Menjelang Iduladha 2026, suasana di pasar ayam potong terasa berbeda. Bukan karena lonjakan harga menjelang hari raya, melainkan justru sebaliknya. Banyak peternak ayam rakyat mulai mengeluhkan harga jual yang terus turun, bahkan berada di bawah harga pokok produksi (HPP). Kondisi ini membuat kebanyakan peternak terpaksa menjual rugi, atau bahkan berhenti sementara dari usaha mereka.
Padahal, Iduladha biasanya menjadi momen emas bagi peternak. Permintaan ayam potong meningkat tajam menjelang hari raya. Sayangnya, kenaikan permintaan tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual. Malah sebaliknya, harga malah terkoreksi ke bawah. Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu daerah, tapi sudah mulai terlihat di berbagai wilayah di Indonesia.
Mengapa Harga Ayam Turun Saat Iduladha?
1. Pasokan Ayam Melimpah di Pasar
Salah satu penyebab utama harga ayam anjlok adalah melimpahnya pasokan menjelang Iduladha. Banyak peternak yang mempercepat masa panen agar bisa menjual ayam saat permintaan tinggi. Akhirnya, pasar justru terjadi oversupply atau kelebihan pasokan.
2. Distribusi yang Tidak Merata
Meski permintaan tinggi di daerah tertentu, distribusi ayam dari peternak ke konsumen tidak berjalan optimal. Banyak ayam tetap terjebak di daerah sentra produksi, sementara daerah lain kekurangan pasokan. Ketimpangan ini membuat harga tidak naik meski Iduladha sudah dekat.
3. Permainan Harga oleh Pedagang Besar
Beberapa pedagang besar dikabarkan sengaja menahan pembelian ayam untuk menekan harga. Dengan strategi ini, mereka bisa membeli ayam dengan harga lebih murah menjelang Iduladha, lalu menjualnya kembali dengan margin tinggi saat hari raya tiba.
Dampak pada Peternak Ayam Rakyat
1. Rugi Besar karena Harga di Bawah HPP
Harga ayam potong saat ini hanya berkisar antara Rp 24.000 hingga Rp 26.000 per kilogram. Sementara biaya produksi rata-rata mencapai Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Artinya, setiap kilogram ayam yang terjual justru membuat peternak rugi antara Rp 2.000 hingga Rp 4.000.
2. Terpaksa Hentikan Produksi
Kondisi ini membuat banyak peternak terpaksa menghentikan produksi sementara. Mereka menunggu harga naik kembali sebelum melanjutkan usaha. Padahal, berhenti produksi berarti kehilangan momentum dan biaya tetap yang tetap harus dikeluarkan.
3. Ketergantungan pada Subsidi Pemerintah
Beberapa peternak mulai mengandalkan subsidi pakan ternak dari pemerintah untuk bertahan hidup. Namun, subsidi ini tidak semua peternak dapatkan, terutama yang berada di luar daerah prioritas.
Perbandingan Harga Ayam dan Biaya Produksi (Per Kilogram)
| Komponen Biaya | Biaya (Rp) |
|---|---|
| Pakan | 12.000 |
| Tenaga kerja | 3.000 |
| Listrik & Gas | 2.000 |
| Vaksin & Obat | 2.500 |
| Sewa kandang | 1.500 |
| Lain-lain | 2.000 |
| Total HPP | 23.000 |
| Harga Jual Rata-rata | 25.000 |
| Selisih (Rugi/Laba) | +2.000 (belum termasuk fluktuasi harga) |
Catatan: Data di atas merupakan estimasi rata-rata nasional dan dapat berbeda di setiap daerah tergantung biaya lokal dan dinamika pasar.
Langkah yang Bisa Diambil Peternak
1. Evaluasi Pola Panen
Peternak sebaiknya tidak terburu-buru memanen ayam hanya karena Iduladha. Evaluasi waktu panen berdasarkan harga pasar yang lebih realistis bisa menghindarkan dari kerugian besar.
2. Bangun Jaringan Distribusi Sendiri
Mengandalkan tengkulak atau pedagang besar membuat peternak rentan terhadap manipulasi harga. Membangun jaringan langsung ke konsumen atau rumah makan bisa menjadi solusi jangka panjang.
3. Gunakan Teknologi untuk Monitoring Harga
Aplikasi atau platform digital yang memberikan informasi harga real-time bisa membantu peternak mengambil keputusan lebih tepat waktu.
Dukungan Pemerintah yang Dibutuhkan
1. Stabilisasi Harga melalui Intervensi Pasar
Pemerintah bisa mempertimbangkan intervensi pasar melalui pembelian langsung atau operasi pasar agar harga tidak terlalu fluktuatif menjelang hari raya.
2. Subsidi Pupuk dan Pakan Ternak
Dengan subsidi yang tepat sasaran, peternak kecil bisa tetap bertahan meski harga jual anjlok. Ini juga bisa mencegah berhentinya produksi secara masal.
3. Penyuluhan dan Pendampingan Teknis
Banyak peternak rakyat masih menggunakan metode tradisional. Penyuluhan teknologi dan manajemen ternak bisa meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya.
Harapan Menjelang Iduladha 2026
Meski kondisi saat ini terasa berat, bukan berarti tidak ada harapan. Banyak peternak mulai belajar dari pengalaman dan mulai beralih ke model usaha yang lebih mandiri. Kolaborasi antara peternak, distributor, dan pemerintah juga mulai terjalin di beberapa daerah.
Perputaran ekonomi menjelang Iduladha seharusnya menjadi momentum kebangkitan, bukan kerugian. Dengan strategi yang tepat dan dukungan yang sinergis, peternak ayam rakyat bisa kembali merasakan manisnya hasil kerja keras mereka.
Disclaimer: Data harga dan biaya produksi dalam artikel ini merupakan estimasi rata-rata berdasarkan kondisi nasional per Mei 2026. Nilai sebenarnya bisa berbeda tergantung lokasi, musim, dan dinamika pasar setempat.
Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.