Beranda » Nasional » Dolar AS Melemah Tipis di Tengah Sentimen Pasar Global yang Berubah Arah Menjadi Lebih Risk-On Selama Perdagangan Pagi Ini

Dolar AS Melemah Tipis di Tengah Sentimen Pasar Global yang Berubah Arah Menjadi Lebih Risk-On Selama Perdagangan Pagi Ini

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Sebagian besar mata uang Asia cenderung stagnan pada Kamis, 7 Mei 2026, seusai mencatatkan penguatan sehari sebelumnya. Penguatan tersebut dipicu oleh optimisme investor terhadap penyelesaian konflik geopolitik yang berpotensi mendorong penurunan harga minyak dan melemahkan nilai dolar AS.

Indeks dolar sempat terperosok 0,4 persen pada sesi sebelumnya. Namun, menjelang perdagangan Kamis, dolar kembali stabil. Investor tampaknya masih menanti data-data fundamental penting, termasuk laporan penggajian non-pertanian AS yang akan dirilis Jumat besok.

Mata Uang Asia Didukung Harga Minyak yang Turun

Harga minyak dunia anjlok lebih dari 7 persen pada Rabu, 6 Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh kabar bahwa pemerintah AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai. Kesepahaman tersebut berpotensi membuka kembali jalur energi di Selat Hormuz yang selama ini terganggu akibat ketegangan politik.

Minyak sebagai komoditas utama impor bagi sejumlah negara Asia, membuat penurunan harganya menjadi angin segar bagi stabilitas makro ekonomi. Inflasi yang sempat naik tajam akibat lonjakan harga energi kini mulai reda. Neraca perdagangan pun berpotensi pulih seiring turunnya biaya impor energi.

  1. Yen Jepang (USD/JPY)
    Pasangan ini relatif datar pada perdagangan Kamis. Sehari sebelumnya, yen menguat hampir 1 persen seiring pelemahan dolar global.

  2. Yuan Tiongkok (USD/CNY dan USD/CNH)
    Baik di pasar domestik maupun internasional, yuan sedikit melemah sekitar 0,1 persen terhadap dolar AS.

  3. Won Korea Selatan (USD/KRW)
    Won mengalami koreksi positif sebesar 0,5 persen seusai terperosok 1,6 persen pada sesi sebelumnya.

  4. Rupee India (USD/INR)
    Rupee naik tipis 0,2 persen, menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar lokal masih terbatas.

  5. Dolar Singapura (USD/SGD)
    Stabilitas SGD terlihat dari posisinya yang cenderung datar, tanpa fluktuasi signifikan.

Baca Juga:  Harga Minyak Global Anjlok, Brent Sentuh Level USD87 per Barel

Data Defisit Perdagangan Australia Mengejutkan Pasar

AUD/USD bergerak datar meski data perdagangan Australia mengejutkan pelaku pasar. Neraca perdagangan ternyata mencatat defisit sebesar 1,84 miliar dolar Australia pada Maret 2026. Angka ini jauh dari prediksi sebelumnya yang memperkirakan surplus sekitar 4,25 miliar dolar.

Defisit ini disebabkan oleh melemahnya ekspor komoditas, terutama bijih besi dan batu bara, serta meningkatnya impor barang modal. Data ini memperkuat tekanan pada mata uang Australia yang sudah terpuruk akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.

Komponen Nilai (Miliar AUD)
Ekspor 39,1
Impor 40,94
Neraca Perdagangan -1,84

Bank Sentral Jepang Waspadai Inflasi Lanjutan

Risalah pertemuan Bank of Japan (BoJ) bulan Maret 2026 menunjukkan bahwa sejumlah anggota dewan gubernur khawatir akan dampak jangka panjang dari gejolak energi akibat konflik Iran. Beberapa pembuat kebijakan menyatakan perlunya kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi terus berlanjut.

Langkah BoJ akan sangat bergantung pada evolusi harga energi global dan respons ekonomi domestik. Jika harga minyak kembali naik, bank sentral bisa mempertimbangkan normalisasi kebijakan moneter lebih cepat dari yang diperkirakan.

Fokus Pasar Menuju Laporan Penggajian Non-Pertanian AS

Perhatian investor kini tertuju pada rilis data penggajian non-pertanian AS yang akan dirilis Jumat, 8 Mei 2026. Data ini menjadi indikator utama kondisi ketenagakerjaan dan bisa mempengaruhi keputusan Federal Reserve terkait suku bunga.

Baca Juga:  Perayaan Lebaran Diprediksi Dorong Peningkatan Ekonomi Nasional Hingga 5,2 Persen

Ekspektasi pasar menunjukkan peningkatan sekitar 185.000 lapangan kerja baru, naik dari 178.000 pada bulan sebelumnya. Jika realisasi melebihi ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat kembali. Namun, jika gagal memenuhi target, mata uang safe haven seperti yen dan franc Swiss bisa kembali diminati.

Perbandingan Performa Mata Uang Asia Terhadap Dolar AS (7 Mei 2026)

Pasangan Mata Uang Perubahan (%)
USD/JPY 0,00
USD/CNY -0,10
USD/CNH -0,10
USD/KRW +0,50
USD/INR +0,20
USD/SGD 0,00
AUD/USD 0,00

Aset Safe Haven Masih Di Bawah Tekanan

Kondisi geopolitik yang mulai membaik mengurangi daya tarik aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika. Investor tampaknya lebih percaya diri untuk kembali ke aset berisiko, termasuk saham dan mata uang Asia.

Namun, situasi masih rapuh. Jika ada eskalasi kembali dalam konflik Timur Tengah, dolar bisa langsung menguat sebagai tempat perlindungan. Pasar tetap waspada terhadap perkembangan politik di kawasan tersebut.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada faktor makroekonomi global serta perkembangan geopolitik. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan merupakan rekomendasi investasi finansial.

Rosatyani Puspita
Jurnalis

Rosatyani Puspita adalah jurnalis berpengalaman yang saat ini berkarier sebagai Editor, Reporter, dan Penulis di dua platform media digital terkemuka Indonesiadi banjoo.id. Dengan dedikasi tinggi terhadap jurnalisme berkualitas dan integritas editorial, Rosatyani konsisten menghadirkan konten yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi masyarakat.