Beranda » Nasional » Dolar Amerika Sentuh Rekor Baru Tertinggi Sejak Bulan Januari Tahun Ini

Dolar Amerika Sentuh Rekor Baru Tertinggi Sejak Bulan Januari Tahun Ini

Dolar AS mencatatkan level tertinggi sejak awal tahun 2026 seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven. Penguatan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Indeks dolar yang mengukur performa greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,6% menjadi 98,99 pada Selasa, 3 Maret 2026. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Januari lalu dan memperpanjang tren penguatan yang dimulai sejak Senin.

Lonjakan nilai dolar dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik antara Iran dan sejumlah negara di kawasan. Serangan rudal ke beberapa negara, termasuk Arab Saudi, Bahrain, dan Yordania, memicu gelombang permintaan terhadap mata uang AS sebagai pelindung nilai. Investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap aman saat situasi ekonomi atau politik tidak menentu.

Faktor Pendorong Penguatan Dolar AS

1. Permintaan Safe Haven Global

Dolar AS selalu menjadi pilihan utama investor saat dunia dilanda ketidakstabilan. Dalam beberapa pekan terakhir, konflik yang awalnya hanya antara Iran dan Amerika Serikat mulai meluas ke negara-negara tetangga. Serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh dan pusat data Amazon di UEA menjadi pemicu utama lonjakan permintaan terhadap dolar.

Selain itu, Israel juga ikut terlibat dalam eskalasi ketegangan dengan menargetkan Iran dan Lebanon. Serangan dari kelompok Hizbullah yang didukung Iran semakin memperburuk situasi. Dalam kondisi seperti ini, dolar menjadi tempat berlindung karena dianggap lebih stabil dibanding mata uang lain.

2. Spekulasi Inflasi dan Kebijakan Bank Sentral

Ahli strategi valuta asing Thierry Wizman dari Macquarie menyatakan bahwa inflasi yang kembali naik bisa menjadi faktor utama yang memicu kepanikan pasar. Lonjakan inflasi yang terjadi pada 2022 dan 2023 akibat Perang Rusia-Ukraina sempat memaksa bank sentral untuk mengetat kebijakan. Jika konflik saat ini berlangsung lama, risiko inflasi global bisa kembali meningkat.

Baca Juga:  Harga Minyak Global Anjlok 5 Persen Setelah Iran Mengumumkan Gencatan Senjata Perang Regional

Kenaikan inflasi juga bisa memaksa bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk mengubah rencana pemotongan suku bunga. Sebelumnya, pasar memperkirakan akan ada dua kali pemotongan suku bunga oleh Fed pada 2026. Namun, jika inflasi kembali mengancam, prospek tersebut bisa dibatalkan, sehingga dolar tetap menarik bagi investor.

Dampak pada Mata Uang Lain

1. Euro Melemah Akibat Ketidakpastian Energi

Di pasar Eropa, euro mengalami tekanan besar terhadap dolar. EUR/USD turun 0,6% menjadi 1,1621. Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh ketergantungan Eropa terhadap impor energi. Lonjakan harga energi global akibat ketegangan geopolitik membuat inflasi di zona euro tetap tinggi.

Data inflasi konsumen untuk Februari 2026 akan dirilis dalam waktu dekat. Diperkirakan angka tahunan akan mencapai 1,7%, sama seperti Januari. Angka inti (tanpa makanan dan energi volatil) diperkirakan mencapai 2,2%. Jika data ini melebihi ekspektasi, Bank Sentral Eropa (ECB) bisa saja menunda langkah penurunan suku bunga.

2. Yen Jepang dan Dolar Australia Melemah

Di Asia, yen Jepang juga mengalami tekanan. USD/JPY naik menjadi 157,52 setelah melonjak 0,8% sehari sebelumnya. Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Hal ini membuat kemungkinan kenaikan suku bunga menjadi lebih kecil, sehingga yen melemah terhadap dolar.

Sementara itu, AUD/USD turun 0,6% menjadi 0,7048. Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko selalu menjadi korban saat investor memilih portofolio yang lebih aman. Pelemahan ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian global.

3. Franc Swiss dan Yuan China

EUR/CHF turun 0,3% menjadi 0,9076 setelah Bank Nasional Swiss menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing. Franc Swiss sempat mencatat level tertinggi terhadap euro dalam lebih dari satu dekade. Intervensi bank sentral ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga:  Harga Minyak Global Anjlok, Brent Sentuh Level USD87 per Barel

Di sisi lain, USD/CNY naik 0,3% menjadi 6,8996. Angka ini menunjukkan bahwa yuan masih berada di bawah tekanan meskipun telah pulih sedikit dari level terendah dalam tiga tahun yang tercatat pekan lalu.

Perbandingan Kinerja Mata Uang Terhadap Dolar AS (3 Maret 2026)

Mata Uang Pasangan Perubahan (%) Keterangan
Euro EUR/USD -0,6% Melemah akibat inflasi energi
Poundsterling GBP/USD -0,3% Tetap tertekan oleh ketidakpastian Brexit dan ekonomi global
Yen USD/JPY +0,8% Dolar menguat akibat kehati-hatian BoJ
Franc Swiss EUR/CHF -0,3% Intervensi BNS tekan nilai franc
Dolar Australia AUD/USD -0,6% Melemah karena risiko geopolitik
Yuan USD/CNY +0,3% Pemulihan kecil dari level terendah 3 tahun

Kesimpulan

Penguatan dolar AS pada Maret 2026 terjadi karena kombinasi antara permintaan safe haven dan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral. Lonjakan konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian global, yang membuat investor beralih ke dolar sebagai pelindung nilai. Meskipun mata uang lain seperti euro dan yen mengalami tekanan, dolar tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.

Namun, perlu dicatat bahwa situasi geopolitik dan ekonomi sangat dinamis. Data yang digunakan dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan global.

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.