Harga minyak dunia kembali naik tipis di awal Maret 2026, meski pergerakannya terbilang fluktuatif. Lonjakan kecil ini terjadi seiring dengan ketegangan geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Para pelaku pasar terus memantau situasi pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target militer Iran, yang berujung pada ancaman pembalasan dari Teheran.
Di tengah situasi tersebut, harga minyak Brent berakhir naik 0,4 persen di level USD81,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih tajam, yakni 0,7 persen, mencapai USD75,07 per barel. Kedua jenis minyak ini bahkan mencatat kenaikan hampir lima persen pada penutupan sebelumnya, menjadikan awal pekan ini sebagai momentum penguatan yang cukup signifikan.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Perangkat keras geopolitik kembali menjadi pendorong utama fluktuasi harga minyak. Serangan terkoordinasi AS-Israel pada akhir pekan lalu menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Respons cepat dari Iran berupa peluncuran rudal dan drone ke negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Ancaman langsung terhadap jalur pengiriman minyak global, terutama Selat Hormuz, menjadi fokus utama pasar. Jalur sempit ini menjadi arteri kritis bagi ekspor minyak dari negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen minyak global melewati selat ini setiap harinya.
1. Iran Ancam Jalur Hormuz
Iran secara terbuka mengancam kapal-kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Ancaman ini bukan sekadar retorika, karena beberapa kapal telah menjadi target serangan sejak eskalasi dimulai. Ketidakpastian ini menciptakan premi risiko yang langsung tercermin pada harga minyak global.
2. Produksi Irak Anjlok
Irak, sebagai salah satu produsen minyak terbesar di kawasan, mulai merasakan dampak langsung dari ketegangan ini. Produksi minyak di negara itu terpaksa dipangkas secara drastis karena kekhawatiran terhadap keamanan pasokan dan keterbatasan fasilitas penyimpanan.
- Ladang Rumaila: Penurunan produksi sebesar 700 ribu barel per hari
- Ladang West Qurna 2: Penurunan sekitar 450 ribu barel per hari
- Ladang Maysan: Penurunan sekitar 350 ribu barel per hari
- Wilayah Kirkuk: Produksi ditangguhkan sebagai langkah pencegahan
3. Kapal Tanker Hindari Jalur Hormuz
Banyak operator pelayaran mulai menghindari Selat Hormuz demi menghindari risiko serangan. Sejumlah kapal mengalihkan rute ke alternatif yang lebih panjang, seperti sekitar Semenanjung Arab. Meski tidak menghentikan total aliran minyak, perubahan ini mulai mengganggu efisiensi rantai pasok global.
Data Ekonomi AS Dorong Sentimen Positif
Di tengah ketegangan geopolitik, pasar tetap mendapat dukungan dari data ekonomi AS yang solid. Pertumbuhan lapangan kerja swasta sebesar 63.000 pada Februari 2026 memberikan sinyal positif bagi pemulihan ekonomi. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penambahan sekitar 50.000 lapangan kerja.
Data tersebut memberikan keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh meski menghadapi tekanan inflasi. Namun, lonjakan harga minyak berpotensi memicu kenaikan harga barang secara umum, yang bisa membuat bank sentral seperti Federal Reserve lebih hati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Fokus selanjutnya tertuju pada laporan non-farm payroll yang akan dirilis akhir pekan ini. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan pasar tenaga kerja AS dan dampaknya terhadap kebijakan moneter.
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak
Goldman Sachs, salah satu lembaga keuangan terkemuka, menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan WTI untuk kuartal kedua 2026. Perubahan ini didasarkan pada asumsi bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz akan tetap terganggu dalam beberapa pekan mendatang.
Berikut rincian proyeksi terbaru dari Goldman Sachs:
| Jenis Minyak | Proyeksi Sebelumnya | Proyeksi Baru | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Brent | USD66 per barel | USD76 per barel | USD10 |
| WTI | USD62 per barel | USD71 per barel | USD9 |
1. Persediaan OECD Diprediksi Turun Tajam
Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, persediaan minyak di negara-negara OECD berpotensi turun drastis. Hal ini akan memicu lonjakan harga lebih lanjut, terutama jika produksi dari negara-negara Timur Tengah juga terganggu.
2. Risiko USD100 per Barel Semakin Nyata
Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika volume lalu lintas Hormuz tetap rendah selama lima minggu berturut-turut, harga Brent bisa mencapai USD100 per barel. Level ini biasanya menjadi titik di mana permintaan global mulai melambat karena harga yang terlalu tinggi.
Respons Pasar dan Strategi Investasi
George Smith, ahli strategi portofolio di LPL Financial, menyatakan bahwa pasar energi umumnya menunjukkan volatilitas tinggi selama krisis geopolitik. Namun, sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga akibat ketegangan biasanya bersifat sementara.
"Secara historis, harga minyak melonjak karena risiko pasokan yang dirasakan. Saham energi seringkali berkinerja lebih baik dalam jangka pendek. Namun, tekanan harga cenderung mereda setelah pasokan fisik dan distribusi terbukti tetap stabil," kata Smith.
Investor saat ini dihadapkan pada dilema antara potensi keuntungan jangka pendek dari saham energi dan risiko jangka panjang dari volatilitas harga. Banyak yang mulai mempertimbangkan diversifikasi portofolio sebagai langkah antisipatif.
Disclaimer
Data dan proyeksi harga minyak dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini hingga Maret 2026. Harga minyak sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik, ekonomi global, dan kebijakan pemerintah negara produsen. Oleh karena itu, angka-angka yang disebutkan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.