Fenomena unik terjadi di pasar keuangan Indonesia pada Januari 2026.
Nilai tukar rupiah terus tertekan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp16.993 pada perdagangan Selasa (20/1/2026). Di saat bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melesat dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.133,87.
Nah, kondisi ini memunculkan pertanyaan: mengapa pasar saham dan pasar valuta asing bergerak ke arah berlawanan?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara soal anomali ini. Dalam tayangan Metro Pagi Primetime, Rabu (21/1/2026), Menkeu menepis spekulasi bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh isu pertukaran pejabat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Berikut ulasan lengkap mengenai kondisi pasar keuangan Indonesia terkini beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Dua Wajah Pasar Keuangan Indonesia Hari Ini
Pasar keuangan Indonesia tengah menunjukkan dua arah berbeda yang cukup kontras.
Di satu sisi, rupiah mencatat pelemahan signifikan hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Kurs rupiah di pasar spot ditutup di posisi Rp16.955-16.981 per dolar AS, lebih tinggi dibanding puncak krisis moneter 1998 yang berada di sekitar Rp16.650.
Di sisi lain, IHSG justru mencatat kinerja gemilang dengan menembus level 9.133,87—sebuah rekor all time high baru. Volume transaksi mencapai 85,35 miliar saham dengan nilai Rp35,91 triliun.
Tabel Perbandingan Kondisi Pasar
| Indikator | Posisi Terkini | Perubahan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Kurs Rupiah | Rp16.981/USD | Melemah 0,27% | Level terlemah sepanjang sejarah |
| IHSG | 9.133,87 | Menguat 0,64% | All Time High baru |
| Jisdor BI | Rp16.981/USD | Melemah Rp46 | – |
Perbedaan arah ini merupakan cerminan dari mekanisme pasar yang merespons faktor global dan domestik secara berbeda, demikian menurut Menkeu Purbaya.
Rupiah Tertekan: Faktor Global vs Domestik
Pelemahan rupiah bukan dipicu oleh satu faktor tunggal. Menurut Peneliti Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, tekanan terhadap mata uang garuda merupakan akumulasi dari berbagai sentimen eksternal dan fundamental dalam negeri.
Sentimen Global yang Menekan
Dari sisi global, beberapa faktor menjadi penekan utama nilai tukar rupiah:
1. Penguatan Dolar AS sebagai Safe Haven
Ketidakpastian ekonomi global mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi negara maju. Kondisi ini membuat permintaan dolar meningkat signifikan.
2. Dinamika Geopolitik yang Memanas
Berdasarkan data dari pasar keuangan, beberapa ketegangan geopolitik turut mempengaruhi sentimen:
- Eskalasi konflik di Venezuela
- Memburuknya hubungan China dan Taiwan
- Dinamika geopolitik di kawasan Greenland terkait rencana Presiden AS Donald Trump
3. Kebijakan Moneter The Fed
Ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama menjadi faktor dominan yang menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Perbandingan Pergerakan Mata Uang Asia
| Mata Uang | Perubahan vs USD | Status |
|---|---|---|
| Rupiah Indonesia | -0,40% | Pelemahan terdalam |
| Won Korea | -0,27% | Melemah |
| Peso Filipina | -0,19% | Melemah |
| Rupee India | -0,08% | Melemah |
| Baht Thailand | +0,61% | Menguat |
| Dolar Singapura | +0,21% | Menguat |
Data di atas berdasarkan pergerakan pasar pada 19-20 Januari 2026 dan dapat berubah sesuai kondisi terkini.
Kekhawatiran Defisit Anggaran 3%
Dari sisi domestik, beberapa faktor ikut menekan rupiah:
1. Defisit Anggaran Mendekati Batas Hukum
Pada 8 Januari 2026 terungkap bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3% dari PDB. Citigroup bahkan meramalkan defisit tahun ini bisa mencapai 3,5%.
2. Penerimaan Negara yang Masih Lemah
Kondisi penerimaan negara yang belum optimal menambah tekanan terhadap sentimen pasar.
3. Ketergantungan Impor yang Tinggi
Indonesia masih bergantung pada impor energi, bahan baku, dan barang modal. Ketika tekanan global meningkat dan kinerja ekspor tidak cukup kuat, defisit transaksi berjalan berpotensi melebar.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa level mendekati Rp17.000 ini lebih mencerminkan dinamika arus modal dan psikologi pasar, bukan sinyal pelemahan struktural ekonomi Indonesia.
IHSG All Time High: Sektor Apa yang Mendorong?
Di tengah tekanan terhadap rupiah, IHSG justru mencatat kinerja mengesankan dengan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sektor Penggerak Utama Penguatan IHSG
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, beberapa sektor menjadi motor utama penguatan IHSG:
| Sektor | Kenaikan | Keterangan |
|---|---|---|
| Konsumer Non-Primer | +2,44% | Penggerak utama |
| Energi | +0,96% | Didorong sentimen komoditas |
| Infrastruktur | +0,89% | Sentimen positif domestik |
| Perbankan | Menguat | Big caps mendominasi |
Statistik Perdagangan IHSG
Aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai:
- Volume transaksi: 85,35 miliar saham
- Nilai transaksi: Rp35,91 triliun
- Frekuensi transaksi: 3,93 juta kali
- Saham menguat: 377 saham
- Saham melemah: 318 saham
- Saham stagnan: 110 saham
Menurut Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, pergerakan IHSG didorong oleh sektor saham consumer cyclical dan emiten-emiten perbankan berkapitalisasi besar.
Mengapa IHSG Bisa Menguat Saat Rupiah Melemah?
Fenomena ini sebenarnya tidak terlalu langka. Beberapa faktor yang menjelaskan:
1. Investor Domestik Mendominasi
Pasar saham Indonesia semakin didominasi oleh investor domestik yang tidak terlalu terpengaruh pergerakan kurs.
2. Sektor Ekspor Diuntungkan
Pelemahan rupiah justru menguntungkan sektor berbasis ekspor, terutama komoditas, karena margin keuntungan dalam rupiah meningkat.
3. Sentimen Berbeda
Pasar saham dan pasar valuta asing merespons sentimen yang berbeda. IHSG lebih merespons prospek pertumbuhan ekonomi domestik, sementara rupiah lebih sensitif terhadap arus modal global.
Pernyataan Menkeu Purbaya Soal Kondisi Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan terkait kondisi rupiah yang terus tertekan.
Ekonomi RI Sudah Terbiasa Hadapi Guncangan
Menkeu menegaskan bahwa ekonomi Indonesia sudah terbiasa menghadapi guncangan. Persentase pelemahan rupiah seharusnya tidak terlalu besar sehingga sistem ekonomi bisa mengatasinya.
“Dibanding level sebelumnya (lebih rendah). Jadi seharusnya sistem juga terbiasa, tapi yang penting adalah ketika fondasi ekonomi kita perbaiki terus. Orang akan melihat bagus. Investor akan balik termasuk investor asing.” — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Pasokan Dolar Masih Mencukupi
Purbaya menilai pasokan dolar seharusnya masih mencukupi karena dana asing masih tetap masuk ke pasar uang. Pemerintah berkomitmen menjaga dan memperbaiki ekonomi sehingga rupiah cenderung akan menguat ke depannya.
Fondasi Ekonomi Indonesia Masih Solid
Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, mendukung pandangan ini dengan menyatakan bahwa secara makro, fondasi ekonomi Indonesia masih relatif solid:
- Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga
- Defisit eksternal berada pada level yang dapat dikelola
- Cadangan devisa masih memadai sebagai bantalan stabilisasi
Isu Thomas Djiwandono dan Independensi BI
Salah satu spekulasi yang beredar di pasar adalah pelemahan rupiah dipicu oleh isu pertukaran pejabat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Apa Isu yang Beredar?
Presiden Prabowo Subianto menominasikan keponakannya, Thomas Djiwandono (saat ini Wakil Menteri Keuangan), sebagai salah satu calon Wakil Gubernur Bank Indonesia. Thomas akan menjadi salah satu dari tiga nama yang diajukan untuk menggantikan Wakil Gubernur BI Juda Agung yang mengundurkan diri.
Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa independensi bank sentral akan terganggu.
Bantahan Tegas Menkeu Purbaya
Menkeu Purbaya menepis spekulasi tersebut dengan tegas. Menurutnya, pergerakan rupiah tidak ditentukan oleh isu birokrasi.
“Ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana orang spekulasi dia independensinya akan hilang, saya pikir enggak akan begitu.” — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Metro Pagi Primetime (21/1/2026)
Independensi BI Tetap Terjaga
Pemerintah menegaskan bahwa independensi Bank Indonesia tetap terjaga meski muncul wacana pergeseran jabatan di lingkaran kebijakan fiskal dan moneter.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai dampak pengunduran diri Deputi BI tidak akan besar dibandingkan faktor-faktor lain seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI.
Proyeksi Kurs Rupiah dan IHSG ke Depan
Para analis memberikan proyeksi berbeda untuk pergerakan rupiah dan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.
Proyeksi Kurs Rupiah
| Sumber | Proyeksi Rupiah | Keterangan |
|---|---|---|
| Doo Financial Futures | Rp16.700 – Rp17.000 | Jangka pendek |
| Menkeu Purbaya | Cenderung menguat | Jika fondasi ekonomi terus diperbaiki |
Proyeksi IHSG
| Sumber | Support | Resistance |
|---|---|---|
| BNI Sekuritas | 9.040 – 9.100 | 9.170 – 9.200 |
| Mirae Asset | 9.025 – 8.975 | 9.150 – 9.200 |
| Pilarmas Sekuritas | 9.000 | 9.200 |
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyatakan IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas level 9.100.
Katalis yang Perlu Dipantau
Beberapa katalis yang akan mempengaruhi pergerakan pasar:
- RDG Bank Indonesia (21/1) – BI Rate diproyeksikan tetap di 4,75%
- Sentimen global – Kebijakan tarif impor AS dan geopolitik
- Data PDB Q4 – Akan dirilis awal Februari
Risiko yang Harus Diwaspadai Trader
Meski IHSG sedang dalam tren bullish, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
Risiko di Pasar Valuta Asing
1. Pelemahan Rupiah Berlanjut
Jika tren pelemahan rupiah berlanjut, sektor dengan ketergantungan impor tinggi dan eksposur utang valas akan paling rentan, terutama yang tidak terlindungi oleh skema lindung nilai.
2. Sektor yang Terancam:
- Industri manufaktur berbasis bahan baku impor
- Transportasi
- Sektor energi
3. Sektor yang Diuntungkan:
- Sektor berbasis ekspor terutama komoditas
- Perusahaan dengan pendapatan dalam dolar AS
Risiko di Pasar Saham
1. Potensi Koreksi
PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa potensi koreksi mulai terbuka. IHSG sudah naik cukup tinggi dalam waktu singkat.
2. Investor Asing Masih Net Sell
Meski IHSG menguat, investor asing justru tercatat melakukan net sell. Kondisi ini perlu diwaspadai jika berlanjut.
Tips Manajemen Risiko
Pemerintah mengimbau pelaku pasar untuk:
- Tidak terpancing spekulasi yang beredar
- Tetap mencermati perkembangan global
- Memperhatikan arah kebijakan ekonomi
- Melakukan hedging untuk eksposur valas
Kontak Layanan Informasi Pasar Keuangan
Untuk informasi lebih lanjut atau pengaduan terkait pasar keuangan, berikut kontak resmi yang bisa dihubungi.
| Institusi | Kontak | Website |
|---|---|---|
| Bank Indonesia | 131 | bi.go.id |
| Bursa Efek Indonesia | (021) 515-0515 | idx.co.id |
| OJK (Pengaduan) | 157 | ojk.go.id |
| Kementerian Keuangan | (021) 3449230 | kemenkeu.go.id |
| KSEI | (021) 5291-1220 | ksei.co.id |
Pastikan selalu mengakses informasi dari sumber resmi untuk menghindari spekulasi yang menyesatkan.
Penutup
Perbedaan arah antara rupiah dan IHSG merupakan cerminan dari mekanisme pasar yang merespons faktor global dan domestik secara berbeda. Menkeu Purbaya menegaskan bahwa pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, bukan isu birokrasi seperti yang dispekulasikan sebagian pihak.
Seluruh informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan data dari Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, dan pernyataan resmi Menteri Keuangan per 21 Januari 2026. Kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga disarankan untuk selalu memantau perkembangan terkini sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk bertransaksi di pasar keuangan. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Semoga informasi ini bermanfaat!
FAQ
Mengapa rupiah melemah tapi IHSG justru menguat?
Pasar saham dan pasar valuta asing merespons sentimen yang berbeda. IHSG lebih merespons prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan didominasi investor lokal, sementara rupiah lebih sensitif terhadap arus modal global dan sentimen eksternal seperti penguatan dolar AS.
Apa penyebab utama pelemahan rupiah Januari 2026?
Penyebab utama adalah faktor eksternal berupa penguatan dolar AS sebagai safe haven, dinamika geopolitik global, dan kebijakan moneter The Fed. Dari domestik, kekhawatiran defisit anggaran mendekati 3% dan penerimaan negara yang lemah turut menekan rupiah.
Apakah isu Thomas Djiwandono ke BI menyebabkan rupiah melemah?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis spekulasi tersebut. Menurutnya, pergerakan rupiah tidak ditentukan oleh isu birokrasi. Pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan dinamika pasar keuangan global.
Sektor apa yang paling terdampak jika rupiah terus melemah?
Sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi dan eksposur utang valas besar, seperti manufaktur berbasis bahan baku impor, transportasi, dan energi. Sebaliknya, sektor ekspor terutama komoditas justru diuntungkan oleh pelemahan rupiah.
Berapa proyeksi kurs rupiah dalam waktu dekat?
Analis memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.700-Rp17.000 per dolar AS dalam jangka pendek. Menkeu Purbaya meyakini rupiah akan cenderung menguat jika fondasi ekonomi terus diperbaiki dan investor asing kembali masuk.
Apakah kondisi rupiah saat ini lebih buruk dari krisis 1998?
Secara nominal, kurs rupiah saat ini (Rp16.981/USD) memang lebih tinggi dari puncak krisis 1998 (sekitar Rp16.650/USD). Namun menurut Indef, level ini lebih mencerminkan dinamika arus modal dan psikologi pasar, bukan sinyal pelemahan struktural ekonomi Indonesia karena fondasi ekonomi masih solid.
Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.
