Indonesia saat ini menyandang status yang cukup mengkhawatirkan dalam peta keamanan siber dunia. Berdasarkan laporan Global Fraud Index terbaru yang dirilis oleh perusahaan verifikasi identitas Sumsub, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan tingkat kerentanan penipuan digital tertinggi di dunia, hanya satu peringkat di bawah Pakistan. Fakta ini muncul di tengah masifnya peralihan aktivitas masyarakat ke ekosistem digital, mulai dari transaksi perbankan hingga belanja daring, yang sayangnya tidak disertai dengan penguatan benteng pertahanan data yang mumpuni.
Tingginya kerentanan ini bukan tanpa alasan. Pakar keamanan siber menyoroti bahwa pesatnya pertumbuhan pengguna internet di dalam negeri seringkali melampaui tingkat literasi sデジタル (digital) masyarakat. Akibatnya, banyak pengguna yang menjadi sasaran empuk praktik phishing, social engineering, hingga penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah, penyedia layanan fintech, dan masyarakat umum untuk memperketat protokol keamanan agar ekosistem ekonomi digital tetap stabil dan terpercaya.
Membedah Global Fraud Index dan Risikonya bagi Indonesia
Global Fraud Index merupakan laporan komprehensif yang menganalisis data dari 112 negara untuk mengukur risiko penipuan identitas dan transaksi ilegal. Laporan ini dikembangkan melalui kerja sama dengan berbagai badan otoritas seperti Statista dan CryptoUK. Bagi sebuah negara, skor dalam indeks ini menjadi cerminan seberapa kuat regulasi perlindungan data dan kesiapan infrastruktur siber dalam menghadapi serangan aktor kriminal.
Penilaian dilakukan dengan rentang skor 1 hingga 10. Semakin tinggi angka yang diperoleh sebuah negara, maka semakin besar risiko penduduknya menjadi korban penipuan. Indonesia sendiri mencatatkan skor 6,53, sebuah angka yang cukup kontras jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Eropa Utara yang memiliki sistem proteksi sangat ketat.
Metode Penilaian Global Fraud Index
Lembaga riset menggunakan empat indikator utama untuk menentukan peringkat kerentanan sebuah negara:
1. Tingkat Aktivitas Penipuan
Mengukur frekuensi terjadinya upaya penipuan identitas dan transaksi ilegal yang terdeteksi di wilayah tersebut.
2. Akses ke Sumber Daya Pencegahan
Menilai ketersediaan teknologi keamanan seperti sistem verifikasi biometrik dan infrastruktur deteksi fraud bagi pelaku industri.
3. Intervensi dan Regulasi Pemerintah
Melihat sejauh mana kebijakan pemerintah, seperti undang-undang perlindungan data pribadi, diterapkan secara efektif.
4. Stabilitas dan Kesehatan Ekonomi
Mengkaji korelasi antara kondisi ekonomi makro dengan kemampuan negara untuk berinvestasi pada teknologi keamanan siber.
Data Perbandingan Kerentanan Digital Global
Berikut adalah rincian data peringkat negara dengan tingkat risiko tertinggi dan terendah menurut laporan Global Fraud Index:
| Kategori | Peringkat | Negara | Skor Indeks |
|---|---|---|---|
| Paling Rentan (Risiko Tinggi) | 1 | Pakistan | 7,48 |
| 2 | Indonesia | 6,53 | |
| 3 | Nigeria | 6,43 | |
| 4 | India | 6,16 | |
| 5 | Tanzania | 5,49 | |
| Paling Aman (Risiko Rendah) | 1 | Luxembourg | 0,80 |
| 2 | Denmark | 0,88 | |
| 3 | Finlandia | 1,03 | |
| 4 | Norwegia | 1,07 | |
| 5 | Belanda | 1,12 |
Penyebab Utama Kerentanan Digital di Indonesia
Tingginya angka penipuan digital di Indonesia dipicu oleh beberapa faktor fundamental yang saling berkaitan:
- Pertumbuhan Pengguna Terlalu Cepat: Penambahan jutaan pengguna internet baru setiap tahun yang belum dibekali pemahaman aspek keamanan.
- Literasi Keamanan Rendah: Kebiasaan mengklik tautan tidak dikenal atau memberikan kode OTP kepada pihak luar masih banyak ditemukan.
- Celah Platform Fintech: Munculnya berbagai aplikasi keuangan yang terkadang memiliki sistem verifikasi identitas yang masih lemah.
- Adaptasi Teknik Fraud: Penjahat siber kini menggunakan metode canggih seperti deepfake atau spoofing yang menyerupai institusi resmi.
Langkah Proteksi Mandiri
Guna meminimalisir risiko kerugian materi maupun penyalahgunaan data, langkah-langkah berikut wajib diterapkan secara konsisten:
1. Jaga Kerahasiaan OTP
Jangan pernah memberikan kode OTP (One-Time Password) kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank atau instansi pemerintah.
2. Aktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA)
Gunakan lapisan keamanan tambahan pada setiap akun media sosial dan aplikasi keuangan untuk mempersulit akses ilegal.
3. Rutin Mengganti Kata Sandi
Lakukan pembaruan kata sandi secara berkala dengan kombinasi karakter yang kompleks dan unik untuk setiap akun berbeda.
4. Verifikasi Tautan dan Aplikasi
Hindari mengunduh aplikasi di luar toko resmi (Play Store/App Store) dan jangan mengeklik tautan dari pesan singkat yang mencurigakan.
Peringkat kedua yang dihuni Indonesia dalam indeks kerentanan ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Upaya kolektif antara penguatan regulasi oleh pemerintah, peningkatan sistem proteksi oleh perusahaan teknologi, serta kewaspadaan individu adalah kunci utama dalam menekan angka penipuan di masa depan.
Disclaimer: Data Global Fraud Index dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan pembaruan metode riset dan kondisi keamanan siber terkini di masing-masing negara. Nominal kerugian dan statistik kasus di lapangan mungkin berbeda tergantung pada sumber pelaporan.
Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.