Dolar AS mengalami tekanan di tengah situasi geopolitik yang mulai mereda. Pelemahan nilai tukar mata uang Negeri Paman Sam ini terjadi seiring dengan isu de-escalation konflik di kawasan Timur Tengah. Investor tampaknya mulai mengurangi posisi aman dan beralih ke aset berisiko lebih tinggi.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,69 persen pada perdagangan Senin waktu New York. Penutupan terjadi di level 98,958. Pergerakan ini menandai koreksi dari level awal sesi yang sempat menguat.
Dolar Melemah Terhadap Sejumlah Mata Uang Utama
Perubahan nilai tukar dolar terlihat cukup signifikan terhadap beberapa mata uang penting global. Euro mencatat kenaikan menjadi USD1,1607 dari posisi sebelumnya di USD1,1559. Poundsterling juga menguat menjadi USD1,3425 dibandingkan USD1,3337 pada sesi sebelumnya.
Performa dolar terhadap yen Jepang juga mencatat penurunan. Greenback hanya diperdagangkan di level 158,45 yen, turun dari 159,22 yen pada perdagangan sebelumnya. Franc Swiss juga ikut menekan dolar, yang turun dari 0,7885 menjadi 0,7865.
Di sisi lain, dolar Kanada mengalami sedikit penguatan terhadap dolar AS, naik dari 1,3707 menjadi 1,3719. Namun, krona Swedia mencatat pelemahan terhadap greenback, turun dari 9,3594 menjadi 9,3095.
Pasar Bereaksi Terhadap Isu Geopolitik dan Kebijakan Trump
Pergerakan dolar tidak terlepas dari dinamika politik global. Investor mencermati komentar Presiden AS Donald Trump yang menyatakan adanya pembicaraan “produktif” dengan Iran. Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal positif terkait potensi de-escalation konflik di Teluk Persia.
Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan selama dua hari terakhir membahas kemungkinan mencapai “resolusi lengkap dan total” untuk perdamaian. Ia juga mengatakan telah memerintahkan Pentagon untuk menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan.
Namun, pihak Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan pemerintahan Trump. Media pemerintah Iran bahkan menyatakan bahwa tidak ada komunikasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan AS. Posisi Iran terkait Selat Hormuz dan prasyarat perdamaian tetap tidak berubah.
1. Penundaan Serangan Infrastruktur Iran
Salah satu faktor utama yang memicu pelemahan dolar adalah keputusan Trump untuk menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Langkah ini diambil menyusul diskusi yang disebut “produktif” dengan Teheran.
2. Kenaikan Pasar Saham AS
Wall Street mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan pada perdagangan Senin. Lonjakan indeks saham ini menjadi salah satu faktor yang menekan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
3. Penurunan Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia anjlok setelah pengumuman penundaan serangan terhadap Iran. Investor bereaksi positif terhadap potensi de-escalation, yang berdampak pada penurunan ekspektasi gangguan pasokan energi global.
Perbandingan Nilai Tukar Dolar AS terhadap Mata Uang Utama (24 Maret 2026)
| Mata Uang | Sebelumnya (USD) | Saat Ini (USD) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Euro | 1,1559 | 1,1607 | +0,41% |
| Poundsterling | 1,3337 | 1,3425 | +0,66% |
| Yen Jepang | 159,22 | 158,45 | -0,48% |
| Franc Swiss | 0,7885 | 0,7865 | -0,25% |
| Dolar Kanada | 1,3707 | 1,3719 | +0,09% |
| Krona Swedia | 9,3594 | 9,3095 | -0,53% |
4. Pernyataan Trump yang Memicu Optimisme Pasar
Trump menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan “sangat intens” dan menunjukkan adanya “poin-poin kesepakatan utama”. Ia menyebut peluang mencapai kesepakatan sebagai “sangat serius”, meski tetap menekankan bahwa tidak ada jaminan.
5. Penolakan Iran atas Klaim Pembicaraan
Iran melalui media pemerintah dan juru bicara Kementerian Luar Negerinya secara tegas menolak klaim adanya pembicaraan dengan AS. Negara tersebut menyatakan bahwa posisinya terkait Selat Hormuz dan prasyarat perdamaian tetap tidak berubah.
6. Pengaruh Sentimen Pasar terhadap Aset Berisiko
Dengan meredanya ketegangan geopolitik, investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Sebaliknya, minat terhadap aset berisiko meningkat, termasuk saham dan komoditas.
Dampak pada Indeks Saham dan Harga Komoditas
Pergerakan dolar juga dipengaruhi oleh kinerja indeks saham utama di Wall Street. Pada perdagangan Senin, ketiga indeks utama—Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq—mencatat kenaikan yang cukup solid.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam. Brent turun hingga 3,5 persen, sedangkan WTI anjlok 4,2 persen. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah bisa diminimalkan.
7. Spekulasi Pasar tentang Prospek Perdamaian
Investor kini memperhatikan perkembangan lebih lanjut terkait pembicaraan antara AS dan Iran. Meski belum ada konfirmasi resmi dari Teheran, pasar tetap merespons positif terhadap pernyataan Trump.
8. Peran Media dalam Membentuk Sentimen
Media pemerintah Iran dan media internasional memberikan narasi yang berbeda terkait pembicaraan dengan AS. Perbedaan ini menciptakan ketidakpastian yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan global.
9. Respons Investor terhadap Perubahan Geopolitik
Investor cenderung mengalokasikan kembali portofolio mereka ketika situasi geopolitik berubah. Pelemahan dolar menjadi indikator bahwa investor mulai memandang optimis terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
10. Potensi Koreksi di Masa Depan
Meski saat ini dolar mengalami tekanan, koreksi bisa terjadi kapan saja jika situasi berubah. Ketidakpastian politik, baik di AS maupun Iran, masih menjadi faktor yang bisa memicu volatilitas pasar.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini per 24 Maret 2026. Perubahan kondisi geopolitik, kebijakan moneter, dan faktor eksternal lainnya dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar dan pasar keuangan secara signifikan.
Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.