Dolar AS menguat pada akhir pekan terakhir Maret 2026, didorong oleh lonjakan permintaan investor terhadap aset aman di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan ini menempatkan dolar pada jalur untuk mencatat kinerja bulanan terbaiknya sejak Juli 2025.
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,3 persen menjadi 100,18 pada Jumat, 27 Maret 2026. Sejauh ini sepanjang Maret, indeks tersebut sudah melonjak 2,6 persen, mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak Juli tahun lalu.
Penguatan Dolar dan Sentimen Safe Haven
Permintaan terhadap dolar sebagai mata uang safe haven semakin meningkat seiring eskalasi ketegangan di Teluk Persia. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika situasi global menjadi tidak menentu. Lonjakan harga minyak dan ancaman konflik bersenjata membuat dolar semakin menarik.
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak akan segera menurunkan suku bunga, bahkan berpotensi menaikkannya di kuartal ketiga 2026, semakin memperkuat daya tarik dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun mencatat level tertinggi sejak Juli 2026, menunjukkan bahwa pasar mulai menyesuaikan diri dengan skenario suku bunga yang lebih tinggi.
Ahli strategi FX & suku bunga global di Macquarie, Thierry Wizman, menyatakan bahwa penguatan dolar bukan hanya karena faktor sentimen, tetapi juga karena faktor fundamental. Menurutnya, ketergantungan AS pada impor minyak yang menurun membuat ekonomi Amerika lebih tahan terhadap goncangan energi dibandingkan Eropa atau Asia.
Wizman menambahkan bahwa berbeda dengan krisis April 2025 yang justru membuat dolar melemah, kali ini kondisi ekonomi dalam negeri AS lebih stabil meskipun harga minyak melonjak. Ini memungkinkan dolar tetap kuat meski tekanan eksternal meningkat.
Eskalasi Ketegangan AS-Iran
Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak global. Trump mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika tenggat waktu tersebut tidak dipenuhi.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung dengan Washington. Ia juga mengklaim bahwa Israel telah menyerang beberapa fasilitas penting Iran, termasuk pabrik baja, pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil.
Harga minyak mentah Brent melonjak di atas USD110 per barel akibat ketegangan ini. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap inflasi global dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Dampak pada Mata Uang Global
1. Euro Melemah Terhadap Dolar
Euro turun 0,2 persen menjadi 1,1510 terhadap dolar AS. Uni Eropa masih menghadapi tantangan pasokan energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Eropa sangat bergantung pada impor minyak dan gas alam, sehingga kenaikan harga energi langsung berdampak pada nilai mata uangnya.
2. Pound Sterling Terus Tertekan
Poundsterling juga mengalami tekanan, turun 0,5 persen menjadi 1,3259. Inggris, seperti negara Eropa lainnya, menghadapi risiko kenaikan biaya energi yang berkepanjangan. Ketidakpastian geopolitik membuat investor enggan menahan aset berisiko, termasuk mata uang Inggris.
3. Yen Jepang Melemah Tajam
Yen Jepang melemah 0,4 persen terhadap dolar, mencatatkan level 160,25 per dolar. Level ini mendekati ambang batas intervensi dari pemerintah Jepang. Jepang adalah negara dengan ketergantungan impor energi yang sangat tinggi, sehingga kenaikan harga minyak secara langsung memengaruhi nilai yen.
4. Dolar Australia Stabil
Dolar Australia, yang sering dijadikan indikator risiko pasar, relatif stabil setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan. Investor tampaknya tidak terlalu panik terhadap eskalasi konflik, tetapi tetap waspada terhadap perkembangan lebih lanjut.
Analisis Pasar dan Proyeksi
1. Potensi Konflik Berkepanjangan
Analis dari MUFG memperkirakan bahwa konflik AS-Iran bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Jika benar terjadi, maka harga energi akan tetap tinggi, yang pada gilirannya akan memicu tekanan inflasi global dan memengaruhi kebijakan moneter berbagai bank sentral.
2. Mata Uang dengan Risiko Tertinggi
Di pasar valuta asing Asia, mata uang dengan ketergantungan impor energi tertinggi seperti won Korea (KRW) dan yen Jepang (JPY) menjadi yang paling rentan. Kedua mata uang ini berpotensi terus melemah jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda.
3. Peran Selat Hormuz dalam Stabilitas Pasar
Selat Hormuz menjadi fokus utama karena merupakan jalur kritis bagi distribusi minyak global. Setiap gangguan di selat ini bisa langsung memicu lonjakan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pemberlakuan tarif oleh Iran di Selat Taiwan adalah langkah yang tidak dapat diterima.
Tabel Perbandingan Kinerja Mata Uang Terhadap Dolar AS (Maret 2026)
| Mata Uang | Kurs Akhir Maret 2026 | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Euro (EUR) | 1,1510 | -0,2% |
| Poundsterling (GBP) | 1,3259 | -0,5% |
| Yen (JPY) | 160,25 | -0,4% |
| Won Korea (KRW) | 1.350,00 | -0,3% |
| Dolar Australia (AUD) | 0,7200 | 0,0% |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi berdasarkan perkembangan terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Kesimpulan
Penguatan dolar AS di akhir Maret 2026 mencerminkan kombinasi antara faktor geopolitik dan fundamental ekonomi. Ketegangan AS-Iran memicu lonjakan permintaan terhadap aset aman, sementara ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat dolar semakin menarik. Mata uang lain seperti euro, poundsterling, dan yen mengalami tekanan akibat ketergantungan mereka terhadap impor energi. Jika ketegangan berlangsung lebih lama, dampaknya bisa meluas ke pasar global dan memicu volatilitas yang lebih tinggi.
Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.
