Beranda » Nasional » Harga Emas Global Anjlok di Tengah Melonjaknya Biaya Energi Dunia

Harga Emas Global Anjlok di Tengah Melonjaknya Biaya Energi Dunia

Harga emas dunia kembali terpuruk di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah mulai menggerus daya tarik emas sebagai aset safe haven. Meski biasanya logam mulia ini justru merangkak naik saat situasi global tidak menentu, kali ini reaksi pasar justru berbeda.

Dolar AS yang menguat menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Investor tampaknya lebih memilih dolar sebagai pelindung nilai ketimbang emas. Apalagi dengan lonjakan harga energi yang berpotensi memicu inflasi lebih tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga juga ikut berubah.

Penurunan Emas di Tengah Ketidakpastian Global

1. Harga Emas Turun Lebih dari 1 Persen

Pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, harga emas spot turun 0,7% menjadi USD5.044,84 per ons. Sementara emas berjangka anjlok lebih dalam, mencatat penurunan 1,5% ke level USD5.049,86 per ons. Kinerja mingguan juga terlihat lesu, dengan prediksi penurunan sekitar 2,5% untuk emas spot dan 2,2% untuk emas berjangka.

2. Dolar yang Kuat Jadi Pendorong Utama

Dolar mengalami penguatan tajam akibat ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Indeks dolar naik seiring meningkatnya permintaan terhadap aset berimbal hasil. Emas yang tidak memberikan bunga jadi kurang menarik di mata investor.

3. Lonjakan Harga Minyak Picu Ketakutan Inflasi

Serangan militer AS dan Israel ke Iran memasuki pekan kedua tanpa tanda reda. Penutupan sebagian besar jalur pasok minyak di Selat Hormuz membuat harga energi global melonjak. Departemen Keuangan AS pun terpaksa mengeluarkan pengecualian baru untuk minyak Rusia yang disanksi.

Komoditas Harga (USD per ons) Perubahan (%)
Emas Spot 5.044,84 -0,7%
Emas Berjangka 5.049,86 -1,5%
Perak Spot 81,04 -3,3%
Platinum Spot 2.057,45 -5,0%
Baca Juga:  Avian Raih Laba Bersih Rp1,7 Triliun pada 2025, Bagaimana Strategi Mereka?

Faktor Pendorong di Balik Penurunan Emas

1. Ketegangan Geopolitik yang Tak Kunjung Reda

Meski biasanya emas diuntungkan dari situasi seperti ini, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Investor lebih memilih dolar dan obligasi pemerintah AS sebagai benteng perlindungan. Ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap "safe haven" sedang mengalami pergeseran.

2. Data Inflasi PCE Jadi Sorotan

Data inflasi inti PCE AS naik 0,4% secara bulanan pada Januari 2026, sesuai ekspektasi. Angka tahunan mencatat 2,8%, sedikit di bawah proyeksi 2,9%. Meski terkendali, lonjakan harga energi global bisa mengacaukan tren ini dalam waktu dekat.

3. Suku Bunga Tetap Tinggi

Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Keputusan ini didasari oleh kekhawatiran bahwa inflasi belum sepenuhnya terkendali. Suku bunga tinggi membuat emas terlihat kurang menarik karena tidak memberikan penghasilan tetap.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lain juga ikut terperosok. Perak turun 3,3% menjadi USD81,04 per ons. Platinum bahkan lebih terpuruk, anjlok hingga 5% ke level USD2.057,45 per ons. Kinerja mingguan kedua logam ini juga negatif, mencerminkan sentimen pasar yang sedang was-was.

Apa Kata Ahli?

David Morrison, analis senior di Trade Nation, menyebut bahwa investor mulai percaya bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Lonjakan harga energi di Februari 2026 diperkirakan akan memperparah tekanan inflasi yang sudah ada.

Namun, Morrison juga memperingatkan bahwa emas tidak sepenuhnya kehilangan daya tariknya. Ketegangan geopolitik masih bisa memicu lonjakan permintaan logam mulia ini kapan saja. Investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas tajam yang bisa terjadi kapan saja.

Baca Juga:  Harga Emas Perhiasan Turun Tajam Menjadi Rp455.000 per Gram pada 16 Mei 2026

Dampak pada Rumah Tangga

Tim Quinlan dari Wells Fargo menyebut bahwa pengeluaran konsumen di awal tahun masih menunjukkan momentum positif. Namun, lonjakan harga bensin akibat ketegangan di Iran bisa mengurangi daya beli rumah tangga dalam beberapa bulan mendatang.

Inflasi yang terkendali di awal tahun bisa saja berubah arah. Kenaikan harga energi berpotensi menggerus pengeluaran non-kebutuhan rumah tangga, terutama di kalangan kelas menengah ke bawah.

Proyeksi Jangka Pendek

Harga emas diperkirakan akan tetap berada di kisaran USD5.000 hingga USD5.200 per ons dalam beberapa pekan ke depan. Namun, jika ketegangan di Iran semakin memanas, lonjakan permintaan bisa mendorong harga kembali ke level tertinggi awal tahun, yaitu mendekati USD5.600 per ons.

Sebaliknya, jika situasi mereda dan dolar terus menguat, tekanan ke bawah bisa semakin dalam. Investor perlu memantau kebijakan suku bunga Fed dan perkembangan geopolitik secara ketat.

Disclaimer

Data harga emas dan komoditas lainnya bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab individu masing-masing.

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.