Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Kamis, 2 April 2026. Setelah beberapa sesi sebelumnya menunjukkan pergerakan positif, kali ini tekanan jual menghantam pasar modal domestik. IHSG tercatat turun 157,655 poin atau sekitar 2,19 persen, menutup di level 7.026,782. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen investor mulai berhati-hati di tengah ketidakpastian global.
Sejak pagi, indeks sudah membuka di zona merah dan terus tertekan hingga sore hari. Puncak penurunan terjadi di level 7.019, meskipun sepanjang hari sempat mencoba rebound ke level tertinggi 7.161. Volume perdagangan yang tercatat cukup tinggi, yakni sebesar 25,556 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp12,708 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat di angka Rp12.330,686 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.788.207 kali.
Pergerakan Saham dan Sentimen Pasar
Perdagangan Kamis ini mencatat sebanyak 177 saham menguat, 530 saham melemah, dan 113 saham lainnya stagnan. Mayoritas saham mengalami tekanan jual, terutama dari investor asing yang masih menunggu kejelasan arah kebijakan makro ekonomi global. Meski begitu, sejumlah saham blue-chip masih menjadi pilihan aman di tengah volatilitas ini.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, sebelumnya memperkirakan bahwa IHSG masih memiliki potensi untuk menguat. Ia menyebut support berada di kisaran 7.025 hingga 7.130 dan resisten di level 7.200 hingga 7.300. Namun, pergerakan yang terjadi justru berbalik arah, menunjukkan bahwa sentimen pasar lebih dominan negatif pada sesi kali ini.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi IHSG
1. Sentimen Global yang Tertekan
Meski pasar saham global seperti Wall Street dan Asia-Pasifik sempat menguat pada perdagangan sebelumnya, tekanan baru muncul akibat ketidakpastian geopolitik. Investor mulai waspada terhadap risiko yang mungkin muncul dari ketegangan antarnegara besar, yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan stabilitas ekonomi global.
2. Aksi Profit Taking
Setelah beberapa hari sebelumnya IHSG menguat, banyak investor memanfaatkan momentum ini untuk melakukan aksi profit taking. Saham-saham yang sebelumnya naik signifikan menjadi target utama penjualan, terutama dari investor asing yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
3. Data Ekonomi Domestik yang Belum Konsisten
Indikator ekonomi domestik masih menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian. Meskipun ada stimulus dari pemerintah dan Bank Indonesia, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh pasar. Investor masih menunggu data-data fundamental yang lebih kuat sebagai pendorong kepercayaan pasar.
Perbandingan Pergerakan Indeks Global
| Indeks | Pergerakan (%) | Penutupan (2/4/2026) |
|---|---|---|
| Dow Jones | +0,48% | 39.210 |
| S&P 500 | +0,72% | 5.120 |
| Nasdaq | +1,16% | 16.450 |
| Nikkei 225 | +5,20% | 38.750 |
| Kospi | +8,40% | 2.310 |
| IHSG | -2,19% | 7.026 |
Pergerakan IHSG yang tertekan berbeda dengan tren global yang umumnya positif. Investor lokal tampak lebih konservatif, terutama menjelang rilis data penting dari pihak BI dan pemerintah dalam beberapa pekan mendatang.
Saham-Saham yang Paling Banyak Dijual Asing
Investor asing kembali melakukan net sell atau penjualan bersih pada perdagangan Kamis. Beberapa saham yang menjadi incaran penjualan adalah saham perbankan dan pertambangan. Saham-saham tersebut biasanya memiliki likuiditas tinggi dan sering menjadi indikator sentimen asing.
Saham yang Paling Banyak Dijual oleh Asing
- BMRI – Bank Mandiri
- BBRI – Bank Rakyat Indonesia
- BBNI – Bank Negara Indonesia
- ANTM – Aneka Tambang
- ITMG – Indocement Tunggal Prakarsa
Penjualan ini mencerminkan bahwa investor asing masih menunggu kejelasan arah kebijakan makro ekonomi, terutama terkait suku bunga acuan dan inflasi domestik.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
1. Fokus pada Saham Defensive
Di tengah ketidakpastian, saham defensif seperti konsumsi, farmasi, dan properti menjadi pilihan utama. Saham jenis ini cenderung stabil meskipun kondisi pasar sedang tidak menentu.
2. Hindari Overexposure pada Sektor Volatil
Sektor seperti pertambangan, perbankan, dan manufaktur memiliki volatilitas tinggi. Investor disarankan untuk tidak terlalu banyak mengalokasikan portofolio pada sektor ini dalam jangka pendek.
3. Gunakan Analisis Teknikal
Analisis teknikal bisa menjadi alat bantu yang efektif untuk mengidentifikasi titik masuk dan keluar yang tepat. Support dan resisten menjadi indikator penting dalam pengambilan keputusan investasi.
Proyeksi IHSG Minggu Depan
Sentimen pasar masih tergantung pada beberapa faktor eksternal dan internal. Jika tidak ada gejolak besar di pasar global, IHSG berpotensi rebound di kisaran 7.050 hingga 7.200. Namun, jika tekanan jual terus berlanjut, level 6.900 bisa menjadi support utama.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kebijakan makro ekonomi, geopolitik global, dan kondisi pasar yang dinamis. Investasi saham mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal.
Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.