Beranda » Nasional » Dolar Amerika Tetap Kokoh Meskipun Terjadi Penurunan dalam Sepekan Terakhir

Dolar Amerika Tetap Kokoh Meskipun Terjadi Penurunan dalam Sepekan Terakhir

Dolar AS mengakhiri pekan dengan catatan penurunan meski tetap menunjukkan stabilitas di akhir perdagangan Jumat, 20 Maret 2026. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,9% sepanjang minggu, meski pada hari terakhirnya naik 0,3% ke level 99,50. Pergerakan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas akibat konflik antara Iran dan Israel, yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter global.

Investor tampaknya masih menahan diri untuk mengambil posisi besar, sambil menunggu sinyal lebih jelas dari bank sentral utama, terutama Federal Reserve. Meski demikian, tekanan dari lonjakan harga minyak dan ketidakpastian global membuat dolar tetap menjadi pilihan aman, meski tidak cukup kuat untuk mengereknya ke level tertinggi multi-bulan.

Kebijakan Suku Bunga Jadi Sorotan Utama

Pergerakan dolar dalam pekan ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi terkait kebijakan suku bunga dari bank sentral besar. Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, langkah-langkah kebijakan moneter menjadi faktor kunci yang menentukan arah mata uang utama dunia.

1. Federal Reserve Pertahankan Suku Bunga

Federal Reserve memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25%-5,50% pada pertemuan Maret 2026. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan ketidakpastian global, terutama pasca-serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Meski tidak ada perubahan, The Fed tetap menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga di tahun ini masih terbuka, meski peluangnya makin mengecil.

2. ECB Lebih Agresif dari The Fed

Berbeda dengan The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan sikap yang lebih siap untuk menaikkan suku bunga jika inflasi kembali menguat. Dalam pertemuan terbarunya, ECB menyampaikan proyeksi bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi di kuartal kedua 2026, terutama jika data inflasi Eurozone menunjukkan tren naik.

Bank Sentral Suku Bunga Saat Ini Proyeksi 2026 Catatan
Federal Reserve 5,25% – 5,50% Tidak ada kenaikan di 2026 Menunggu kejelasan geopolitik
Bank Sentral Eropa (ECB) 4,00% – 4,25% Potensi kenaikan di Q2 2026 Lebih responsif terhadap inflasi
Bank of Japan -0,10% Tetap ultra-long accommodative Fokus pada pertumbuhan domestik
Baca Juga:  Wisatawan Indonesia Kini Bisa Gunakan QRIS untuk Belanja di Korea Selatan Tanpa Ribet

3. Spekulasi Kenaikan Suku Bunga Global

Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memicu spekulasi bahwa bank sentral global akan kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, banyak ekonom berpendapat bahwa langkah ini bisa berisiko, terutama jika dilakukan terlalu cepat. JPMorgan mencatat bahwa kenaikan suku bunga di awal tahun bisa mengulangi kesalahan kebijakan yang terjadi pada 2008 dan 2011.

Dinamika Pasar Minyak dan Dampaknya

Harga minyak mentah Brent mencapai puncak USD119 per barel sebelum akhirnya turun menjelang akhir pekan. Lonjakan harga ini dipicu oleh ketegangan di Teluk Persia dan rencana AS untuk memperkuat kehadiran militer di kawasan.

1. Lonjakan Harga Minyak Picu Ketidakpastian

Lonjakan harga minyak memberi tekanan pada inflasi global. Ini memaksa bank sentral untuk mempertimbangkan kembali langkah kebijakan mereka. Investor khawatir bahwa kenaikan harga energi akan memicu gelombang inflasi baru, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor energi.

2. Reaksi Pasar Saham dan Obligasi

Saham energi naik tajam, sementara indeks saham global sempat terkoreksi akibat tekanan dari kenaikan harga minyak. Obligasi pemerintah juga terpengaruh, dengan yield obligasi AS naik sementara karena ekspektasi kenaikan suku bunga.

3. Potensi Pencabutan Sanksi Minyak Iran

Gedung Putih mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sebagian sanksi terhadap minyak Iran sebagai langkah untuk menstabilkan pasar energi global. Jika terealisasi, langkah ini bisa menekan harga minyak dalam jangka pendek.

Pergerakan Mata Uang Utama

Pasangan mata uang utama menunjukkan pergerakan yang mencerminkan sentimen investor terhadap risiko global.

1. EUR/USD Turun Tipis

EUR/USD turun 0,2% ke level 1,1570. Meski demikian, pasangan ini masih berada di jalur kenaikan mingguan. Investor menunggu data inflasi dari Eurozone untuk menilai peluang kenaikan suku bunga ECB.

2. GBP/USD Melemah Lebih Tajam

GBP/USD turun 0,7% ke level 1,3338. Pound terkoreksi seiring data ekonomi Inggris yang masih belum menunjukkan pemulihan yang kuat.

Baca Juga:  Stabilitas Harga BBM Jadi Bukti Kebijakan Pemerintah Sukses Lindungi Masyarakat dari Gejolak Ekonomi Global yang Meningkat 7%

3. USD/JPY Menguat

USD/JPY naik 0,9% ke level 159,21. Yen melemah karena ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan aliran modal keluar dari aset Jepang.

Pasangan Mata Uang Perubahan (%) Level Akhir Keterangan
EUR/USD -0,2% 1,1570 Tekanan terhadap euro
GBP/USD -0,7% 1,3338 Melemah terhadap dolar
USD/JPY +0,9% 159,21 Dolar menguat tajam
AUD/USD -0,3% 0,7215 Sentimen terhadap komoditas turun
USD/CAD +0,5% 1,3020 Dolar Kanada tertekan

Tantangan Geopolitik dan Dampak Jangka Panjang

Konflik antara Iran dan Israel terus menjadi fokus pasar. Meski belum berkembang menjadi perang besar, ketegangan ini cukup untuk menciptakan volatilitas di pasar keuangan global.

1. Rencana Militer AS di Iran

Laporan CBS News menyebutkan bahwa Pentagon telah menyusun rencana untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran jika situasi memburuk. Langkah ini menambah ketidakpastian dan membuat investor lebih berhati-hati.

2. Biaya Perang yang Membengkak

Pentagon telah meminta tambahan dana sebesar USD200 miliar untuk kampanye militer di Timur Tengah. Permintaan ini menunjukkan bahwa konflik bisa berlangsung lama dan berdampak pada anggaran negara serta sentimen pasar.

3. Sentimen Publik dan Pasar

Kebijakan luar negeri AS yang agresif memicu perdebatan di dalam negeri. Banyak warga AS menentang keterlibatan militer yang lebih dalam, yang bisa berdampak pada elektabilitas politik para pejabat.

Kesimpulan

Dolar AS tetap menjadi aset pilihan di tengah ketidakpastian global, meski tidak cukup kuat untuk mengereknya ke level tertinggi. Investor masih menunggu sinyal lebih jelas dari bank sentral, terutama terkait suku bunga. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak terus menjadi faktor penggerak utama volatilitas pasar.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik global.

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.