Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS sempat terperosok pada Jumat, 6 Maret 2026, usai rilis data penggajian non-pertanian yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve bakal segera menurunkan suku bunga. Namun, meski melemah di sesi harian, dolar tetap berpotensi naik dalam rentang mingguan berkat permintaan terhadap aset safe-haven akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat turun 0,4 persen menjadi 98,89. Meski begitu, dolar masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,3 persen. Angka ini merupakan lonjakan tertinggi sejak Agustus 2025. Pergerakan ini menunjukkan bahwa meskipun data domestik melemah, situasi geopolitik global justru mendongkrak permintaan terhadap dolar.
Data Penggajian Non-Pertanian Surprise Market
Laporan penggajian non-pertanian Februari 2026 menjadi sorotan utama pelaku pasar. Data yang dirilis menunjukkan bahwa ekonomi AS kehilangan 92.000 lapangan kerja, jauh dari prediksi konsensus yang memperkirakan penambahan 58.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran pun naik dari 4,1 persen menjadi 4,4 persen.
Angka ini menjadi kejutan besar mengingat tren sebelumnya menunjukkan pemulihan yang cukup solid. Bahkan, data Januari yang awalnya mencatat penambahan 130.000 pekerjaan direvisi turun menjadi 126.000. Sementara itu, angka Desember 2025 juga direvisi dari penambahan 48.000 menjadi pengurangan 17.000 lapangan kerja.
1. Reaksi Pasar terhadap Data Tenaga Kerja
Investor langsung merespons dengan meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga Fed. Pasar mulai memasang taruhan lebih besar pada langkah dovish dari bank sentral AS dalam beberapa pertemuan mendatang. Suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan dolar karena imbal hasil aset yang terkait menjadi kurang menarik.
2. Dampak pada Sentimen Investor
Data yang mengecewakan ini memicu pergerakan bearish terhadap dolar di sesi Asia dan Eropa. Namun, karena konflik di Timur Tengah semakin memanas, permintaan terhadap safe-haven assets seperti dolar tetap tinggi. Ini menciptakan dinamika yang cukup kompleks di pasar valuta asing.
Konflik Timur Tengah Dorong Permintaan Safe-Haven
Meski data fundamental AS melemah, dolar tetap mendapat dukungan dari situasi ketegangan geopolitik global. Pada Kamis malam, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan bahwa kekuatan militer AS akan ditingkatkan secara signifikan untuk menghadapi ancaman dari Iran.
Langkah ini diikuti dengan pernyataan dari Israel yang menyatakan telah melancarkan serangan berskala besar terhadap infrastruktur Iran. Sebagai balasan, Iran menargetkan sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel, Turki, dan Azerbaijan. Ketegangan ini memperluas dampaknya ke pasar global.
3. Respons Pasar terhadap Ketidakpastian Geopolitik
Dolar sebagai safe-haven asset kembali menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian meningkat. Meskipun terjadi koreksi harian, dolar tetap berpotensi mencatat kenaikan mingguan. Analis dari ING menyatakan bahwa selama tidak ada terobosan politik yang membawa perdamaian, dolar akan tetap kuat.
4. Perkiraan Tekanan pada Indeks Dolar
Indeks dolar saat ini mendekati level psikologis 100. Menurut David Morrison dari Trade Nation, level ini menjadi resistensi penting yang sulit ditembus. Namun, setelah beberapa kali gagal menembus 100 pada November 2025, indeks akhirnya melemah ke level terendah empat tahun di akhir Januari 2026.
Pergerakan Pasangan Mata Uang Utama
Selain dolar, pasangan mata uang utama juga menunjukkan pergerakan yang cukup signifikan sepanjang pekan. Berikut adalah rincian kinerja beberapa pasangan utama:
| Pasangan | Pergerakan Harian | Pergerakan Mingguan |
|---|---|---|
| EUR/USD | Datar di 1,1611 | Turun 1,7% |
| GBP/USD | Naik 0,3% menjadi 1,3393 | Turun 0,8% |
| USD/JPY | Naik 0,2% menjadi 157,83 | Naik 1,1% |
| USD/CNY | Naik 0,1% menjadi 6,8965 | Naik mingguan |
| AUD/USD | Naik 0,3% menjadi 0,7026 | Turun 1,3% |
5. EUR/USD Tertekan oleh Prospek Ekonomi Eropa
Euro mengakhiri perdagangan datar di kisaran 1,1611. Namun, mata uang tunggal Eropa ini berpotensi mencatat kerugian mingguan sebesar 1,7 persen. Lonjakan harga energi dan data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi menjadi tekanan utama bagi ekspektasi pertumbuhan di kawasan.
Produk domestik bruto (PDB) zona euro untuk kuartal terakhir 2025 diperkirakan tumbuh 0,3 persen secara kuartalan dan 1,3 persen secara tahunan. Namun, angka ini masih di bawah ekspektasi pasar.
6. GBP/USD Terus Tertekan oleh Kebijakan Domestik
Sterling mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3 persen ke level 1,3393. Meski begitu, pound tetap berada di jalur untuk mencatat kerugian mingguan sebesar 0,8 persen. Pemerintah Inggris tengah menghadapi tantangan besar akibat lonjakan harga energi yang memperburuk situasi ekonomi.
7. USD/JPY Naik Didorong oleh Pelemahan Yen
Pasangan USD/JPY naik 0,2 persen ke level 157,83. Yen Jepang terus tertekan akibat krisis energi global yang mendorong inflasi. Jepang sebagai negara pengimpor energi terbesar di dunia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia.
8. USD/CNY dan Target Pertumbuhan Tiongkok
Yuan Tiongkok juga mengalami tekanan, dengan USD/CNY naik tipis 0,1 persen ke level 6,8965. Otoritas Tiongkok baru saja mengumumkan target pertumbuhan ekonomi terendah sejak tahun 1991, yang memicu kekhawatiran terhadap prospek ekonomi negara tersebut.
9. AUD/USD Terus Tertekan oleh Sentimen Risiko
Dolar Australia mengalami kenaikan harian sebesar 0,3 persen ke level 0,7026. Namun, AUD tetap berada di jalur untuk mencatat kerugian mingguan sebesar 1,3 persen. Mata uang ini sangat sensitif terhadap sentimen risiko, dan saat ini investor cenderung menghindari eksposur terhadap aset berisiko.
Penutup
Meskipun data tenaga kerja AS melemah, dolar tetap menunjukkan ketangguhan berkat permintaan safe-haven akibat ketegangan geopolitik. Namun, jika situasi di Timur Tengah mereda atau jika data ekonomi AS membaik, dolar bisa kembali menguat dalam waktu dekat.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026.
Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.