Beranda » Nasional » Rupiah Melemah 0,14 Persen pada Penutupan Senin Sore Capai Rp16.949 per Dolar AS

Rupiah Melemah 0,14 Persen pada Penutupan Senin Sore Capai Rp16.949 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali terpuruk pada perdagangan Senin sore, 9 Maret 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,14% atau 24 poin ke level Rp16.949 per USD. Posisi ini lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di angka Rp16.925 per USD.

Pergerakan rupiah sepanjang sesi sempat menunjukkan volatilitas cukup tinggi. Puncak pelemahan terjadi di kisaran Rp17.019 per USD, sebelum akhirnya pulih sedikit menjelang penutupan pasar. Meski begitu, tekanan terhadap rupiah tetap terasa, terutama seiring lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dinamika Rupiah dan Sentimen Global

Perdagangan rupiah pada Senin siang menunjukkan tren negatif sejak awal sesi. Data dari Bloomberg mencatat, rupiah sempat melemah hingga 70 poin sebelum stabil di kisaran Rp16.949 per USD. Di sisi lain, Yahoo Finance mencatat rupiah berada di posisi Rp16.935 per USD, turun 21 poin atau 0,12% dibanding hari sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Jisdor juga mencatat pelemahan cukup signifikan. Rupiah ditutup di level Rp16.974 per USD, turun 55 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.919 per USD. Pelemahan ini menjadi cerminan dari tekanan eksternal yang semakin besar, terutama dari lonjakan harga komoditas energi dan ketidakpastian geopolitik.

1. Lonjakan Harga Minyak Dunia

Salah satu faktor utama yang menyebabkan rupiah melemah adalah lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah melonjak hingga 30%, mendekati level USD100 per barel. Lonjakan ini terjadi akibat ketegangan di Timur Tengah, khususnya serangan rudal Iran ke fasilitas minyak di kawasan tersebut.

2. Ketegangan Geopolitik di Selat Hormuz

Serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global. Jalur pelayaran strategis ini menjadi sumber utama minyak bagi sebagian besar negara Asia, termasuk Indonesia. Ketidakstabilan di kawasan ini langsung berdampak pada performa mata uang-mata uang yang bergantung pada impor energi.

Baca Juga:  Rupiah Menguat 76 Poin Menuju Level Rp17.805 per Dolar AS

3. Perubahan Kepemimpinan di Iran

Iran juga mengumumkan pergantian kepemimpinan tertinggi, dengan Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Perubahan ini menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali, memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan.

Dampak pada APBN dan Defisit Fiskal

Harga minyak yang melonjak hingga USD92 per barel jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026. Pemerintah semula memperkirakan harga minyak rata-rata di USD70 per barel. Lonjakan ini berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun.

Jika harga minyak terus berada di atas USD100 per barel, defisit APBN terhadap PDB bisa menyentuh angka 3%. Angka ini merupakan batas maksimal yang diatur dalam UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Melampaui batas tersebut, risiko fiskal nasional akan semakin besar.

Tabel: Proyeksi Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap APBN 2026

Harga Minyak per Barel Defisit Tambahan (Rp) Persentase terhadap PDB
USD70 Rp0 1,8%
USD92 Rp6,8 triliun 2,5%
USD100 Rp10 triliun 3,1%

Strategi Menghadapi Tekanan Eksternal

Di tengah tekanan eksternal yang semakin besar, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Beberapa langkah penting yang bisa diambil antara lain:

1. Efisiensi Anggaran Negara

Efisiensi anggaran menjadi kunci untuk mengurangi defisit. Belanja negara harus difokuskan pada kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan. Pengeluaran yang tidak produktif perlu dipangkas secara signifikan.

2. Akselerasi Program Konversi Energi

Program konversi energi dari minyak ke energi baru dan terbarukan perlu dipercepat. Energi surya (PLTS), air (PLTA), dan angin (PLTB) menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya dalam jangka panjang. Program ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Baca Juga:  Rupiah Terus Terpuruk Hingga Tembus Level Rp18 Ribu per Dolar AS, Bagaimana Dampaknya pada Biaya Hidup Masyarakat?

3. Stimulus Ekonomi dan Deregulasi

Stimulus ekonomi tetap diperlukan agar pertumbuhan tidak terpuruk. Pemerintah perlu melakukan deregulasi terhadap aturan-aturan yang menghambat investasi dan pertumbuhan usaha. Biaya dan waktu pengurusan izin juga perlu disederhanakan agar lebih ramah bagi pelaku usaha.

Proyeksi Rupiah untuk Perdagangan Mendatang

Melihat dinamika yang terjadi, analis memperkirakan rupiah akan tetap fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per USD.

Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan Bank Indonesia dalam mengendalikan nilai tukar. Investor global juga akan terus memantau kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dalam menghadapi tekanan eksternal.

Penutup

Rupiah yang melemah pada Senin sore mencerminkan tekanan dari luar yang semakin besar. Lonjakan harga minyak dan ketegangan di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif. Namun, dengan kebijakan yang tepat, tekanan ini bisa dikelola tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi makro.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global dan kebijakan pemerintah.

Andrea Hirata
Jurnalis

Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.