Dolar Amerika Serikat (AS) terlihat stagnan di awal perdagangan Asia, Senin 4 Mei 2026. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tetap bertahan di level 98.144. Stabilitas ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang kembali memanas, terutama terkait ancaman Presiden Donald Trump untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Sentimen pasar tetap waspada. Langkah AS yang dianggap sebagai "isyarat kemanusiaan" itu justru memicu spekulasi tentang respons dari negara-negara lain, terutama Iran. Di sisi lain, beberapa mata uang seperti yen dan euro justru menunjukkan penguatan tipis, meski belum menjanjikan pergerakan besar dalam jangka pendek.
Yen Naik Tipis Usai Intervensi Dugaan
Pergerakan yen Jepang menjadi salah satu sorotan utama di pasar forex. Pasca-dugaan intervensi bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), mata uang ini menguat 0,1 persen menjadi 156,885 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya yen melonjak hampir 1,4 persen sepanjang April 2026, sebagian besar dipicu oleh langkah mendadak otoritas Jepang pada Kamis lalu.
1. Intervensi Yen yang Diduga Terjadi
Otoritas Jepang dikabarkan telah melakukan pembelian yen secara besar-besaran, yang merupakan langkah pertama dalam dua tahun terakhir. Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Tokyo, sumber-sumber di pasar menyebutkan bahwa Bank of Japan memang turun tangan untuk menahan pelemahan yen yang terus berlanjut.
2. Respons Pasar yang Belum Meyakinkan
Namun, efektivitas intervensi ini masih dipertanyakan. Banyak analis berpendapat bahwa dampaknya hanya bersifat jangka pendek. Mahjabeen Zaman, Kepala Riset FX di ANZ Bank, menyatakan bahwa fokus pasar kini beralih pada kemungkinan intervensi lanjutan, terutama mengingat Jepang sedang memasuki libur nasional Golden Week.
3. Potensi Intervensi Bilateral dengan AS
Zaman juga menyoroti potensi intervensi bersama antara Jepang dan AS. Jika yen terus melemah, tekanan untuk melakukan langkah koordinasi akan semakin besar. Ini bisa menjadi pemicu baru bagi pergerakan mata uang global dalam pekan-pekan mendatang.
Euro dan Pound Naik Tipis di Tengah Ketegangan AS-Eropa
Sementara itu, euro menguat tipis 0,1 persen menjadi USD1,1730. Penguatan ini terjadi setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz berusaha meredam ketegangan dengan pemerintah AS. Langkah ini diambil menyusul rencana Trump untuk menaikkan tarif kendaraan dari Uni Eropa menjadi 25 persen.
4. Diplomasi Jerman untuk Stabilkan Hubungan
Berlin tampaknya tidak ingin memperkeruh situasi. Pernyataan dari Kementerian Ekonomi Jerman menyebut bahwa mereka sedang menjalin komunikasi dengan Komisi Eropa dan pemerintah AS untuk mencari titik temu. Diplomasi ini diharapkan bisa menahan volatilitas euro dalam jangka pendek.
5. Poundsterling Ikut Naik Tipis
Poundsterling Inggris juga ikut naik 0,1 persen menjadi USD1,3586. Meski tidak ada kebijakan moneter baru dari Bank of England, mata uang ini tetap menunjukkan ketahanan terhadap tekanan global berkat ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih lambat dari yang diperkirakan.
Dolar Australia dan Selandia Baru Naik Tipis
Dolar Australia (AUD) naik tipis 0,1 persen menjadi USD0,7211. Di sisi lain, dolar Selandia Baru (NZD) menguat 0,2 persen menjadi USD0,5905. Kedua mata uang ini bergerak positif menjelang pengumuman kebijakan dari Reserve Bank of Australia (RBA) yang dijadwalkan Selasa, 5 Mei 2026.
6. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga di Australia
Sebagian besar analis memperkirakan bahwa RBA akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,35 persen. Namun, tekanan inflasi yang terus meningkat, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar akibat konflik Iran, menjadi tantangan tersendiri bagi bank sentral tersebut.
7. Peringatan dari Pengecer Besar
Dua pengecer bahan makanan terbesar di Australia baru-baru ini memperingatkan bahwa tekanan harga akan terus meningkat. Lonjakan biaya logistik dan bahan baku akibat ketegangan di Timur Tengah dikhawatirkan akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Perbandingan Kinerja Mata Uang Utama (4-5 Mei 2026)
| Mata Uang | Kurs terhadap USD | Perubahan (%) | Catatan |
|---|---|---|---|
| Yen (JPY) | 156,885 | +0,1% | Diduga intervensi BoJ |
| Euro (EUR) | 1,1730 | +0,1% | Diplomasi Jerman-AS |
| Pound (GBP) | 1,3586 | +0,1% | Stabil tanpa kebijakan baru |
| AUD | 0,7211 | +0,1% | Menanti keputusan RBA |
| NZD | 0,5905 | +0,2% | Penguatan tipis jelang RBA |
Faktor Penggerak Utama di Pasar Forex
Tidak ada satu pun faktor tunggal yang mendominasi pergerakan pasar forex saat ini. Namun, beberapa elemen berikut menjadi pendorong utama:
8. Ketegangan Geopolitik di Selat Hormuz
Ancaman Presiden Trump untuk membebaskan kapal-kapal di Selat Hormuz memicu ketidakpastian di pasar. Investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi, termasuk mata uang negara dengan ketergantungan tinggi pada perdagangan internasional.
9. Kebijakan Moneter Global
Bank sentral dunia, termasuk RBA, ECB, dan BoJ, tetap menjadi fokus utama. Setiap perubahan kecil dalam ekspektasi suku bunga bisa memicu volatilitas yang cukup signifikan.
10. Data Inflasi dan Pasar Tenaga Kerja
Meski belum dirilis secara resmi, ekspektasi data inflasi dan lapangan kerja dari beberapa negara maju menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dalam pekan mendatang.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Mei 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar global. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan konsultasi dengan ahli keuangan.
Eva Agustin adalah seorang jurnalis profesional, penulis, dan wartawan berpengalaman yang kini berkarya di banjoo.id, salah satu media online terbesar di Indonesia. Lahir pada Juli 1999, Eva telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia jurnalistik dan penulisan kreatif.
