Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga emas dunia tengah mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan terakhir Maret 2026. Penurunan harga emas terjadi delapan hari berturut-turut, menjadikannya pekan dengan kinerja terburuk dalam lebih dari empat dekade. Lonjakan dolar AS dan ekspektasi bahwa bank sentral utama tidak akan segera menurunkan suku bunga menjadi penyebab utama anjloknya harga logam mulia ini.
Emas yang biasanya menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian global meningkat, kali ini gagal mempertahankan performa. Sebaliknya, dolar justru menjadi aset pilihan, terutama seiring eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Investor tampaknya lebih memilih instrumen berimbang tinggi daripada aset tanpa hasil seperti emas.
Penyebab Harga Emas Anjlok di 2026
Penurunan harga emas kali ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor eksternal dan internal pasar yang saling berinteraksi, menciptakan tekanan besar terhadap logam mulia ini.
1. Dominasi Dolar AS sebagai Safe Haven
Dolar AS kembali menunjukkan kekuatannya sebagai aset safe haven utama. Sejak konflik Iran-Israel kembali memanas, aliran dana mengalir ke greenback, bukan ke emas. Padahal, secara historis, emas selalu menjadi pelindung di tengah gejolak geopolitik.
2. Ekspektasi Suku Bunga Tetap
Bank sentral utama seperti Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank Jepang memilih untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Mereka juga memberi sinyal bahwa pemotongan suku bunga tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Hal ini membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik.
3. Lonjakan Harga Minyak dan Inflasi
Harga minyak dunia melonjak hampir ke level tertinggi empat tahun. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran akan inflasi, yang pada gilirannya mendorong bank sentral untuk bersikap hati-hati dalam kebijakan moneter.
4. Kekhawatiran atas Inflasi Energi
Bank sentral global, termasuk Bank Cadangan Australia yang justru menaikkan suku bunga, menyoroti risiko inflasi yang didorong oleh lonjakan harga energi. Situasi ini membuat investor lebih memilih instrumen berbunga tinggi daripada emas.
Data Harga Emas Maret 2026
Berikut adalah rincian harga emas pada akhir pekan Maret 2026:
| Jenis Emas | Harga (USD/ons) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Emas Spot | 4.494,44 | -3,4% |
| Emas Berjangka | 4.496,16 | -2,4% |
Penurunan mingguan mencatatkan angka 10,4%, menjadikannya penurunan terburuk sejak awal Maret 1983. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap emas bukan fenomena jangka pendek, melainkan bagian dari tren yang lebih besar.
Apakah Emas Masih Layak Dikejar?
Meski harga emas anjlok, beberapa analis percaya bahwa ini bukan akhir dari tren kenaikan jangka panjang. Russ Mould dari AJ Bell mengatakan bahwa investor jangka panjang tidak perlu panik. Ia menyebut bahwa kenaikan harga emas pada era 1971–1980 dan 2001–2010 juga sempat mengalami penurunan besar, namun tetap berhasil pulih.
1. Emas Pernah Lewati Ini Semua
Emas bukan aset baru. Ia telah melewati berbagai siklus ekonomi dan geopolitik. Penurunan saat ini bisa jadi hanya koreksi jangka pendek, bukan pembalikan tren jangka panjang.
2. Biaya Kepemilikan Emas Naik
Salah satu alasan emas kurang diminati adalah biaya kepemilikannya yang mencapai 3,75% akibat hilangnya imbal hasil dari uang tunai. Namun, bagi investor jangka panjang, angka ini bisa diabaikan jika tren kenaikan emas kembali terbentuk.
3. Skeptis Bukan Berarti Salah
Banyak investor skeptis menyebut emas sebagai aset kuno tanpa hasil. Namun, selama ada ketidakpastian global, permintaan terhadap emas belum tentu hilang begitu saja.
Faktor yang Bisa Membawa Emas Naik Lagi
Meski saat ini sedang tertekan, beberapa faktor bisa menjadi pemicu rebound harga emas di masa depan.
1. Perubahan Kebijakan Suku Bunga
Jika bank sentral akhirnya mulai menurunkan suku bunga, emas bisa kembali menarik. Investor akan kembali mencari aset tanpa hasil seperti emas.
2. Eskalasi Konflik Global
Semakin memanasnya ketegangan di Timur Tengah atau munculnya konflik baru bisa mendorong permintaan emas sebagai safe haven.
3. Pelemahan Dolar AS
Jika dolar mulai melemah karena faktor ekonomi atau politik, emas bisa kembali bersinar. Hubungan invers antara dolar dan emas masih relevan.
Disclaimer
Data harga emas dan informasi kebijakan bank sentral bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Investasi emas mengandung risiko, termasuk risiko penurunan nilai dan volatilitas pasar.
Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.