Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS bergerak datar pada awal pekan ini, menahan laju pelemahan yang terjadi pada akhir pekan lalu. Pasar mata uang global tengah menanti sinyal lebih lanjut terkait kebijakan moneter dari The Fed, terutama setelah data tenaga kerja AS menunjukkan performa yang lebih lemah dari ekspektasi. Indeks dolar, yang mengukur performa greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di kisaran 100,85.
Pelemahan dolar pada akhir pekan lalu mencatatkan sesi terburuk sejak April. Penyebabnya adalah laporan nonfarm payrolls Juni yang mengecewakan, yang justru dianggap sebagai kabar baik oleh sebagian pelaku pasar. Pasalnya, data tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih stabil namun tidak terlalu panas, sehingga memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.
Petunjuk Suku Bunga Fed Jadi Fokus Utama
Kebijakan moneter The Fed tetap menjadi sorotan utama pelaku pasar. Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam beberapa kesempatan terakhir menyatakan bahwa bank sentral akan meninggalkan panduan ke depan (forward guidance) dan lebih fokus pada pengendalian inflasi. Warsh juga menyebut bahwa risiko inflasi kini mulai menurun, terutama seiring dengan stabilnya harga minyak dunia.
Harga minyak sempat melonjak akibat ketegangan Timur Tengah, khususnya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Namun sejak akhir Juni 2026, harga minyak kembali ke level sebelum krisis, meredam tekanan inflasi. Ini memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, meskipun beberapa anggota dewan tetap mempertimbangkan kenaikan sebelum akhir tahun.
Risalah pertemuan The Fed bulan Juni akan dirilis pada Rabu mendatang. Pasar akan mencermati apakah ada perubahan signifikan dalam nada para pembuat kebijakan. Setengah dari anggota dewan saat ini mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga tahun ini, meski dengan catatan bahwa kondisi ekonomi masih perlu dipantau secara ketat.
Euro Naik Tipis di Tengah Data Inflasi dan Retail
Di sisi lain, euro mengalami kenaikan tipis terhadap dolar AS, mencatatkan level USD1,1441. Penguatan ini didukung oleh data harga produsen industri dan penjualan ritel Zona Euro yang dirilis oleh Eurostat.
Harga produsen industri Zona Euro naik 0,2 persen secara bulanan pada Mei 2026, turun dari level 0,7 persen pada bulan sebelumnya. Namun secara tahunan, kenaikan harga mencapai 5,9 persen, terutama didorong oleh lonjakan harga energi sebesar 14 persen. Meski demikian, inflasi tahunan diperkirakan akan melandai pada Juni, terutama seiring dengan penurunan harga minyak.
Penjualan ritel Zona Euro juga menunjukkan pemulihan kecil. Pada Mei, penjualan naik 0,2 persen dibandingkan April yang mencatatkan penurunan 0,3 persen. Data ini menunjukkan bahwa permintaan konsumen mulai pulih, meski masih belum stabil sepenuhnya.
Bank Sentral Eropa (ECB) telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga pada Juni lalu. ECB menjadi bank sentral utama pertama yang bereaksi terhadap tekanan inflasi akibat krisis pasokan energi. Namun dengan kondisi inflasi yang mulai melandai, peluang kenaikan suku bunga berikutnya tampak semakin kecil.
Investor juga akan memperhatikan pernyataan dari Presiden ECB, Christine Lagarde, dan kepala ekonom Philip Lane pada akhir pekan ini. Pernyataan mereka akan menjadi indikator arah kebijakan ECB ke depan.
Yen Jepang Melemah di Tengah Tekanan Spekulatif
Yen Jepang kembali melemah terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY naik 0,4 persen menjadi 162,04 pada perdagangan Senin. Mata uang Jepang ini tetap berada di level terendah dalam empat dekade, meski sempat menguat tajam pada Kamis lalu akibat data tenaga kerja AS yang mengecewakan.
Bank Sentral Jepang (BoJ) telah menaikkan suku bunga pada Juni lalu dan memberikan peringatan akan langkah-langkah lebih agresif jika diperlukan. Namun, langkah itu belum cukup untuk menghentikan pelemahan yen. Analis dari ING menyebut bahwa BoJ perlu menunjukkan komunikasi yang lebih tegas agar yen tidak kembali menguat secara tiba-tiba.
Tokyo terakhir kali melakukan intervensi besar-besaran pada akhir April dan awal Mei. Saat itu, pasangan USD/JPY sempat turun ke level 155 yen. Namun pasangan ini kembali naik dan mendekati level 160 dalam waktu singkat. Pejabat Jepang beberapa kali memberikan peringatan verbal untuk menahan spekulasi, namun dampaknya terbatas.
Perbandingan Performa Mata Uang Utama terhadap Dolar AS (Juli 2026)
| Mata Uang | Kurs terhadap USD | Perubahan (%) | Catatan |
|---|---|---|---|
| Euro (EUR) | 1,1441 | +0,15% | Didukung data inflasi dan retail |
| Yen (JPY) | 162,04 | -0,40% | Melemah meski ada intervensi |
| Pound (GBP) | 1,3120 | +0,05% | Stabil, menunggu data ekonomi UK |
| Dolar Australia (AUD) | 0,7210 | -0,10% | Tertekan oleh data ekonomi domestik |
| Dolar Kanada (CAD) | 0,7850 | -0,05% | Stabil, mengikuti harga komoditas |
Faktor Makro yang Mendukung Dolar AS
-
Kebijakan The Fed yang Tegas
Meskipun saat ini The Fed belum menaikkan suku bunga, ekspektasi terhadap kenaikan di masa depan tetap menjadi penopang dolar. Ketua The Fed, Kevin Warsh, telah menegaskan bahwa bank sentral tidak akan segan menaikkan suku bunga jika data ekonomi mendukung. -
Data Tenaga Kerja yang Moderat
Laporan nonfarm payrolls Juni yang lebih lemah dari ekspektasi justru dianggap sebagai kabar baik. Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tidak terlalu panas, sehingga tidak memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga secara agresif. -
Inflasi yang Mulai Melandai
Inflasi global, khususnya di AS dan Eropa, mulai menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Harga minyak dunia yang kembali stabil menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penurunan ekspektasi inflasi.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
-
Intervensi Jepang
Jika yen terus melemah dan mendekati level 165, Tokyo kemungkinan akan kembali melakukan intervensi. Ini bisa menyebabkan volatilitas tiba-tiba di pasangan USD/JPY. -
Perubahan Kebijakan ECB
Jika inflasi Eropa kembali naik, ECB bisa kembali menaikkan suku bunga. Ini akan memperkuat euro dan memberi tekanan pada dolar AS. -
Data Ekonomi AS yang Tidak Konsisten
Jika data ekonomi AS mendatang menunjukkan perlambatan yang lebih dalam, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bisa turun. Ini akan melemahkan dolar secara signifikan.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan bank sentral. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi.
Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.