Produksi padi di Kabupaten Pati mengalami penurunan tajam hingga mencapai 20 persen pada tahun 2025. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, yang biasanya stabil di kisaran 1,2 juta ton. Penyebab utama dari anjloknya produksi ini adalah kombinasi cuaca ekstrem dan lonjakan biaya produksi yang dirasakan para petani.
Faktor iklim memainkan peran besar dalam kegagalan panen kali ini. Musim hujan yang datang tidak menentu serta curah hujan berlebihan membuat banyak lahan sawah tergenang. Di sisi lain, saat musim kemarau tiba, hujan justru minim turun, menyebabkan kekeringan yang merusak tanaman muda. Belum lagi angin puting beliung yang kerap melanda wilayah selatan Pati, merusak infrastruktur irigasi dan memperparah kondisi pertanian.
Dampak Cuaca Ekstrem Terhadap Produksi Padi
Cuaca ekstrem bukan hal baru, tapi intensitasnya di tahun-tahun terakhir terasa semakin meningkat. Petani di Pati mulai merasa kewalahan karena pola tanam tradisional tak lagi bisa diandalkan. Ketidakpastian kapan musim hujan benar-benar dimulai membuat banyak di antaranya melewati waktu tanam yang ideal.
-
Curah hujan tidak menentu
Curah hujan yang tinggi di awal musim tanam menyebabkan benih tenggelam dan pembusukan bibit. Sebaliknya, saat fase generatif tanaman butuh air cukup, malah terjadi kekeringan. Ini menyebabkan gagal panen sebagian besar lahan. -
Angin puting beliung dan banjir bandang
Wilayah selatan Pati rentan terhadap bencana alam jenis ini. Kerusakan infrastruktur irigasi akibat angin membuat distribusi air tidak merata. Banjir bandang juga merusak tanaman yang sudah mendekati masa panen. -
Suhu ekstrem dan sinar matahari berlebih
Saat musim kemarau tiba lebih awal, suhu udara naik drastis. Hal ini memicu stres pada tanaman padi, terutama pada varietas unggulan yang sensitif terhadap panas.
Lonjakan Biaya Produksi Menggerogoti Keuntungan Petani
Selain tantangan dari alam, petani juga dihadapkan pada kenaikan harga input pertanian yang signifikan. Harga pupuk subsidi sempat naik hingga 15 persen di beberapa bulan awal 2025. Ditambah lagi, harga BBM non-subsidi yang terus fluktuatif membuat biaya operasional traktor dan alat berat membengkak.
Beberapa komponen biaya produksi yang mengalami kenaikan:
- Harga pupuk NPK naik 12 persen dibanding 2024
- Harga pestisida naik 10 persen karena kelangkaan pasokan global
- Sewa traktor naik hingga 20 persen karena kenaikan tarif BBM
Kondisi ini membuat petani terpaksa mengurangi jumlah aplikasi pupuk dan pestisida, yang pada akhirnya berdampak pada hasil panen yang lebih rendah.
Strategi Adaptasi Petani Menghadapi Tantangan Iklim
Meski situasi terlihat suram, sejumlah petani di Pati mulai mengadopsi strategi adaptif untuk mengurangi risiko gagal panen. Mulai dari beralih ke varietas tahan kekeringan hingga memanfaatkan teknologi irigasi tetes.
-
Beralih ke varietas unggulan tahan stres lingkungan
Varietas seperti Inpara 1 dan Ciherang-Sub1 mulai populer karena mampu bertahan saat terendam air atau menghadapi kekeringan ringan. -
Memanfaatkan sistem irigasi semi-permanen
Beberapa kelompok tani membangun saluran irigasi sederhana yang bisa mengatur aliran air secara manual, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada irigasi teknis. -
Menjadwalkan ulang waktu tanam
Alih-alih mengikuti kalender pertanian tradisional, petani kini lebih fleksibel menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi cuaca aktual.
Data Produksi Padi di Pati Tahun 2024–2026
Berikut perkembangan produksi padi di Kabupaten Pati dalam tiga tahun terakhir:
| Tahun | Luas Panen (hektar) | Produksi (ton) | Produktivitas (ku/ha) |
|---|---|---|---|
| 2024 | 190.000 | 1.180.000 | 6,21 |
| 2025 | 185.000 | 950.000 | 5,14 |
| 2026* | 187.000 | 1.020.000 | 5,45 |
*Data 2026 merupakan estimasi berdasarkan realisasi semester I dan proyeksi cuaca.
Penurunan produktivitas dari 6,21 ton/hektare pada 2024 turun menjadi 5,14 ton/hektare pada 2025 sangat mencolok. Meski di 2026 ada pemulihan, angka tersebut masih di bawah rata-rata historis daerah.
Upaya Pemerintah Daerah dalam Mendukung Petani
Pemerintah Kabupaten Pati telah menggelontorkan sejumlah program untuk membantu petani mengatasi tekanan ekonomi dan iklim. Salah satunya adalah penyediaan benih unggul gratis dan pelatihan teknis budidaya padi berkelanjutan.
Program yang sedang digulirkan antara lain:
- Subsidi benih unggul hingga 70 persen
- Pelatihan manajemen risiko pertanian berbasis iklim
- Penyuluhan penggunaan pupuk organik sebagai alternatif hemat biaya
Namun, efektivitas program ini masih terbatas. Distribusi benih belum merata ke pelosok desa, dan partisipasi petani dalam pelatihan masih rendah karena kesibukan di ladang.
Potensi Pemulihan Sektor Pertanian di Tahun 2026
Meskipun menghadapi tantangan besar, sektor pertanian di Pati masih memiliki potensi pemulihan. Dengan dukungan teknologi tepat guna dan kolaborasi antara pemerintah dan swasta, produktivitas bisa pulih secara bertahap.
Beberapa indikator positif yang terlihat di awal 2026:
- Curah hujan yang lebih stabil dibanding 2025
- Harga input pertanian cenderung stabil
- Adopsi varietas tahan iklim semakin meningkat
Namun, pemulihan ini bukan tanpa syarat. Perlunya sinergi antara kebijakan publik, akses informasi cuaca yang akurat, dan penguatan kapasitas petani agar mereka siap menghadapi ketidakpastian iklim.
Kesimpulan
Penurunan produksi padi di Pati sebesar 20 persen pada 2025 menjadi cerminan betapa rapuhnya sistem pertanian menghadapi perubahan iklim. Tantangan ini bukan hanya soal gagal panen, tapi juga soal ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Langkah adaptif dari petani sendiri, ditopang oleh kebijakan yang tepat dan dukungan teknologi, bisa menjadi kunci pemulihan. Namun, semua itu harus dilakukan secara konsisten dan inklusif agar manfaatnya dirasakan secara merata.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan laporan Dinas Pertanian Pati dan BPS setempat. Angka dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi lapangan dan faktor eksternal lainnya.
Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.