Pagi ini, bursa saham Asia mengalami penguatan menyusul lonjakan Wall Street akhir pekan lalu. Sentimen investor sedikit lebih optimis setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih lemah dari ekspektasi. Hasilnya, pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga di masa dekat.
Meski begitu, ketegangan di kawasan Teluk Persia masih menjadi sorotan. Kabar terkait pembukaan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz memicu fluktuasi harga minyak. Pasar tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Indeks Nikkei Jepang naik 0,6 persen pada perdagangan Senin pagi. Indeks KOSPI Korea Selatan juga menguat 0,5 persen. Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik (tanpa Jepang) naik tipis sebesar 0,3 persen. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX turun 0,1 persen. FTSE tercatat melemah 0,4 persen. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1 persen, sementara Nasdaq bergerak datar.
Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan Federal Reserve. Salah satu indikator penting yang menjadi acuan adalah data Consumer Price Index (CPI) Juli 2026. Investor memperkirakan CPI inti naik 0,2 persen, sedangkan CPI umum naik 0,1 persen.
-
Perkiraan Inflasi Juli 2026
- CPI inti: naik 0,2 persen
- CPI umum: naik 0,1 persen
-
Pengaruh terhadap Suku Bunga
- Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, peluang kenaikan suku bunga pada September bisa meningkat
- Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 44 persen, turun dari 67 persen pekan lalu
Michael Feroli, Kepala Ekonom JPMorgan, menyatakan bahwa angka inflasi di atas 0,3 persen bisa memicu langkah The Fed. Namun, untuk saat ini, angka 0,22 persen belum cukup kuat untuk mendorong keputusan menaikkan suku bunga.
Ketegangan Teluk dan Dampaknya ke Pasar Energi
Iran mengumumkan bahwa pembicaraan dengan Oman terkait jalur pelayaran baru di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, jalur tersebut baru akan dibuka jika Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat dari Teheran.
- Syarat Iran untuk Pembukaan Jalur
- Penarikan sanksi ekonomi
- Penghentian dukungan militer terhadap negara-negara Teluk
- Pemulihan aset keuangan yang dibekukan
Kondisi ini membuat aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas. Ketidakpastian ini menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Obligasi dan Mata Uang
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis ke 4,673 persen. Pergerakan ini terjadi seiring pemerintah AS akan menerbitkan obligasi baru senilai USD125 miliar sepanjang pekan ini.
- Pergerakan Mata Uang Utama
- Dolar AS melemah terhadap euro
- Euro berada di level tertinggi tujuh minggu di USD1,1557
- Yen Jepang dan dolar Australia juga menguat tipis
Penurunan imbal hasil obligasi AS turut mendukung harga emas. Logam mulia ini bertahan di kisaran USD4.342 per ons setelah pekan lalu mencatat kenaikan lebih dari 7 persen.
Perbandingan Pergerakan Indeks Saham
| Indeks | Negara | Pergerakan (%) |
|---|---|---|
| Nikkei | Jepang | +0,6% |
| KOSPI | Korea Selatan | +0,5% |
| MSCI Asia Pasifik (ex-Japan) | Asia | +0,3% |
| EUROSTOXX 50 | Eropa | -0,1% |
| DAX | Jerman | -0,1% |
| FTSE | Inggris | -0,4% |
| S&P 500 (kontrak) | AS | -0,1% |
| Nasdaq (kontrak) | AS | 0% |
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
-
Geopolitik Timur Tengah
- Ketegangan Iran dan AS
- Pembukaan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz
-
Kebijakan Moneter AS
- Ekspektasi kenaikan suku bunga
- Data inflasi Juli 2026
-
Sentimen Pasar Saham
- Penguatan Wall Street
- Optimisme investor terhadap kinerja korporasi
Perkiraan Minggu Ini
Investor akan fokus pada rilis data ekonomi utama, terutama CPI Juli 2026. Selain itu, perkembangan geopolitik di Teluk Persia akan terus dipantau karena berpotensi memicu volatilitas pasar.
- Agenda Penting Minggu Ini
- Selasa: Rilis data produksi industri AS
- Rabu: Data CPI Juli 2026
- Kamis: Rilis data retail sales
- Jumat: Rilis data PMI manufaktur dan jasa
Disclaimer
Data dan perkiraan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Angka yang digunakan adalah data terkini hingga Agustus 2026 dan dapat berbeda dengan rilis aktual.
Agung Budianto adalah seorang jurnalis senior yang Lahir di Jakarta pada tahun 1992, Ardhi telah mengabdikan hampir dua dekade hidupnya dalam dunia jurnalistik digital Indonesia.
