Beranda » Nasional » Dolar Amerika Serikat Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik Iran dan Ancaman Perang Dunia Ketiga

Dolar Amerika Serikat Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik Iran dan Ancaman Perang Dunia Ketiga

Dolar AS menguat tipis pada awal pekan Juni 2026, menyusul kembali ketidakpastian di kawasan Timur Tengah terkait proses damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun fluktuasi tidak terlalu besar, pergerakan ini mencerminkan keresahan pasar terhadap ketegangan yang kembali memanas.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, berada di level 99,22. Angka ini menunjukkan bahwa investor masih menahan diri, menunggu sinyal yang lebih jelas dari kedua negara terkait penyelesaian konflik.

Ketegangan Diplomatik yang Membuat Pasar Was-Was

Negosiasi damai antara AS dan Iran memasuki fase yang penuh tekanan. Setelah beberapa waktu berjalan lancar, komunikasi antara kedua belah pihak kembali tersendat. Kabar yang beredar menyebut bahwa pertukaran pesan antara delegasi AS dan Iran sempat dihentikan sementara.

Iran melalui Tasnim News Agency menyatakan bahwa dialog telah ditunda untuk beberapa hari demi menyusun nota kesepahaman awal. Namun, pihak AS membantah keras berita tersebut, dengan Presiden Donald Trump mengklaim bahwa komunikasi tetap berjalan secara teratur.

1. Pernyataan Kontradiktif dari Kedua Negara

Ketidakkonsistenan informasi membuat investor bimbang. Di satu sisi, Iran menyatakan bahwa pembicaraan terhenti. Di sisi lain, AS menegaskan bahwa komunikasi masih aktif. Situasi ini menimbulkan spekulasi di pasar, terutama terkait risiko eskalasi konflik.

2. Peran Lebanon dan Hizbullah dalam Ketegangan

Lebanon juga menjadi sorotan karena operasi militer Israel di wilayah selatan negara itu. Militer Israel melaporkan telah mencegat dua proyektil dari Lebanon, yang memicu kekhawatiran akan memicu siklus kekerasan baru. Hizbullah, yang didukung Iran, terlibat dalam konflik ini, memperumit posisi AS dalam diplomasi regional.

Baca Juga:  Dolar AS Tertahan di Kisaran Sempit karena Kurangnya Isu Penting yang Mendorong Pergerakan Signifikan di Pasar Forex Minggu Ini

3. Gencatan Senjata yang Rapuh

Meski ada pengumuman gencatan senjata parsial antara Israel dan Hizbullah, situasi tetap tidak stabil. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan menarik diri dari operasi militer, sementara Trump menyebut bahwa Hizbullah telah berkomitmen untuk tidak menyerang Israel. Namun, ketidakpastian tetap menghiasi proses ini.

Data Tenaga Kerja AS Menguat, Dolar Terdorong

Di tengah ketegangan geopolitik, fokus pasar juga tertuju pada data ekonomi domestik AS. Laporan Ringkasan Lowongan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) untuk April 2026 menunjukkan angka yang jauh melampaui ekspektasi.

Lowongan pekerjaan mencapai 7,618 juta, naik dari estimasi 6,860 juta dan angka revisi Maret sebesar 6,887 juta. Ini adalah level tertinggi sejak Mei 2024 dan menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap kuat.

1. Pertumbuhan Sektor Jasa Dorong Lowongan

Data ini sebagian besar didorong oleh sektor jasa profesional dan bisnis. Kepala ekonom KPMG AS, Diane Swonk, menyebut bahwa meskipun lowongan tinggi, tingkat pengunduran diri pekerja justru turun ke level terendah sejak Agustus 2020. Ini menunjukkan bahwa pekerja cenderung bertahan meski ada ketidakpastian ekonomi.

2. Implikasi untuk Kebijakan The Fed

Angka lowongan kerja yang tinggi bisa memperkuat posisi Federal Reserve dalam menjaga kebijakan ketat untuk mengendalikan inflasi. Pasar tenaga kerja yang ketat berpotensi mendorong kenaikan upah, yang bisa memicu tekanan inflasi lebih lanjut.

Pergerakan Mata Uang Lainnya

Selain dolar, mata uang lain juga menunjukkan reaksi terhadap situasi global. Yen Jepang kembali melemah terhadap dolar untuk hari keempat berturut-turut. Pasangan USD/JPY naik 0,2% ke level 159,91, mendekati ambang 160 yang dianggap sebagai titik kritis bagi intervensi Bank of Japan.

Baca Juga:  Stabilitas Harga Sembako di Banyumas Menjelang Iduladha Tahun Ini Terjaga dengan Baik

1. Yen di Ambang Intervensi

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan bahwa pemerintah siap melakukan intervensi jika nilai tukar yen terus terpuruk. Namun, belum ada langkah konkret yang diambil, meski tekanan pasar terus meningkat.

2. Euro Stabil di Tengah Inflasi Naik

Euro berada di level stabil, sedikit di bawah USD1,1629. Inflasi utama zona euro diperkirakan naik 3,2% (yoy) pada Mei 2026, naik dari 3% sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga energi sebesar 10,9% (yoy). Inflasi inti juga naik ke 2,5% (yoy), melebihi ekspektasi 2,4%.

Penutup

Dolar AS tetap menjadi pilihan amunisi utama investor di tengah ketidakpastian geopolitik. Meskipun kenaikan tidak signifikan, kekuatan dolar mencerminkan ekspektasi terhadap kebijakan ketat The Fed dan stabilitas ekonomi AS. Sementara itu, yen dan euro berada di zona waspada, menunggu sinyal lebih lanjut dari masing-masing bank sentral.

Disclaimer: Data dan situasi geopolitik dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Juni 2026 dan dapat berbeda dengan kondisi aktual di masa mendatang.

Andrea Hirata
Jurnalis

Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.