Beranda » Nasional » Indeks Nasdaq Anjlok 2 Persen, S&P Alami Pelemahan Empat Minggu Beruntun

Indeks Nasdaq Anjlok 2 Persen, S&P Alami Pelemahan Empat Minggu Beruntun

Saham Wall Street kembali terperosok pada akhir pekan terakhir Maret 2026. Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, mencatat penurunan yang berkepanjangan selama empat minggu berturut-turut. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang semakin meningkat, khususnya terkait eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Sentimen pasar yang negatif semakin diperparah oleh kabar bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Kabar ini langsung memicu lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam lebih dari tiga setengah tahun. Lonjakan harga energi ini memperlebar tekanan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, seperti teknologi dan utilitas.

Penurunan Saham dan Sentimen Geopolitik

Pergerakan pasar saham pada akhir pekan ini mencerminkan dominasi sentimen penghindaran risiko. Investor mulai menjual saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah AS. Namun, justru obligasi yang sedang dijual massal, menyebabkan imbal hasilnya melonjak tajam.

  1. Indeks S&P 500 turun 1,5% dan ditutup di level 6.508,32.
  2. Nasdaq Composite anjlok 2%, menutup di angka 21.647,61.
  3. Dow Jones Industrial Average turun 1% dengan penutupan di 45.576,83.

Seiring berjalannya minggu, penurunan kumulatif menjadi semakin dalam. S&P 500 turun 1,9%, Nasdaq 2,1%, dan Dow Jones juga turun 2,1%. Dalam empat minggu berturut-turut, S&P 500 telah kehilangan 4,9%, Nasdaq 6,9%, dan Dow Jones 5,2%.

Faktor Pemicu Volatilitas Pasar

Tidak hanya sentimen geopolitik yang memengaruhi, faktor teknis seperti quadruple witching juga turut memicu volatilitas pasar. Peristiwa ini terjadi empat kali dalam setahun dan melibatkan kedaluwarsa empat jenis derivatif sekaligus.

  1. Kontrak berjangka indeks saham
  2. Opsi indeks saham
  3. Opsi saham
  4. Kontrak berjangka saham tunggal
Baca Juga:  Menteri P2MI Apresiasi Sistem Penempatan Pekerja Migran Profesional di Binawan yang Jadi Teladan Nasional Angka 1

Total nilai kontrak yang berakhir masa berlakunya mencapai USD4,7 triliun. Angka ini memicu transaksi besar yang meningkatkan ketidakpastian jangka pendek di pasar modal.

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Imbal hasil obligasi pemerintah AS terus naik sepanjang pekan. Investor menjual obligasi untuk menghindari risiko, terutama setelah eskalasi serangan antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari.

  1. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik 10 basis poin menjadi 4,384%.
  2. Imbal hasil obligasi jangka pendek naik 6 basis poin menjadi 3,894%.

Lonjakan ini menunjukkan bahwa investor mulai khawatir terhadap dampak jangka panjang dari ketegangan geopolitik terhadap ekonomi global. Kenaikan imbal hasil secara langsung memberi tekanan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti real estat dan utilitas.

Respons Pasar dan Sentimen Investor

Keith Lerner, kepala investasi dan strategi pasar di Truist, menyatakan bahwa sentimen investor saat ini sangat dipengaruhi oleh harga minyak dan suku bunga. Kenaikan kedua faktor tersebut memperlebar tekanan pada pasar saham.

“Semuanya masih tentang minyak dan suku bunga, dan keduanya bergerak naik hari ini. Kenaikan imbal hasil, yang sekarang berada pada level tertinggi sejak Agustus lalu, menekan area yang sensitif terhadap suku bunga seperti utilitas dan real estat.”

Lerner juga menambahkan bahwa investor mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian menjelang akhir pekan. Pola penjualan yang sembarangan dan indikator teknis yang mendekati level ekstrem menjadi sinyal bahwa pasar mungkin mendekati titik terendah.

Pergerakan Saham Perusahaan: FedEx

Di tengah tekanan pasar, beberapa saham perusahaan justru menunjukkan performa positif. Salah satunya adalah FedEx. Perusahaan logistik ini mencatatkan laba dan pendapatan kuartal ketiga yang melebihi ekspektasi berkat permintaan tinggi menjelang musim liburan.

Baca Juga:  Indeks Saham Indonesia Naik 1,76 Persen Menembus Level 7.710 Pada Penutupan Hari Ini

Namun, manajemen FedEx menyatakan bahwa proyeksi ke depan belum mempertimbangkan gangguan tambahan akibat konflik Iran. Mereka juga mencatat bahwa biaya pengiriman udara dan pengalihan rute bisa memengaruhi pendapatan kuartal berikutnya.

  1. Saham FedEx naik hampir 1%.
  2. Perusahaan belum melihat gangguan pasokan bahan bakar jet secara signifikan.

Meskipun demikian, lonjakan biaya pengiriman akibat kenaikan harga minyak bisa memaksa perusahaan menaikkan tarif. Hal ini berpotensi mengurangi permintaan dari pelanggan ritel.

Perbandingan Penurunan Indeks Saham (Maret 2026)

Indeks Saham Penurunan Harian Penurunan Mingguan Penurunan 4 Minggu
S&P 500 -1,5% -1,9% -4,9%
Nasdaq Composite -2,0% -2,1% -6,9%
Dow Jones Industrial Avg -1,0% -2,1% -5,2%

Catatan: Data berdasarkan penutupan pasar 20 Maret 2026.

Kesimpulan

Pekan terakhir Maret 2026 menjadi bukti bahwa ketegangan geopolitik masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar saham global. Investor terus mengantisipasi dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama terkait potensi pengerahan pasukan AS ke Iran.

Lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi AS memperlebar tekanan pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Meski sebagian perusahaan seperti FedEx menunjukkan performa positif, pasar secara keseluruhan masih dalam fase ketidakpastian.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan makro ekonomi global. Informasi dalam artikel ini valid hingga April 2026.

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.