Beranda » Nasional » Harga Mentimun di Surabaya Naik Tajam hingga Rp20 Ribu/Kg Akibat Gangguan Pasokan karena Cuaca Ekstrem

Harga Mentimun di Surabaya Naik Tajam hingga Rp20 Ribu/Kg Akibat Gangguan Pasokan karena Cuaca Ekstrem

Harga mentimun di Surabaya sempat mengalami lonjakan tajam hingga mencapai Rp20.000 per kilogram pada awal tahun 2026. Lonjakan ini terjadi akibat pasokan yang terganggu akibat cuaca ekstrem di wilayah penghasil utama seperti Malang dan Probolinggo. Petani setempat mengalami kesulitan memanen hasil pertanian karena curah hujan tinggi yang berkepanjangan.

Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang dan konsumen. Mentimun merupakan komoditas yang cukup populer di pasar tradisional maupun modern karena sering digunakan sebagai bahan baku sayuran segar, lalapan, hingga bahan olahan lainnya. Kenaikan harga hingga empat kali lipat dari harga normal menjadi cerminan dari kerentanan rantai pasok terhadap gangguan iklim.

Penyebab Lonjakan Harga Mentimun

Gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem bukan hal baru, tapi dampaknya kali ini terasa lebih signifikan karena terjadi di tengah musim tanam yang seharusnya produktif. Berikut beberapa faktor utama yang menyebabkan lonjakan harga mentimun di Surabaya.

1. Curah Hujan Tinggi di Kawasan Produksi

Wilayah Malang dan Probolinggo, yang menjadi penghasil mentimun utama untuk distribusi ke Surabaya, mengalami curah hujan tinggi secara terus-menerus selama dua minggu terakhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Kondisi ini membuat petani kesulitan mengakses lahan dan memanen hasil pertanian.

2. Akses Transportasi Terganggu

Jalan menuju area pertanian di kawasan pegunungan menjadi licin dan tergenang air. Beberapa jalur distribusi sempat terputus, menyebabkan keterlambatan pengiriman ke pasar besar di Surabaya. Akibatnya, stok mentimun di pasar tradisional menipis drastis.

3. Permintaan Stabil, Pasokan Menurun

Permintaan mentimun di Surabaya cenderung stabil sepanjang tahun karena digunakan dalam berbagai masakan sehari-hari. Namun, pasokan dari daerah produsen turun hingga 60% akibat gagal panen sebagian besar lahan. Ketidakseimbangan ini memicu lonjakan harga.

Dampak pada Pedagang dan Konsumen

Lonjakan harga mentimun berdampak langsung pada pedagang di pasar tradisional dan swalayan. Banyak pedagang kecil terpaksa menaikkan harga jual untuk tetap bisa mendapatkan margin keuntungan yang layak. Namun, hal ini juga membuat konsumen enggan membeli mentimun dalam jumlah besar.

Baca Juga:  Emiten COCO Rencanakan Pengembangan Bisnis Kakao Melalui Investasi Baru Sebesar Rp500 Miliar Tahun Ini

Beberapa pedagang mengaku bahwa volume penjualan mentimun turun hingga 50% dibandingkan periode normal. Padahal, biasanya mentimun adalah salah satu komoditas yang cukup laris di pasar tradisional karena harganya yang terjangkau dan manfaatnya yang banyak.

Perbandingan Harga Mentimun (Normal vs Lonjakan)

Berikut adalah perbandingan harga mentimun di Surabaya sebelum dan saat lonjakan akibat cuaca ekstrem:

Periode Harga Rata-Rata per Kg
November 2025 Rp5.000
Desember 2025 Rp7.000
Awal Januari 2026 Rp20.000

Harga normal mentimun biasanya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Namun, saat lonjakan terjadi, harga bisa mencapai Rp20.000 per kilogram. Lonjakan ini terjadi dalam waktu singkat, hanya dalam kurun waktu dua minggu.

Upaya Penanganan oleh Pemerintah dan Distributor

Pemerintah daerah dan distributor mulai mengambil langkah-langkah darurat untuk menstabilkan harga dan pasokan mentimun. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:

1. Pendataan Ulang Distribusi Pasokan

Dinas Pertanian dan Perdagangan Surabaya melakukan pendataan ulang terhadap jalur distribusi dari daerah produsen. Tujuannya untuk mengidentifikasi rute alternatif yang lebih aman dan efisien.

2. Subsidi Transportasi untuk Komoditas Prioritas

Pemerintah daerah memberikan subsidi transportasi untuk komoditas mentimun dan sayuran lainnya yang terdampak cuaca. Subsidi ini diharapkan bisa menekan biaya distribusi dan membantu menstabilkan harga jual di pasar.

3. Koordinasi dengan Petani Mitra

Dinas Pertanian melakukan koordinasi intensif dengan kelompok tani mitra untuk mempercepat panen ulang dan memperluas area tanam menggunakan varietas yang lebih tahan terhadap hujan.

Alternatif untuk Konsumen dan Pedagang

Selama masa krisis pasokan, konsumen dan pedagang bisa mempertimbangkan beberapa alternatif agar tidak terlalu terdampak lonjakan harga.

Baca Juga:  Tarif Listrik PLN Terbaru untuk Periode 16 Sampai 22 Maret 2026 yang Perlu Diketahui

1. Mengganti dengan Sayuran Lain

Sayuran seperti kubis, wortel, atau labu siam bisa menjadi alternatif pengganti mentimun dalam beberapa masakan. Harga sayuran ini relatif lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh cuaca ekstrem.

2. Menunda Pembelian

Jika tidak mendesak, menunda pembelian mentimun hingga pasokan kembali normal bisa menjadi pilihan. Biasanya, harga akan kembali normal dalam waktu 2 hingga 3 minggu setelah kondisi cuaca membaik.

3. Membeli dalam Jumlah Kecil

Pedagang kecil bisa membeli mentimun dalam jumlah kecil secara berkala untuk menghindari pembengkakan modal. Ini juga membantu mengurangi risiko kerugian jika harga tiba-tiba turun.

Proyeksi Harga dan Stabilitas Pasokan

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik dan Dinas Pertanian Jawa Timur, diperkirakan harga mentimun akan kembali normal menjelang pertengahan Februari 2026. Ini seiring dengan pemulihan akses transportasi dan mulai berproduksinya kembali lahan-lahan yang sempat tergenang.

Namun, proyeksi ini bisa berubah tergantung pada perkembangan cuaca di wilayah produsen. Jika curah hujan masih tinggi atau terjadi gangguan lain seperti banjir bandang, pemulihan bisa tertunda.

Kesimpulan

Lonjakan harga mentimun hingga Rp20.000 per kilogram di Surabaya adalah cerminan dari kerentanan rantai pasok terhadap gangguan iklim. Meski dampaknya sementara, lonjakan ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya diversifikasi sumber pasokan dan kesiapan menghadapi perubahan cuaca ekstrem.

Pemerintah dan pelaku usaha perlu terus meningkatkan kesiapan mitigasi risiko iklim agar tidak terjebak kenaikan harga mendadak di masa depan.

Disclaimer: Data harga dan kondisi cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi lapangan.

Ignacio Geordi Oswaldo, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis investigatif expert dalam cross-platform storytelling & data journalism.
Jurnalis

Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.