Wall Street kembali terperosok untuk minggu ketiga berturut-turut. Sentimen pasar saham Amerika Serikat terus tertekan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya serangan militer AS dan Israel ke Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Investor tampaknya mulai khawatir dengan dampak jangka panjang dari ketegangan regional ini terhadap stabilitas ekonomi global.
Indeks S&P 500 tercatat turun 0,6% pada penutupan Jumat, 13 Maret 2026, menutup di level 6.632,53. Penurunan ini menjadi bagian dari tren negatif yang sudah berlangsung selama tiga minggu berturut-turut. Sementara itu, indeks teknologi NASDAQ anjlok 0,9%, mencatat kerugian mingguan sebesar 1,3%. Indeks Dow Jones juga tak mampu bertahan, turun 0,3% pada akhir pekan yang suram itu.
Dampak Konflik Iran terhadap Pasar Saham AS
Lonjakan ketidakpastian global akibat operasi militer yang dilancarkan AS dan Israel ke Iran mulai berdampak nyata pada performa bursa efek Wall Street. Investor bereaksi dengan menarik dana dari pasar saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
1. Sentimen Pasar yang Tertekan
Sejak pecahnya konflik, investor global mulai memperhitungkan risiko geopolitik yang semakin tinggi. Pasar saham AS, yang sensitif terhadap gangguan eksternal, langsung merasakan dampaknya. Indeks S&P 500 dan Dow Jones telah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut menjelang akhir pekan.
2. Kekhawatiran terhadap Suplai Minyak Global
Iran mengancam akan terus menutup Selat Hormuz, jalur krusial yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ancaman ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai lebih dari USD100 per barel, naik 11% hanya dalam seminggu.
3. Data Ekonomi AS yang Kurang Membantu
Meskipun data inflasi inti PCE sesuai ekspektasi, pertumbuhan ekonomi yang direvisi turun dari 1,4% menjadi 0,7% pada kuartal IV 2025 justru memperburuk suasana. Investor mulai mempertanyakan ketahanan ekonomi AS di tengah ketegangan global.
Kronologi Perkembangan Konflik Iran
Konflik ini bermula dari serangan udara gabungan AS-Israel ke beberapa target militer Iran pada akhir Februari 2026. Respons dari Teheran datang cepat dan tajam, termasuk ancaman untuk menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
1. Serangan Awal dan Respons Iran
Serangan awal yang dilancarkan oleh AS dan Israel direspons dengan ancaman keras dari Iran. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi militer Barat.
2. Pernyataan Trump dan Reaksi G7
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer AS telah “benar-benar menghancurkan” infrastruktur militer dan ekonomi Iran. Dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin G7, Trump optimistis Iran akan segera menyerah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.
3. Strategi AS untuk Mengamankan Jalur Minyak
Departemen Keuangan AS mengumumkan kebijakan darurat yang memungkinkan negara-negara sekutu membeli minyak Rusia yang dikenai sanksi. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Teluk Persia yang terganggu akibat konflik.
Pergerakan Harga Minyak dan Dampaknya
Harga minyak Brent yang mencapai USD103,29 per barel pada Jumat, 13 Maret 2026, menjadi salah satu pemicu utama volatilitas pasar saham. Lonjakan harga ini tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga berdampak pada biaya produksi berbagai industri lainnya.
1. Fluktuasi Harga Minyak
| Tanggal | Harga Minyak Brent (USD/barel) | Keterangan |
|---|---|---|
| Awal Februari 2026 | 70 | Sebelum konflik |
| Akhir Februari 2026 | 90 | Setelah serangan pertama |
| Awal Maret 2026 | 119 | Puncak lonjakan |
| 13 Maret 2026 | 103,29 | Penutupan minggu |
2. Proyeksi Harga Minyak ke Depan
Investor saat ini memperkirakan peluang harga minyak mentah Brent mencapai USD100 atau lebih tinggi dalam tiga bulan ke depan adalah 1 banding 5. Ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat waspada terhadap eskalasi konflik.
Data Ekonomi AS yang Dirilis Akhir Pekan Ini
Selain tekanan dari luar, kondisi ekonomi domestik AS juga turut memengaruhi performa Wall Street. Data yang dirilis menjelang akhir pekan ini memberikan gambaran yang campur aduk.
1. Pertumbuhan Ekonomi yang Direvisi Turun
Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal IV 2025 direvisi turun dari 1,4% menjadi hanya 0,7%. Revisi ini mencerminkan perlambatan ekonomi yang lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.
2. Inflasi Inti PCE Sesuai Ekspektasi
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) naik 0,4% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan pada Januari 2026. Angka ini sesuai dengan prediksi, tetapi tetap jauh di atas target inflasi Fed sebesar 2%.
3. Pasar Tenaga Kerja yang Stabil
Lowongan pekerjaan pada Januari 2026 mencapai 6,946 juta, sedikit lebih tinggi dari prediksi 6,750 juta. Meski demikian, tren rekrutmen masih terlihat melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Proyeksi Pasar dan Rekomendasi Investor
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi domestik, investor disarankan untuk tetap waspada. Kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.
1. Waspadai Stagflasi
Ekonom senior Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management memperingatkan bahwa AS berpotensi menghadapi stagflasi—kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.
2. Diversifikasi Portofolio
Investor sebaiknya mempertimbangkan diversifikasi ke aset yang lebih stabil, seperti obligasi pemerintah atau logam mulia, sebagai antisipasi terhadap volatilitas pasar saham.
3. Pantau Perkembangan Konflik
Perkembangan konflik militer di Iran menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa pekan ke depan. Semakin cepat konflik mereda, semakin besar peluang pasar pulih.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini per Maret 2026. Angka dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global.
Haidar Adam adalah jurnalis profesional yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Ignacio membawa perspektif internasional dalam peliputan berita lokal dan nasional.