agresif di awal tahun.

3. Fluktuasi Saham Dipicu Harga Minyak

Follmer menambahkan bahwa pasar saham sepanjang tahun ini cenderung berfluktuasi dalam kisaran sempit. Pergerakan harga minyak menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas pasar, serta memengaruhi kebijakan Federal Reserve.

Tabel Perbandingan Pergerakan Indeks Wall Street (19 Maret 2026)

Indeks Perubahan (%) Penutupan (poin) Kerugian Tertinggi (%)
S&P 500 -0,2% 6.608,55 -1,0%
NASDAQ Composite -0,3% 22.090,69 -1,4%
Dow Jones Industrial Average -0,4% 46.022,14 -0,9%

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal 19 Maret 2026. Perkembangan situasi geopolitik, kebijakan moneter, dan harga komoditas dapat berubah sewaktu-waktu dan memengaruhi kondisi pasar secara signifikan. Pembaca disarankan untuk selalu memantau perkembangan terbaru dari sumber resmi.

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.