Beranda » Nasional » Emas Kembali Mengilap di Pasar Keuangan Global Setelah Harga Naik 2% Dalam Seminggu Terakhir

Emas Kembali Mengilap di Pasar Keuangan Global Setelah Harga Naik 2% Dalam Seminggu Terakhir

Harga emas kembali menunjukkan kilauan positif di awal Maret 2026. Lonjakan ini terjadi seiring dengan melemahnya nilai dolar AS yang dipicu oleh data tenaga kerja yang mengecewakan. Investor pun kembali memandang emas sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian global.

Pagi itu, harga emas spot mencatat kenaikan 1,6 persen, menyentuh level USD5.162,42 per ons. Tak kalah menarik, emas berjangka juga naik 1,8 persen, hingga mencapai USD5.170,14 per ons. Meski begitu, dalam hitungan mingguan, logam mulia ini masih tercatat minus 2,2 persen, sementara dolar justru naik 1,4 persen.

Dinamika Emas dan Dolar dalam Tarik-Urung Geopolitik

Pergerakan harga emas dan dolar sering kali saling berkaitan. Saat konflik geopolitik meningkat, investor biasanya mencari perlindungan di emas. Namun, jika dolar menguat karena ekspektasi kebijakan moneter, emas bisa tertekan. Minggu ini menjadi contoh bagaimana keduanya bermain dalam tarik-ulur yang rumit.

1. Lonjakan Emas Awal Pekan Dipicu Ketegangan Timur Tengah

Awal pekan ini, harga emas sempat melonjak tajam, bahkan menyentuh level di atas USD5.400 per ons. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor langsung mencari aset yang dianggap aman, dan emas menjadi pilihannya.

Namun, seiring waktu, pasar mulai menyerap situasi. Dolar yang menguat kembali menjadi pendorong utama tekanan terhadap harga emas. Meski demikian, latar belakang risiko geopolitik tetap menjadi faktor penopang jangka panjang.

2. Dolar dan Emas Berperan Ganda sebagai Safe-Haven

Dalam kondisi ketegangan global, baik dolar maupun emas bisa berperan sebagai safe-haven. Tapi, keduanya tidak selalu bergerak searah. Saat dolar menguat karena ekspektasi suku bunga, emas bisa tertekan. Namun, jika ketidakpastian terus berlarut, emas tetap menjadi pilihan utama.

Ahli strategi pasar senior untuk Amerika Utara di World Gold Council, Joseph Cavatoni, menyebut bahwa fenomena ini bukan hal yang aneh. Dalam tekanan geopolitik, peran dolar dan emas bisa bergantian tergantung sentimen pasar.

Data Tenaga Kerja AS yang Suram Tekan Dolar

1. Penurunan Lapangan Kerja Tak Terduga

Data tenaga kerja AS untuk Februari 2026 mengejutkan pasar. Alih-alih menambah lapangan kerja sebanyak 58 ribu, ternyata jumlahnya justru turun 92 ribu. Angka ini jauh dari ekspektasi dan menjadi yang terburuk dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga:  Prabowo Instruksikan Aplikator Segera Cairkan THR Ojol Sebelum Lebaran

Bahkan, data Januari juga direvisi turun dari 130 ribu menjadi 126 ribu. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS sedang menghadapi tekanan yang lebih besar dari yang diperkirakan.

2. Tingkat Pengangguran Naik ke 4,4 Persen

Tingkat pengangguran yang naik menjadi 4,4 persen juga memperkuat sinyal perlambatan ekonomi. Padahal, sebelumnya diperkirakan akan tetap di level 4,3 persen. Lonjakan pengangguran ini memberi tekanan pada Indeks Dolar AS yang akhirnya turun 0,4 persen.

Investor pun mulai mempertimbangkan kemungkinan The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga. Situasi ini memberi ruang bagi emas untuk kembali menarik minat.

Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Minyak dan Inflasi

1. Serangan dan Balasan di Kawasan Timur Tengah

Pekan ini, ketegangan di Timur Tengah semakin memanas. Serangan rudal dan balasan antara AS, Israel, dan Iran membuat investor khawatir akan gangguan pasokan energi global. Presiden Donald Trump bahkan menyatakan ingin ikut menentukan pemimpin Iran pasca-konflik.

Kondisi ini membuat harga minyak melonjak. Lonjakan harga energi selalu berpotensi memicu inflasi, yang bisa memaksa bank sentral untuk menunda langkah menurunkan suku bunga.

2. Dampak pada Prospek Bank Sentral Global

Lonjakan harga minyak membuat bank sentral seperti The Fed harus lebih hati-hati. Inflasi yang tinggi bisa membatasi ruang gerak mereka dalam memangkas suku bunga. Padahal, pasar sedang menunggu sinyal pemotongan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan.

Emas, sebagai aset yang cenderung menguntungkan saat suku bunga rendah, tetap menjadi sorotan. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi juga membuat daya tarik emas sedikit tergerus.

Performa Logam Lainnya di Pasar Global

1. Perak dan Platinum Ikut Naik

Di antara logam mulia lainnya, perak mencatat kenaikan 2,6 persen, mencapai USD84,4210 per ons. Platinum juga naik 0,9 persen, hingga USD2.147,95 per ons. Keduanya ikut menunjukkan performa positif meski tidak sebesar emas.

Baca Juga:  Peralihan Kompor Gas ke Listrik dan Mobil Listrik Diproyeksikan Tingkatkan Ketahanan Energi Nasional Hingga 2030

2. Tembaga LME Alami Lonjakan Stok

Di sisi lain, tembaga mengalami dinamika yang berbeda. Harga tembaga acuan di London Metal Exchange turun 1,2 persen menjadi USD12.902,00 per ton. Namun, harga tembaga berjangka AS justru naik 0,5 persen menjadi USD5,8348 per pon.

Stok tembaga yang dilacak LME melonjak hampir 8 persen, mencapai level tertinggi dalam 16 bulan. Lonjakan ini dipicu oleh pergeseran insentif harga regional yang membuat logam lebih mengalir ke gudang global.

Tabel Perbandingan Kinerja Logam Mulia Maret 2026

Logam Harga (USD per unit) Perubahan (%)
Emas Spot 5.162,42 +1,6%
Emas Futures 5.170,14 +1,8%
Perak 84,4210 +2,6%
Platinum 2.147,95 +0,9%
Tembaga LME 12.902,00 -1,2%
Tembaga AS 5,8348 +0,5%

Lonjakan stok tembaga menciptakan tekanan jangka pendek bagi harga. Namun, dalam jangka panjang, dinamika ini bisa menciptakan peluang baru tergantung arah kebijakan perdagangan global.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Sorotan di Tengah Gejolak Global

Harga emas di Maret 2026 menunjukkan bahwa logam mulia ini tetap menjadi pilihan utama saat ketidakpastian global meningkat. Meski dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik, tekanan geopolitik dan data ekonomi yang lemah justru memperkuat daya tarik emas.

Investor tetap harus waspada, karena situasi bisa berubah dengan cepat. Namun, dalam jangka panjang, emas tetap menjadi aset yang layak diperhatikan.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi geopolitik dan kebijakan makro ekonomi global.

Eva Agustin
Jurnalis

Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.