Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tampil di Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia. Dalam forum ini, ia menyampaikan pentingnya membangun kembali arsitektur ekonomi global yang terbuka dan tangguh. Di tengah ketidakpastian geopolitik, Airlangga menegaskan bahwa kunci ketahanan ekonomi dunia terletak pada diversifikasi, bukan pada pemutusan hubungan ekonomi.
Pendekatan yang diusung bukanlah fragmentasi, melainkan kolaborasi dan kemitraan. Menurutnya, tantangan global seperti gangguan rantai pasok dan ketidakstabilan investasi membutuhkan solusi yang inklusif dan berkelanjutan. Indonesia, kata Airlangga, telah menunjukkan ketangguhan ekonomi dengan pertumbuhan 5,61 persen pada triwulan I 2026, inflasi terkendali, dan surplus perdagangan yang berlangsung selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.
Ketahanan Ekonomi di Tengah Gejolak Global
1. Strategi Indonesia Menghadapi Ketidakpastian Global
Indonesia memperkuat ketahanan ekonomi dengan membangun fondasi yang tangguh. Langkah-langkah tersebut mencakup pengembangan kebijakan industri, penyaringan investasi, hingga pengendalian ekspor. Dalam forum BESF 2026, Airlangga menyampaikan bahwa negara-negara di seluruh dunia kini lebih sadar akan pentingnya menjaga keamanan ekonomi.
2. Peran Kerja Sama Internasional
Kerja sama ekonomi menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas. Indonesia aktif menjalin berbagai perjanjian strategis, termasuk IEU-CEPA dan I-EAEU FTA. Forum seperti BESF menjadi ajang penting untuk memperkuat sinergi antarnegara dalam menghadapi tantangan bersama.
Hilirisasi dan Ekonomi Digital Sebagai Motor Transformasi
1. Hilirisasi Industri dan Penguatan Rantai Pasok
Indonesia terus mempercepat transformasi ekonomi melalui program hilirisasi. Sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan menjadi fokus utama. Investasi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia.
2. Perkembangan Ekonomi Digital
Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui USD130 miliar pada 2025 berdasarkan gross merchandise value (GMV). Capaian ini menjadikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Transformasi digital terus digenjot melalui peningkatan infrastruktur dan regulasi yang mendukung.
3. Energi Terbarukan dan Agenda Dekarbonisasi
Indonesia memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan energi terbarukan dan program biodiesel B50. Program ini diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun. Langkah ini tidak hanya mendukung agenda dekarbonisasi, tetapi juga meningkatkan kemandirian energi nasional.
Perluasan Kerja Sama Strategis
1. Perjanjian Dagang dan Integrasi Global
Indonesia terus memperluas kerja sama ekonomi melalui berbagai perjanjian strategis. Selain IEU-CEPA, negara ini juga menandatangani CEPA dengan Kanada dan FTA dengan Eurasian Economic Union. Proses aksesi ke CPTPP dan OECD juga terus berjalan.
2. Peran Indonesia di Forum Global
Sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS, serta calon anggota OECD, Indonesia berperan sebagai penghubung antara negara maju dan berkembang. Peran ini penting dalam mendorong dialog dan solusi inklusif untuk menghadapi tantangan ekonomi global.
Data dan Statistik Ekonomi Indonesia 2026
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi (Triwulan I 2026) | 5,61% (yoy) |
| Inflasi | Terkendali |
| Surplus Neraca Perdagangan | >70 bulan berturut-turut |
| Proyeksi Ekonomi Digital (2025) | >USD130 miliar |
| Penghematan Impor Bahan Bakar (B50) | 4 juta kiloliter/tahun |
Tantangan dan Peluang Ke Depan
1. Adaptasi terhadap Dinamika Geopolitik
Ketegangan global, seperti di Selat Hormuz dan Laut Merah, menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok. Indonesia harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan ini dengan memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
2. Peningkatan Daya Saing Sektor Strategis
Indonesia memiliki peluang besar di sektor kendaraan listrik, energi terbarukan, dan ekonomi digital. Namun, daya saing harus terus ditingkatkan melalui inovasi dan investasi berkelanjutan.
3. Sinergi Kebijakan Domestik dan Internasional
Kebijakan domestik yang progresif harus sejalan dengan komitmen internasional. Ini penting untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi mitra dagang yang andal dan menarik bagi investor global.
Penutup
Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ketahanan ekonomi bukan soal membangun tembok, tetapi menjalin jaringan yang kuat. Diversifikasi, kolaborasi, dan transformasi menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan global. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia terus bergerak maju dengan strategi yang adaptif dan inklusif.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Juni 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika ekonomi global.
Agung Budianto adalah seorang jurnalis senior yang Lahir di Jakarta pada tahun 1992, Ardhi telah mengabdikan hampir dua dekade hidupnya dalam dunia jurnalistik digital Indonesia.
