Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS kembali menunjukkan kekuatannya di tengah ketegangan geopolitik yang berkecamuk. Pada Kamis, 5 Maret 2026, greenback menguat terhadap sejumlah mata uang utama, didorong oleh meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven. Lonjakan ini terjadi seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi memicu gangguan pasokan energi global dan mendorong volatilitas pasar.
Indeks dolar, yang mengukur performa mata uang AS terhadap enam pasangan utama, naik 0,5% menjadi 99,23. Gerakan ini merupakan kelanjutan dari tren bullish yang sudah terlihat sejak awal pekan. Investor tampaknya kembali memandang dolar sebagai pelabuhan aman di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global.
Dolar Naik Didorong Ketegangan Geopolitik
Lonjakan permintaan terhadap dolar AS tak lepas dari situasi ketegangan yang terus berkembang di Timur Tengah. Keputusan Senat AS yang mayoritas berbasis partai menolak mosi untuk mengakhiri kampanye udara memperkuat spekulasi akan berlanjutnya intervensi militer. Tak hanya itu, tenggelamnya kapal perang Iran oleh AS di perairan internasional dekat Sri Lanka semakin memicu kecemasan akan meluasnya konflik.
Iran sendiri juga menunjukkan sikap tegas. Munculnya nama Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang tewas, sebagai calon kuat pengganti ayahnya, menunjukkan bahwa Teheran tidak berniat mundur. Respons cepat dari Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa figur tersebut tidak dapat diterima, menegaskan bahwa ketegangan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Lonjakan Harga Minyak Dorong Inflasi
Salah satu dampak langsung dari ketegangan ini adalah lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan adanya tekanan inflasi yang lebih besar di masa depan. Investor pun mulai mengurangi ekspektasi akan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve, yang selama ini menjadi salah satu faktor pelemahan dolar.
Data ekonomi AS yang dirilis menjelang lonjakan dolar juga memberikan dukungan tambahan. Laporan penggajian swasta ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang solid, sementara klaim pengangguran awal turun lebih rendah dari estimasi. Angka pemutusan hubungan kerja dari Challenger juga menunjukkan penurunan tajam dari bulan sebelumnya, mengisyaratkan pasar tenaga kerja yang masih sehat.
Dolar Ungguli Safe Haven Tradisional
Dolar AS kini dianggap lebih menarik dibandingkan safe haven tradisional seperti franc Swiss dan yen Jepang. Meski sama-sama dianggap aman, kedua mata uang tersebut dinilai memiliki kekurangan. Franc Swiss dianggap kurang likuid, sementara yen tengah menghadapi dilema kebijakan moneter. Bank Sentral Jepang berusaha menahan laju inflasi, namun pemerintah ingin mendorong pertumbuhan melalui stimulus fiskal.
Menurut analis senior di Trade Nation, David Morrison, dolar juga mendapat dorongan dari komentar agresif beberapa gubernur Federal Reserve. Ditambah lagi, aktivitas short-covering yang tinggi membuat para trader bergegas menutup posisi short mereka terhadap dolar, yang semakin memperkuat tren penguatan.
Performa Mata Uang Dunia
EUR/USD Melemah di Bawah Tekanan Energi
Di Eropa, euro mengalami tekanan karena lonjakan harga energi yang membebani prospek pertumbuhan. EUR/USD turun 0,4% menjadi 1,1584, mendekati level terendah sejak akhir November. Data inflasi zona euro yang lebih tinggi dari estimasi pada Februari juga ikut memperburuk sentimen terhadap mata uang tunggal Eropa.
| Pasangan | Perubahan (%) | Level |
|---|---|---|
| EUR/USD | -0,4% | 1,1584 |
| GBP/USD | -0,3% | 1,3329 |
| USD/JPY | +0,5% | 157,80 |
| AUD/USD | -1,3% | 0,6986 |
| USD/CNY | -0,1% | 6,8912 |
Pound Melemah, Bank of England Diprediksi Tunda Stimulus
GBP/USD juga mengalami pelemahan sebesar 0,3% menjadi 1,3329. Harapan akan pelonggaran kebijakan moneter dari Bank of England kini mulai suram karena biaya energi yang diperkirakan akan terus naik dalam waktu dekat.
Yen dan Yuan Mengalami Pergerakan Terbatas
Di sisi Asia, yen menguat tipis terhadap dolar, dengan USD/JPY mencatat kenaikan 0,5% ke level 157,80. Sementara yuan mengalami sedikit pelemahan menjadi 6,8912. China yang menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 4,5 hingga 5%, terendah sejak 1991, menunjukkan kehati-hatian dalam kebijakan ekonominya.
Dolar Australia Terpuruk Usai Data Ekspor
AUD/USD turun tajam sebesar 1,3% menjadi 0,6986. Pelemahan ini dipicu oleh data ekspor Australia yang menunjukkan penyusutan surplus perdagangan pada bulan Januari. Investor pun mulai menjauhkan diri dari mata uang komoditas yang rentan terhadap risiko global.
Faktor-Faktor Pendukung Penguatan Dolar
- Ketegangan Geopolitik: Semakin memanasnya konflik AS-Iran membuat dolar kembali diminati sebagai safe haven.
- Data Tenaga Kerja Positif: Laporan ADP dan klaim pengangguran yang lebih baik dari prediksi menguatkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
- Spekulasi Kebijakan Fed: Komentar hawkish dari gubernur-gubernur The Fed mendorong keyakinan bahwa pemotongan suku bunga akan ditunda.
- Short-Covering Masif: Para trader menutup posisi short mereka, memberikan tekanan beli tambahan terhadap dolar.
Risiko dan Tantangan di Depan
Meskipun saat ini dolar tengah bersinar, bukan berarti tidak ada risiko. Eskalasi konflik yang lebih luas bisa memicu volatilitas ekstrem. Selain itu, jika inflasi global terus melonjak, bank sentral dunia mungkin terpaksa mengambil langkah-langkah darurat yang bisa mengubah arah pasar secara drastis.
Investor juga harus waspada terhadap kebijakan fiskal negara-negara besar. Misalnya, China yang menetapkan target pertumbuhan lebih rendah bisa berdampak pada permintaan global. Sementara di Eropa, tekanan energi dan inflasi bisa memaksa ECB untuk mengubah strategi moneternya.
Kesimpulan
Dolar AS kembali menjadi pusat perhatian di tengah ketegangan geopolitik yang semakin rumit. Lonjakan permintaan terhadap mata uang ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan kebijakan AS. Namun, situasi yang terus berkembang membuat proyeksi jangka pendek tetap penuh ketidakpastian.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan makroekonomi global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.
Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.
