Beranda » Nasional » Dolar Amerika Serikat Turun Akibat Lonjakan Permintaan Aset Safe Haven Mencapai Level Tertinggi Sepanjang Masa

Dolar Amerika Serikat Turun Akibat Lonjakan Permintaan Aset Safe Haven Mencapai Level Tertinggi Sepanjang Masa

Permintaan terhadap aset aman meningkat di tengah situasi geopolitik yang mulai meredakan ketegangan, membuat dolar AS sedikit melemah pada awal Juni 2026. Sentimen pasar yang semula cenderung waspada mulai berubah seiring dengan pencapaian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Harapan akan penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah pun ikut memengaruhi pergerakan mata uang global.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang hijau terhadap enam pasangan utama, mencatat penurunan 0,1 persen menjadi 99,45 pada Kamis, 4 Juni 2026. Penurunan ini terjadi seiring dengan optimisme bahwa langkah diplomatik bisa membuka jalan bagi perdamaian yang lebih berkelanjutan, termasuk potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Dolar AS

1. Gencatan Senjata Israel-Lebanon

Setelah putaran keempat pembicaraan yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Israel dan Lebanon sepakat memperbarui gencatan senjata. Kesepakatan ini mencakup penghentian total tembakan dari Hizbullah dan evakuasi anggota kelompok bersenjata tersebut dari wilayah selatan Sungai Litani.

Meski Hizbullah tidak terlibat langsung dalam negosiasi, keputusan ini dianggap sebagai langkah penting untuk meredam eskalasi konflik yang sempat memanas dalam beberapa pekan terakhir. Harapan akan kesepakatan perdamaian yang lebih luas dengan Iran pun mulai bangkit kembali.

2. Peran Amerika dalam Diplomasi Timur Tengah

Washington terus berupaya memfasilitasi perdamaian di kawasan. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran bisa tercapai menjelang akhir pekan. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa tekanan militer bisa dikurangi jika ada kemajuan diplomatik.

Menteri luar negeri Iran juga menyampaikan bahwa jalur komunikasi dengan AS belum benar-benar tertutup. Meski sebelumnya sempat ada laporan bahwa Teheran menghentikan pengiriman pesan melalui mediator, situasi kembali membaik dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga:  Dolar Amerika Serikat Naik Tajam Menjelang Pertemuan Diplomatik AS dan Iran yang Penuh Ketegangan Geopolitik Global

3. Tuntutan Domestik untuk Mengakhiri Konflik

Di dalam negeri, Gedung Putih menghadapi tekanan dari Kongres untuk mengakhiri keterlibatan militer di Timur Tengah. Dewan Perwakilan Rakyat, meski mayoritasnya dari Partai Republik, telah memberikan suara mendukung resolusi yang membatasi kewenangan presiden untuk melanjutkan konflik. Resolusi tersebut masih membutuhkan persetujuan Senat dan dukungan mayoritas dua pertiga untuk bisa mengesampingkan kemungkinan veto dari Trump.

Dampak pada Pasar Keuangan dan Inflasi

1. Harga Minyak Mulai Stabil

Harga minyak mentah yang sempat naik selama tiga hari berturut-turut akhirnya mulai stabil pada Kamis. Penurunan momentum kenaikan ini membantu meredam ekspektasi inflasi yang tinggi. Investor yang sebelumnya panik dan menjual obligasi mulai kembali tenang, sehingga imbal hasil obligasi juga tidak lagi naik terlalu tajam.

2. Data Tenaga Kerja yang Solid

Laporan tenaga kerja AS yang dirilis dalam pekan yang sama menunjukkan kondisi pasar kerja yang masih kuat. Fokus pasar kini beralih ke laporan penggajian non-pertanian bulan Mei yang akan dirilis pada Jumat. Data ini menjadi indikator penting untuk melihat apakah Federal Reserve akan menaikkan suku bunga di tengah tekanan inflasi yang masih ada.

Yen Jepang Melemah dan Potensi Intervensi

1. Yen Tembus Level 160 per Dolar

Yen Jepang kembali melemah dan mencapai level 160 per dolar untuk hari ketiga berturut-turut. Level ini biasanya menjadi titik intervensi dari pemerintah Jepang untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, intervensi sebelumnya tidak cukup efektif dalam jangka panjang.

Baca Juga:  Menteri ESDM Pastikan Indonesia Aman dari Krisis Energi Meski Dunia Gelisah

2. Pernyataan Gubernur Bank Sentral Jepang

Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa kebijakan moneter bisa mengalami penyesuaian jika risiko inflasi mulai melampaui risiko terhadap pertumbuhan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa langkah kenaikan suku bunga bisa menjadi opsi jika tekanan terhadap yen terus berlanjut.

3. Analisis Pasar terhadap Intervensi Yen

David Morrison, seorang analis pasar senior di Trade Nation, menyatakan bahwa pasangan USD/JPY telah kembali menembus level 160,70, tertinggi sejak Juli 2024. Intervensi sebelumnya memang sempat memberi efek jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk mengembalikan yen ke level yang lebih kuat.

Tahun Level USD/JPY Tertinggi Durasi Pemulihan dari Level 160
2024 160,00 Sekitar 3 bulan
2026 160,70 Lebih dari 1 bulan

Kesimpulan

Pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi faktor, mulai dari dinamika geopolitik hingga data ekonomi domestik. Meski melemah tipis, dolar tetap menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian global meningkat. Namun, dengan adanya harapan perdamaian dan data ekonomi yang solid, tekanan terhadap mata uang hijau bisa berkurang dalam waktu dekat.

Disclaimer: Data dan situasi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan di lapangan. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi.

Eva Agustin
Jurnalis

Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.